Saksi Kasus DD/ADD Sesait 20019 Mulai Diperiksa Maraton

0
Sejumlah saksi kasus DD/ADD Sesait, Kayangan, Lombok Utara keluar dari gedung Kejari Mataram usai menjalani pemeriksaan, Senin, 12 Oktober 2020.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Kejari Mataram mulai memeriksa saksi-saksi kasus DD/ADD Sesait, Kayangan, Lombok Utara. Sejumlah saksi yang dipanggil berkaitan dengan pelaksanaan proyek fisik desa. Salah satunya proyek panggung peresean yang tidak bisa dimanfaatkan.

“Hari ini ada delapan saksi yang dipanggil,” ungkap Kasi Pidsus Kejari Mataram Wayan Suryawan dikonfirmasi Senin, 12 Oktober 2020.

Namun, hanya enam saksi yang hadir memenuhi panggilan. Mantan Sekdes Sesait dan Camat Kayangan absen. Sekdes tanpa keterangan. Sementara Camat Kayangan berhalangan karena sakit.

Dia menerangkan sejumlah saksi itu diperiksa di tahap penyidikan. Saksi dimintai keterangannya terkait pengelolaan anggaran proyek fisik. Antara lain pembangunan panggung peresean dengan anggaran Rp640 juta. Tiga hari selesai dibangun, bangunan itu ambruk. Meski sudah diperbaiki setelahnya, bangunan tetap tidak dapat difungsikan.

Bangunan itu berdiri di atas bekas kali mati dengan kondisi tanah yang labil. Pondasi bangunan dangkal dan menggantung sehingga tergerus erosi. Panggung itu juga tidak bisa dibangun ulang karena saat itu belum ada laporan pertanggungjawaban penggunaan dananya.

Ketua tim pelaksana kegiatan pembangunan panggung peresean hadir memenuhi panggilan pemeriksaan tersebut. “Iya (Ketua TPK) datang,” kata Wayan. Namun dia enggan merinci hasil pemeriksaan. Alasannya hal itu masuk dalam materi penyidikan. Salah satu saksi Staf Seksi Pelayanan Desa Sesait Adi mengatakan dirinya diperiksa terkait pembayaran honor. “Kita di luar dari proyek-proyek itu. Hanya soal penggunaan dana itu bagaimana,” ucapnya.

Kasus DD/ADD Sesait, Kayangan, Lombok Utara tahun anggaran 2019 kini sudah ditangani di tahap penyidikan. Inspektorat Kabupaten Lombok Utara menyebutkan temuan Rp600 juta pada laporan pertanggungjawaban DD/ADD Sesait tahun 2019. Kerugian negara muncul dari pengerjaan proyek fisik dan proyek pengadaan. Diantaranya proyek fisik panggung peresean dan pengadaan bibit program peningkatan produksi pertanian.

Dalam LKPJ tahun 2019, sejumlah proyek fisik diduga bermasalah. Antara lain rehabilitasi kantor desa senilai Rp185,08 juta yang hanya terealisasi tiang pilarnya. Proyek panggung peresean senilai Rp640 juta. Peningkatan produksi tanaman pangan Rp339,3 juta, dan peningkatan produksi peternakan Rp37,96 juta. Pada tahun 2019 tersebut, Desa Sesait mendapat alokasi DD sebesar Rp2,45 miliar, ADD sebesar Rp1,433 miliar, dan dana Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah (BHPRD) sebesar Rp235,15 juta. (why)