Murid di Mataram Ingin Belajar di Sekolah

0
Anandita Salsabila, murid kelas III SDN 32 Cakranegara mengerjakan tugas sekolahnya di rumah, Senin, 2 November 2020. Metode pembelajaran daring dan luring di tengah pandemi menjadi pilihan agar anak tidak terpapar virus corona. Di satu sisi, murid menginginkan pembelajaran tatap muka segera dilaksanakan di sekolah. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Proses pembelajaran tatap muka di sekolah telah lama dihentikan akibat pandemi. Dinas Pendidikan mengubah metode pembelajaran secara daring dan luring. Di satu sisi, murid-murid menginginkan pembelajaran di sekolah dimulai.

Anandita Salsabila, murid kelas III SDN 32 Cakranegara mengungkapkan kerinduannya belajar bersama dengan teman – teman kelasnya. Sekitar delapan bulan proses pembelajaran di lakukan secara daring maupun luring. Metode pembelajaran yang diterapkan saat ini dirasa tidak efektif. Dia merasa terganggu bila pembelajaran dilaksanakan di rumah temannya. “Banyak anak kampung yang ganggu, terutama yang cowok – cowok itu,” kata Anandita, Senin, 2 November 2020.

Pembelajaran di luar jaringan dilaksanakan setiap Senin – Kamis. Guru menunjuk rumah murid di Lingkungan Gerung Butun sebagai lokasi belajar. Dulunya, ia harus pindah – pindah dari rumah satu ke rumah lainnya. Tata, sapaan akrabnya, berikut kawan-kawannya cukup kewalahan mengikuti pembelajaran. Selain kondisi yang ramai, juga minimnya fasilitas.

“Kalau di sekolah ada papan tulis sama meja. Di sana kan ndak ada,” ucapnya. Dia mengungkapkan kerinduannya belajar di sekolah. Pasalnya, ia bisa fokus belajar, bermain dan bercanda dengan teman sebayanya. Kendati demikian, ia memahami bahwa pandemi Covid-19 menjadi penghalang.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, H. Lalu Fatwir Uzali menyampaikan bahwa pihaknya sangat siap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di sekolah. Tetapi sesuai surat keputusan bersama empat menteri bahwa yang berhak memberikan izin pembelajaran tatap muka adalah pemerintah daerah.

Pengakuannya, ia telah mengusulkan dan menyampaikan kesiapan instrument, sarana dan prasarana serta kesiapan lainnya ke pemerintah daerah. Namun demikian, Pemkot Mataram belum bisa memutuskan dan akan menyampaikan hal tersebut ke Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkominda) untuk hal – hal lain yang menjadi pertimbangan. “Intinya Pemkot tidak gegabah untuk memutuskan ini,” kata Fatwir.

Meskipun beberapa daerah telah menerapkan pembelajaran tatap muka, tetapi Pemkot Mataram tidak akan terpengaruh. Dia menginginkan pembelajaran itu harus ada evaluasi dari seluruh pihak dengan memperhatikan protokol kesehatan Covid-19. Diakui, pro – kontra dari orangtua murid masih muncul. Di satu sisi, orangtua menginginkan segera dilaksanakan di sekolah. Di sisi lain, orangtua menginginkan pembelajaran dimulai awal tahun 2021.  Masukan dari orangtua maupun pihak lainnya harus ada kajian, sehingga menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengambil keputusan. “Pro – kontra itu selalu ada,” tandasnya.

Kaitannya dengan pembelajaran daring dan luring diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Sekolah diberikan kebebasan untuk metode pembelajaran dengan catatan pelayanan pembelajaran ke murid terlaksana. (cem)