Dari Batam, Dipasok Narkoba yang Beredar di NTB

0
Ilustrasi Narkoba (Suara NTB/ist)

Praya (Suara NTB) – Pulau Batam Kepulauan Riau menjadi sumber pemasok utama narkoba di NTB. Hal itu bisa dilihat dari kasus penyelundupan narkoba yang berhasil diungkap didaerah ini, kebanyakan masuk dari Pulau Batam. Baik itu yang masuk melalui jalur darat, laut maupun udara. Dan, rata-rata yang diselundupkan dalam jumlah besar.

Hal itu diungkapkan Kasi Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB, Irfan, S.Sos., di Praya, Sabtu, 8 November 2020. Selama tahun ini BNN NTB sudah menggagalkan sebanyak enam kali upaya penyelundupan narkoba. Dengan tujuh orang tersangka. Dimana dua kasus diantaranya digagalkan di Lombok International Airport (LIA).

Sisanya empat kasus digagalkan di bandara Hang Nadim Batam, saat hendak dibawa ke NTB. “Modus operandi pun cukup beragam. Dari menyimpan didalam kardus, lipatan celana dalam hingga yang paling ekstrem memasukkan ke dalam duburnya,” terang Irfan.

Guna menekan penyelundupan narkoba melalui Batam, BNN NTB sendiri sudah menjalani kemitraan dengan instansi terkait di Pulau Batam. Bahkan banyak personil BNN NTB yang diterjunkan di Batam, untuk mengumpulkan informasi terkait upaya penyelundupan narkoba dari pulau yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia tersebut.

Sehingga bisa dilakukan upaya pencegahan dini. Kalaupun tidak bisa diantisipasi langsung di Batam, paling tidak bisa dicegah masuk dipintu-pintu masuk NTB. “Kita banyak menempatkan personil di Pulau Batam. Tujuannya untuk mendukung upaya pencegahan masuknya narkoba ke NTB melalui Batam,” jelasnya.

Lebih lanjut, Irfan menambahkan, meski tengah ada pandemi Covid-19 upaya penyelundupan narkoba ke NTB masih berlangsung. Ini membuktikan kalau pandemi Covid-19 tidak mengurangi permintaan akan narkoba. Sehingga tetap saja para pengedar narkoba didaerah ini berusaha menyelundupkan narkoba di NTB.

Artinya, untuk bisa menekan penyelundupan narkoba didaerah ini peran masyarakat juga sangat besar. Yakni dengan membantu mewujudkan hidup 100 persen bebas narkoba ditengah masyarakat. Dengan begitu, permintaan akan narkoba semakin menurun. Kalau permintaan menurun maka pengedar juga berat untuk mengedarkan narkoba.

‘’Kenapa peredaran narkoba masih tinggi. Karena narkoba sejauh ini masih termasuk barang dengan nilai ekonomi  tinggi. Sehingga pengedar akan berupaya melakukan berbagai cara untuk bisa menyelundupkan narkoba ke daerah ini,’’ imbuhnya.

Beda kalau narkoba sudah tidak ada yang menggunakan, tentu tidak akan ada orang yang mengedarkan narkona. Sehingga penting peran masyarakat untuk bisa terus menguarakan bahaya narkoba. Paling tidak dimulai dari elemen masyarakat terkecil, mulai dari kalangan keluarga. ‘’Jadi mari terus lawan peredaran narkoba. Dimulai dari diri dan keluarga kita,’’ tandas Irfan. (kir)