Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tahu Kurangi Produksi

0

Mataram (Suara NTB) – Pelaku usaha pembuatan tahu di Kelurahan Kekalik Jaya, Mataram, terpaksa harus mengurangi jumlah produksi lantaran tingginya harga kedelai yang meningkat hingga 50 persen dari biasanya. Terlebih pandemi virus corona (Covid-19) yang masih berlangsung juga membuat jumlah permintaan tahu menurun.

Salah seorang pemilik usaha pembuatan tahu di Kekalik Jaya, Zulfan, mengaku dirinya terpaksa mengurangi jumlah produksi sejak beberapa bulan terakhir. Saat ini dirinya hanya mampu membuat 50-60 kilogram, dari produksi normal 100 kilogram atau satu timbang per hari. “Ini karena dampak corona. Permintaan dari pelanggan kurang pemesanannya. Bahan bakunya juga semakin melonjak harganya,” ujar Zulfan saat ditemui, Selasa, 1 September 2020.

Untuk harga kedelai, menurutnya biasa dibeli dengan harga Rp750 ribu per satu timbang. Namun saat ini harga per satu timbang mencapai Rp860 ribu. Harga tersebut diakuinya terbilang cukup tinggi, sehingga satu-satunya cara menyiasati adalah mengurangi jumlah produksi.

Dengan kondisi yang dialaminya, Zulfan berharap bantuan pemerintah dapat menyentuh hingga ke usaha-usaha kecil rumahan seperti miliknya. “Memang ada bantuan, tapi kita belum dapat sama sekali,” ujarnya.

Pemilik usaha pembuatan tahu lainnya, Hanapi, menyebut dampak pandemi Covid-19 terhadap usahanya memang cukup besar. Terutama untuk penurunan permintaan dan peningnkatan harga bahan baku yang terjadi.

“Sangat sangat keras dampaknya karena corona ini, banyak juga usaha yang tutup,” ujar Hanapi. Menurutnya, sebelum pandemi pihaknya kerap menerima pesanan dari beberapa hotel dan rumah makan. Namun saat ini permintaan tersebut mengalami penurunan drastis mengikuti tutupnya hotel dan restoran tersebut.

“Pembuatan yang dulunya lumayan sekarang menurun drastis. Sehari produksi sebelum corona bisa 40 cetak, sekarang 20 cetak saja,” jelasnya. Dengan naiknya harga kedelai baik impor maupun lokal juga semakin memberatkan baginya. Kendati demikian, pengusaha tahu yang masih bertahan disebutnya lebih banyak memilih menggunakan kedelai impor.

Mengingat pandemi Covid-19 telah berlangsung lima bulan lebih, dirinya berharap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dapat mengakomodir masyarakat dan jenis usaha yang lebih luas. Termasuk untuk menjamin harga bahan baku tetap murah, seperti harga kedelai untuk usaha tahu miliknya.

“Kami sih minta ada kebijakan dari pusat ada penurunan harga kedelai, apalagi dalam kondisi sekarang. Sudah susah, bahan bakunya naik harganya,” ujar Hanapi. (bay)