2021, NTB Optimis Pertumbuhan Ekonomi ‘’Rebound’’ 5,2 – 5,7 Persen

M.Firmansyah, Achris Sarwani .(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi NTB pada 2021 mendatang akan rebound 5,2 – 5,7 persen. Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan NTB memprediksi target pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 5,2 – 5,7 persen pada 2021 mendatang optimis akan tercapai.

Kepala Perwakilan BI NTB, Achris Sarwani yang dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Rabu, 29 April 2020 mengatakan, pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2020 diproyeksikan 5,4 – 5,8 persen. Namun sejalan dengan dampak Covid-19, pertumbuhan ekonomi NTB akan lebih rendah dari proyeksi awal menjadi 3,3 – 3,7 persen.

Iklan

‘’Tapi di 2021, kita yakin bisa terjadi pemulihan. Angka 5,2 – 5,7 persen tadi itu kita yakin bisa dicapai di 2021. Itu masuk akal. Karena memang sudah kita assesmen sektor-sektor mana saja yang positif,’’ kata Achris.

Ia mengatakan, sektor-sektor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi NTB semuanya akan tumbuh pada 2021 mendatang. Sehingga target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 – 5,7 persen bukan sesuatu yang mustahil dapat dicapai.

‘’Kontribusi sektoral, tahun depan hitungan kita menjadi bisa positif semua. Kalau tahun ini hanya sektor pertanian yang bisa mempertahankan positif,’’ terangnya.

Ia memberikan contoh, sektor pariwisata, makan minum, transportasi dan perdagangan diproyeksikan tumbuh di atas 10 persen. Kemudian sektor industri pengolahan diproyeksikan tumbuh 4 – 5 persen. Apalagi sekarang, program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang yang digelontorkan Pemprov NTB menggunakan produk-produk IKM dan UMKM lokal.

Selain itu, sektor real estate juga diproyeksikan tumbuh sekitar 3,5 persen, konstruksi 4 persen. Sementara dari sisi permintaan, belanja pemerintah diperkirakan akan tumbuh sekitar 4 persen, investasi 10 persen. Kemudian ekspor dan impor serta belanja masyarakat  juga diperkirakan akan tumbuh positif pada tahun depan.

‘’Secara total kita punya pendapatan hampir semua sektor memberikan konstribusi. Kayak hampir ke normal lagi,’’ katanya.

Ia menambahkan, pemulihan ekonomi sangat tergantung dari percepatan penanganan wabah Corona dari sisi kesehatan. Apabila kasus positif menurun atau bahkan mentok, maka pemulihan ekonomi NTB pada 2020 akan semakin cepat dilakukan.

Kasus Corona diperkirakan akan berhenti bertambah pada awal Juni mendatang. Pada waktu itu, Pemda tinggal melakukan proses penyembuhan terhadap pasien yang masih positif. Pada saat bersamaan, pemulihan ekonomi mulai berjalan. Artinya, pembatasan transportasi dan interaksi orang sudah tidak ada lagi.

‘’Orang sudah bisa berwisata dan lainnya. Langsung akan berwisata kemana-mana. Misalnya pariwisata  boleh dibuka Agustus, orang akan banyak berwisata. Memang ini  tergantung kecepatan kita menyelesaikan Covid-19 ini,’’ tandasnya.

Sebelumnya, Pemerhati Ekonomi dari Universitas Mataram (Unram), Dr. M.Firmansyah, SE, M. Si memprediksi recovery ekonomi NTB akan jauh lebih cepat dibandingkan daerah lain. Wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) harus cepat diputus mata rantai penyebarannya. Supaya pandemi ini segera berakhir.

‘’Kalau Covid-19 ini selesai. Kita masih bisa dihidupkan dengan sektor pariwisata. Karena saya memprediksi ada kerinduan orang untuk untuk mencari hiburan, menenangkan diri ke tempat-tempat wisata. Makanya saya memprediksi, recovery ekonomi NTB akan jauh lebih cepat dibandingkan daerah lain,’’ kata Firmansyah.

Dengan naiknya nilai tukar mata uang dolar Amerika, justru membuat wisatawan banyak membelanjakan uangnya untuk berwisata. Bahkan, dengan naiknya nilai tukar mata uang dolar Amerika, wisatawan akan bisa lebih lama menginap atau berlibur ke destinasi wisata.

Ekonomi NTB ditopang oleh sektor pertanian atau agraris dan sektor pariwisata. Menurutnya, apabila sektor pariwisata bisa recovery lebih cepat, maka akan mendongkrak sektor-sektor lainnya seperti ritel, perdagangan, industri, transportasi dan lainnya.

Ia memprediksi ekonomi NTB akan kembali pulih tak sampai setahun apabila pandemi Covid-19. Dikatakan, kombinasi sektor pertanian dan sektor pariwisata akan cukup ampuh dalam me-recovery ekonomi NTB.

Berbeda dengan daerah lain yang tidak mengembangkan sektor pariwisata, maka akan lebih lama recovery ekonominya dibandingkan daerah yang mengembangkan pariwisata. ‘’Kalau sektor pariwisata  ini bagus, maka akan merembet ke sektor ritel, perdagangan dan lainnya. Kalau ini (pandemi Covid-19) selesai, orang kembali beraktivitas. Maka ekonomi akan menemukan titik keseimbangan baru,” katanya.

Berkaitan dengan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram ini memberikan masukan agar Pemda menggunakan produk-produk lokal. Bantuan paket sembako senilai Rp250 ribu per KK yang diperuntukkan bagi 105.000 KK tersebut harus menggunakan produk lokal.

Sehingga masyarakat, IKM dan UMKM tetap berproduksi. Hasil produksinya dapat diserap oleh Pemda untuk bantuan paket sembako tersebut. ‘’Sehingga kita menyelamatkan orang miskin dari sisi konsumsi, juga menyelamatkan UMKM,’’ katanya.

Menurutnya, sekarang yang dipikirkan bukan hanya masyarakat miskin dari aspek konsumsinya. Tetapi juga harus dipikirkan masyarakat, petani, nelayan dan UMKM agar tetap berproduksi. Karena masyarakat punya tanggungan anggota keluarga dan IKM/UMKM punya karyawan atau tenaga kerja yang juga harus diperhatikan di tengah kondisi saat ini.

‘’Setidaknya, kita bisa mengerem laju peningkatan angka kemiskinan. JPS harus menggunakan produk lokal. Sehingga masyarakat dan UMKM tetap berproduksi. Makanya langkah tepat ketika bantuan bukan dalam bentuk uang tunai. Tapi dalam bentuk produk seperti beras dan kebutuhan pokok lainnya,” katanya.

Ia mengingatkan jangan sampai beras yang diberikan ke masyarakat penerima bantuan merupakan beras luar daerah. ‘’Tetapi harus menyerap beras produksi masyarakat lokal,’’ pesannya. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional