Testimoni Penerima Beasiswa NTB Gemilang, Merajut Impian, Rasakan Pengalaman Studi yang Berbeda

Impian anak muda NTB melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, sekaligus merasakan pengalaman belajar di luar negeri terwujud melalui Program 1.000 Cendekia Pemerintah Provinsi NTB. Para penerima beasiswa NTB yang sedang menempuh studi di luar negeri memperoleh pengalaman baru. Setidaknya mereka belajar beradaptasi dan merasakan interaksi sosial dengan orang lain dari berbagai latar. Tentu ini menjadi motivasi dan modal berharga untuk meraih kesuksesan yang diidamkan.

Beasiswa 1.000 Cendekia merupakan program unggulan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc., dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah.Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB sebagai pelaksana program tersebut akan mengirim 1.000 anak muda NTB belajar ke luar negeri sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemprov NTB 2018-2023.

Salah satu penerima beasiswa NTB yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Malaysia, Deborah Tirtania Chrisna Pake Seko merasa sangat senang menjadi salah seorang penerima Beasiswa NTB Gemilang. Debby menempuh studi magister di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada program English Language Study. Impiannya untuk terus mengembangkan diri bak gayung bersambutdengan adanya program beasiswa ini.

Deborah Tirtania Chrisna Pake Seko

Ia menyampaikan, setelah mengikuti proses perkuliahan di Malaysia sekitar setahun ini, ia merasa wawasannya lebih terbuka dengan dunia luar. Terutama kultur pendidikan di Malaysia, yang menurutnya sangat disiplin dan mendukung dalam memberikan ruang bagi para pelajar untuk eksplorasi spesifik di bidang masing-masing.

“Dosen-dosen di sini juga banyak memberikan kesan positif karena mereka sangat membantu dalam proses studi master saya. Hal ini bisa dibuktikan dengan respon mereka yang sangat cepat terhadap setiap pertanyaan yang saya dan teman-teman ajukan,” katanya.

Menurutnya, ia sangat menyukai belajar dengan suasana baru di Malaysia, dengan lingkungan belajar yang mendukung satu sama lain. “Yang ternyata tanpa saya sadari kultur pendidikan di sini membuat saya semakin open-minded dan lebih bisa mengekspresikan pemikiran saya ke publik,” kata gadis asal Mataram berusia 24 tahun ini.

Tidak hanya dalam suasana studi, terkait dengan jaringan, menurut Debby, sapaannya, ketika belajar di negeri orang, ia juga menjalin relasi dengan beberapa orang. “Akhir-akhir ini saya baru saja terlibat di dalam kegiatan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) cabang UKM, dimana saya bisa berdiskusi dengan mahasiswa Indonesia yang lain. Selain itu, sebelumnya saya juga terlibat aktif dalam beberapa kegiatan webinar baik untuk PPI dunia, Malaysia, dan Asia  yang secara tidak langsung memberikan saya kesempatan untuk berdiskusi dengan tokoh-tokoh masyarakat di Malaysia dan Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman itu adalah salah satu keuntungan yang tidak mungkin akan ia peroleh bila tidak mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di Malaysia dengan beasiswa NTB. “Jadi dengan relasi tersebut banyak ilmu yang saya peroleh terkait isu-isu terkini di Indonesia dan juga di Malaysia,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan penerima beasiswa NTB lainnya,  Adinda Sulistia. Perempuan asal Bima berusia 24 tahun ini tengah menempuh studi di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), jurusan Master of Political Science. Diberangkatkan pada 1 Februari 2020.

Adinda Sulistia

“Belajar diluar negeri adalah mimpi besar saya yang ‘hampir tidak mungkin’. Sejak duduk di bangku kuliah waktu menempuh pendidikan Sarjana, tepatnya di semester 3 terbesit dihati ‘kayaknya nyambung S2 di luar negeri menarik nih’, karena saya penasaran dan ingin merasakan bagaimana cara belajar di luar negeri, apa bedanya dengan Indonesia, bagaimana budaya mereka, bagaimana pelajar-pelajar di negara lain,” ujarnya menceritakan impiannya belajar di luar negeri.

Ia menceritakan pengalamannya kuliahnya di UKM. Menurutnya ia merasakan proses belajar yang efektif didukung oleh fasilitas kampus yang memadai serta pengajar yang sangat ramah, seolah tidak ada batasan antara pelajar dan pengajar.

“Disini, saya bertemu dengan banyak pelajar Internasional lainnya seperti dari Jepang, Iran, China, dan tentunya Malaysia. Saya sangat menikmati waktu saya di Malaysia, kultur pendidikan disini membuat pikiran semakin terbuka dan didukung oleh lingkungan yang ramah. Bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara membuat saya sadar bahwa menuntut pendidikan sangat penting, lebih menghargai jarak dan waktu, serta merasa beruntung karena memiliki kesempatan yang tidak semua orang dapatkan,” jelasnya.

Ia juga aktif di organisasiPPI cabang UKM di bagian divisi Kerohanian dan Sosial Masyarakat. Lewat PPI ini, ia dapat membangun jaringan,seperti berkesempatan bertemu dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh hebat di Malaysia. “Disini juga saya mengikuti berbagai kegiatan relawan yang diadakan oleh organisasi di Malaysia. Di sini saya belajar bahwa berbagi dan mengispirasi boleh dimana saja, tidak hanya di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, penerima beasiswa NTB lainnya, Lysya Zahara Mahyuni yang baru menempuh pendidikan selama tiga bulan per 20 Desember 2020 merasakan pengalaman berbeda, karena ia merupakan bagian dari gelombang pertama beasiswa NTB yang dikirim saat pandemi Covid-19. Ia menempuh studi di jurusan Master of Business Administration, Nicolaus Copernicus University, di Toruń, Polandia

Lysya Zahara Mahyuni

“Pengalaman sejauh ini belum cukup banyak yang bisa saya sampaikan, tapi pengalaman tentang perubahan budaya, kebiasaan, lingkungan dan adaptasi di tempat yang baru lebih dominan,” katanya.

Lysya menceritakan, ia pernah bercita-cita ke luar negeri, karena dulu ketika masih kecil ikut ayahnya melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan tinggal di Australia selama empat tahun. Pengalaman manis itu membuatnya ingin bersekolah di luar negeri. Selain itu, menurutnya, berkuliah di luar negeri sudah pasti mendapatkan pengalaman tersendiri, salah satunya mengenal budaya baru, ilmu baru, lingkungan yang baru, dan teman-teman dari berbagai belahan dunia.

“Semuanya itu bisa membentuk saya menjadi pribadi yang semakin baik dalam banyak hal. Bagi saya pribadi, saya merasa punya tanggung jawab untuk menjadi contoh kepada generasi selanjutnya. Sehingga dengan memperkaya diri dengan ilmu, harapannya adik-adik selanjutnya punya alumni yang bisa dibanggakan dan dijadikan contoh, bahkan lebih dari kami generasi di atas mereka,” ujar perempuan kelahiran Mataram, 25 tahun silam.

Ia memaknai beasiswa NTB ini adalah kesempatan emas menuju berbagai peluang hidup. “Sederhananya, sebuah leap of faith. Dengan beasiswa ini saya berharap bisa menjadi perwakilan Indonesia, perpanjangan tangan NTB di mata dunia untuk menunjukkan bahwa sumber daya manusia kami pun berdaya saing,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., menjelaskan, Program 1.000 Cendekia merupakan program unggulan untuk mewujudkan salah satu misi gubernur dan wakil gubernur NTB, yaitu sehat dan cerdas. Hajatan awal dari program ini berupa pengiriman mahasiswa ke luar negeri. Namun di tahun 2020 ini, program ini diperluas sasarannya dengan beasiswa dalam negeri. Penerima beasiswa mencapai 500-an orang.

“Harapan besarnya, untuk peningkatan kualitas SDM di NTB. Bisa menyukseskan pogram unggulan dari Pemerintah Provinsi NTB, untuk dapat peluang menempuh pendidian di luar negeri dan menyelesaikan pendidikan di dalam negeri. Sehingga angka partisipasi meningkat, tercapai rata-rata lama sekolah. Angka partisipasi masyarakat mampu maupun tidak mampu menempuh pendidikan meningkatn untuk kuliah di daerah di Indonesia dan luar negri,” jelas Aidy.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah  dalam sebuah kesempatan meyakini, jika NTB mampu menuntaskan pengiriman banyak mahasiswa ke luar negeri dalam jumlah besar, hal itu akan menumbuhkan optimisme. Masyarakat NTB akan terpantik semangatnya untuk menaklukkan tantangan yang lebih berat. Beasiswa NTB itu untuk membangun cara pandang yang lebih luas, membangun jaringan dan kemampuan berinteraksi di tengah percaturan global yang kian kompetitif.

Terpisah, Direktur LPPNTB, Irwan Rahadi, M.Sc., menjelaskan, secara umum Program 1.000 Cendekia ini untuk peningkatan SDM melalui pendidikan. “Kita butuh SDM yang punya jaringan internasional dan pengalaman internasional. Diharapkan bisa berjalan terus dan sukses, dan semakin banyak anak NTB bisa disekolahkan dan bisa bersaing dengan provinsi lain dalam konteks sumber daya manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengiriman pertama beasiswa NTB dilaksanakan pada tahun 2018. Pengiriman pertama ke Polandia sebanyak lima orang. Saat ini sudah ada 38 orang yang telah menyelesaikan studi. “Mereka sudah bekerja sebagai dosen, bekerja di perusahaan, ada juga di luar daerah sebagai dosen,” ujar Irwan. (ron)





Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Tanpa Nasdem, PKS Tetap Lanjutkan Duet Zul-Rohmi Jilid II

0
Mataram (suarantb.com)-PKS NTB sama sekali tidak terpengaruh dengan keputusan politik Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr.Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang keluar dari Partai Nasdem. PKS...

Latest Posts

Tanpa Nasdem, PKS Tetap Lanjutkan Duet Zul-Rohmi Jilid II

Mataram (suarantb.com)-PKS NTB sama sekali tidak terpengaruh dengan keputusan...

Presiden Jokowi Sebut Mandalika Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di Luar Jawa

Mataram (Suara NTB) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam...

Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global, NTB Perkuat Bela Beli Produk Lokal

Mataram (Suara NTB) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan,...