Ruas Jalan Bandara – KEK Mandalika Tuntas Juni

0
Lahan jalur by pass BIZAM - KEK Mandalika mulai diratakan. Proyek ini ditargetkan selesai bulan Juni 2021 mendatang.(Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Pengerjaan ruas jalan by pass Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sejauh ini masih berjalan. Kendati dihadapkan dengan sejumlah kendala di lapangan, namun proyek tersebut optimis bisa tuntas tepat waktu sesuai target awal, yakni di bulan Juni tahun 2021 mendatang.

Pantauan Suara NTB, Senin, 14 Desember 2020, sejumlah alat berat tampak terus bekerja di titik nol di lahan kawasan bandara. Dengan pekerjaan awal fokus pada pembangunan badan jalan utama sepanjang 17,8 km. Kondisi tanah yang labil, diakui jadi kendala utama yang cukup menyulitkan proses pekerjaan jalan tersebut.

“Kondisi tanah di wilayah selatan itu lebih labil jika dibandingkan dengan wilayah utara. Karena dominan tanah liat. Jadi memang butuh penanganan khusus,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Loteng, Lalu Firman Wijaya.

Jadi kalau membangun jalan, apalagi jalan baru di wilayah Loteng bagian selatan, tanahnya harus dibongkar. Untuk selanjutnya diganti pondasinya dengan tanah yang lebih kuat dan stabil. Jika tidak demikian, maka usia jalan tersebut tidak akan bisa lama.

Hal yang sama juga terjadi pada pengerjaan proyek pembangunan jalur by pass dari bandara menuju kawasan The Mandalika tersebut. Di sepanjang jalur tersebut, tanahnya harus dibongakar terlebih dahulu. Baru kemudian disiapkan penutup berupa terpal khusus di lapisan bawahnya. Selanjutnya ditimbun kembali dengan material tanah yang lebih stabil.

“Ini yang menyebabkan kebutuhan anggaran untuk pembangunan jalan di wilaya selatan jauh lebih besar daripada membangun jalan di wilayah utara. Karena memang  butuh penanganan khusus,” tandasnya.

Selain soal kondisi tanah, pihak rekanan proyek jalur by pass tersebut juga harus berhadapan dengan persoalan sosial. Seperti banyak masyarakat yang meminta sebagai sub kontraktor untuk material jalan. Dari sisi aturan boleh-boleh saja. Persoalannya, harga yang diminta oleh masyarakat lebih tinggi dari harga yang dipatok oleh pihak rekanan. “Ini juga yang cukup membuat pusing pihak rekanan proyek,” imbuhnya.

Kendati harus dihadapkan dengan berbagai persoalan di lapangan, namun demikian pihak rekanan ujar Firman tetap optimis bisa menuntaskan pekerjaan sesuai tenggak waktu yang diberikan sesuai kontrak. Yakni sampai bulan Juni 2021 mendatang. “Membangunan jalan tidak serumit membangun gedung. Karena item pekerjaan tidak sebanyak gedung. Sehingga lebih memungkinkan dilakukan percepatan jika waktu pekerjaan sudah mepet,” tandasnya. (kir)