11 Sekolah di Lobar Diizinkan Tatap Muka

0
Ilustrasi proses belajar tatap muka. (Suara NTB/dok)

Giri Menang (Suara NTB) – Sebanyak 11 sekolah di Kabupaten Lombok Barat mendapat izin untuk menggelar kegiatan belajar mengajar secara tatap muka pada masa Covid-19 ini.

Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid, S.Ag, M.Si sudah mengeluarkan surat resmi pemberian izin terhadap 11 sekolah di Kabupaten Lombok Barat. Surat izin tersebut terlampir dengan nomor :420/544/Pikbud /2020, tentang Izin Pembelajaran Tatap Muka.

Pemberian izin ini menjawab surat nomor 005/2603.Dikdas/Dikbud/2020 tentang Permohonan Izin Belajar Tatap Muka.

Atas permintaan ini, Bupati Lombok Barat memberikan izin kepada 11 sekolah percontohan yaitu, SMPN 1 Labuapi, SDN 1 Gerung Utara, SMPN 1 Lembar, SDN 1 Gelogor, SMPN 1 Gunungsari, SDN 1 Dasan Tereng, SMPN 2 Kuripan, SDN 1 Sandik, SMPN 2 Lingsar, SDIT Insan Mulia Kediri, SDIT Lentera Hati Sesela.

Dalam keputusan ini, Bupati memberikan izin, karena adanya rekomendasi dari Dinas Kesehatan. Surat rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat Nomor 442.1/556/KESMAS/XI/2020,tanggal 2 november 2020 tentang sekolah sekolah yang boleh menyelenggarakan proses pembelajaran tatap muka di sekolah secara terbatas.

Dengan adanya izin ini, maka dengan Pemkab mengizinkan sekolah sekolah tersebut untuk menyelenggarakan proses pembelajaran tatap muka di sekolah secara shift/block dengan persyaratan protokol kesehatan covid-19.

Pimpinan SDIT Insan Mulia Kediri. Hj Nurul Adha, sekolah yang dibinanya, membenarkan sudah mendapatkan izin resmi untuk menggelar sekolah tatap muka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Alhamdulillah, sekolah kami sudah mendapatkan izin resmi untuk belajar mengajar secara tatap muka,” ungkapnya.

Dengan status Kabupaten Lombok Barat yang sudah masuk zona kuning, diharapkan kondisi ini akan terus membaik sehingga dalam waktu dekat Lombok Barat bisa zona hijau, sehingga semua sekolah bisa di buka kembali.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, Hj Made Ambaryati mengatakan rekomendasi yang diberikan untuk meneruskan uji coba sekolah yang sudah melaksanakan simulasi beberapa waktu lalu yang jumlahnya delapan sekolah ada 4 SD dan 4 SMP.

“Yang saya berikan rekomendasi meneruskan untuk yang uji coba saja ada 8 sekolah,” katanya.

Rekomendasi yang diberikan itupun dengan catatan. Catatannya apabila ada murid yang positif hasil swabsekolah harus ditutup dan murid yang kontak erat dengan yg terpapar harus bersedia diswab termasuk guru dan petugas tata usaha nya. Kalau kemudian ada 11 sekolah yang diberikan izin, ada sekolah swasta, kata Ambar mungkin itu ada kebijakan dari dinas Pendidikan.” Saya hanya memberikan rekomendasi kepada yang sudah uji coba 8 sekolah untuk meneruskan dengan catatan,” tutup Ambar. Sekretaris Dinas Pendidikan (Sekdis Dikbud) Lobar, H. Haerudin, sebelas sekolah diizinkan tatap muka.

“Untuk simulasi ini kita selektif dulu, kita lihat kesiapan dari sekolah-sekolah itu dan yang kita rekomendasikan ini, yang sudah betul-betul siap” beber Sekdis Dikbud Lobar, H. Haerudin, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat, 7 November 2020.

Dirinya menjelaskan lebih lanjut, simulasi ini akan menerapkan sistem shift dan blok. Dalam sistem shift itu, proses belajarnya akan dilakukan secara bergantian. Dimana perkloter, belajar tatap muka di sekolah akan dilaksanakan selama 2 jam.

Kemudian jika dengan sistem blok, lanjutnya, itu dilakukan per dua hari dalam satu kloter (angkatan). “Misalnya kelas VII SMP hari senin-selasa, trus dilanjut kelas VIII hari rabu-kamis dan kelas IX nya hari Jum’at-Sabtu,” jelasnya.

Karena per kelas, maksimal diisi oleh 50 persen jumlah siswa dikelas tersebut. Sekolah yang terpilih untuk melakuka simulasi tersebut, dinilai sudah sangat siap untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

“Karena mereka sudah mengirimkan instrumen yang sudah kita ajukan dan rata-rata hasil rekap nilai mereka itu diatas 85 persen” ungkapnya.

Sekolah yang telah direkomendasikan tersebut, telah dinilai berhasil memenuhi persyaratan untuk boleh melakukan pembelajaran tatap muka. Dimana syaratnya sesuai dengan SKB 4 menteri. Yang pertama, sekolah yang boleh melakukan simulasi tatap muka adalah sekolah yang berada di daerah zona kuning atau hijau.

Kemudian yang kedua, sekolah yang telah memperoleh izin dari kepala daerah, dan yang ketiga sekolah yang sarana dan prasarana yang sudah siap dan sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan covid-19, serta sekolah yang telah mendapat persetujuan untuk melakukan pembelajaran tatap muka dari orang tua siswa. “Dan 11 sekolah ini, jauh-jauh hari sudah lengkap persyaratan itu,” imbuhnya. (her)