Cegah Radikalisme dengan Ketahanan Informasi

0
Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menjelaskan, penguatan literasi sebagai ketahanan informasi bagi aparatur desa sangat penting dan strategis. Wagub menyinggung maraknya propaganda radikalisme, di mana informasi yang keliru kerap menyesatkan masyarakat.

Selain itu, pemahaman yang tidak utuh tentang agama, berbangsa dan isu lain yang mengancam keutuhan haruslah disikapi dengan humanis. ‘’Karena kesadaran mereka yang terpapar harus datang dari diri mereka sendiri. Di tengah ribuan perbedaan di NTB, informasi yang tak utuh bisa mengubah perilaku radikalisme,’’ ujar Wagub pada acara penguatan literasi informasi bagi aparat desa bertajuk ‘Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia’ (Ngopi Coi), Kamis 12 November 2020.

Rohmi menjelaskan, saat ini propaganda radikalisme sudah mulai menyasar hingga ke desa-desa. Informasi menyesatkan ini disebar melalui platform media sosial, dan telah ditengarai mampu mengancam cara pandang berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Boy Rafli Amar menyoal kondisi masyarakat dalam penanganan radikalisme. Dikatakannya, saat ini Indonesia membutuhkan kewaspadaan dan literasi informasi sampai ke desa dengan melibatkan aparatur desa.

‘’Oleh karena itu ketahanan informasi NTB perlu terus diperkuat. Terorisme kerap dilakukan oleh pelaku tunggal bukan bagian dari organisasi akibat masifnya informasi sesat yang menggunakan isu agama dan lainnya,’’ ujarnya.

Dijelaskannya, karakteristik radikalisme selama ini kerap mengangkat isu agama selain propaganda organisasi seperti ISIS yang tetap merebak. Selain itu gerakan radikalisme dari mereka yang terpapar konflik Suriah terus diidentifikasi. Tercatat ada 1.200 orang Indonesia yang pernah di Suriah dan kembali ke Indonesia terus dilakukan program deradikalisasi.

Sasaran radikalisme yakni pemuda dan pesantren. Masyarakat desa sebagai konsumen informasi harus terus diberikan pemahaman tentang propaganda radikalisme yang didapat melalui media sosial maupun muatan informasi dari tokoh pesantren tertentu. (r)

Tiitle Ads