Delapan Kabupaten/Kota Siaga Kekeringan di NTB

0
Ilustrasi daerah terdampak kekeringan. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi wilayah yang mengalami kekeringan meteorologis. Dua kabupaten masuk kategori waspada dan delapan kabupaten/kota masuk kategori siaga kekeringan di NTB.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kediri Lombok Barat, Luhur Tri Uji Prayitno, SP, M. Ling mengatakan, berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) selama 10 hari terakhir dan perkiraan peluang curah hujan 10 hari ke depan kurang dari 20 mm sebesar 80 persen.

Bahwa memang ada dua kabupaten, yaitu Lombok Barat dan Lombok Utara yang masuk kategori waspada kekeringan. Kemudian ada delapan kabupaten/kota yang masuk kategori siaga kekeringan. Yaitu, Dompu, Kabupaten Bima, Kota Bima, Kota Mataram, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa dan  Kabupaten Sumbawa Barat.

“Itu adalah peringatan dini berdasarkan meteorologi atau curah hujan. Ada syaratnya mengapa dikatakan begitu (waspada dan siaga), kalau hari tanpa hujan lebih dari 30 hari. Kemudian diikuti prediksi atau probabilistik atau peluang curah hujan 10 hari ke depan di bawah 20 mm peluangnya lebih dari 80 persen. Maka keluarlah warning itu,” kata Luhur dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 15 Juli 2020.

Dijelaskan, BMKG mengeluarkan status waspada, siaga dan awas dengan melihat secara meteorologis. Daerah yang berstatus siaga kekeringan apabila hari tanpa hujan lebih dari 30 hari. Kemudian melihat peluang curah hujan sepuluh hari ke depan.

BMKG mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah setempat yang wilayahnya masuk kategori waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak kekeringan ini terhadap sektor pertanian yaitu berkurangnya pasokan air pada lahan pertanian. Di samping itu, pada sektor lingkungan,  yaitu meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan dan berkurangnya sumber air untuk kebutuhan rumah tangga.

Memasuki musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di NTB cukup tinggi. Sehingga, saat ini  NTB berstatus siaga kebakaran hutan dan lahan.

Kepala Bidang Perlindungan Hutan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (PHKSDAE) Dinas LHK NTB, Mursal, SP, MM mengatakan potensi kebakaran hutan di NTB cukup tinggi. Karena adanya perambahan kawasan hutan yang dilakukan masyarakat untuk persiapan menanam jagung. Hampir 99 persen kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di NTB akibat ulah manusia.

Daerah yang paling rawan terjadi kebakaran hutan di NTB berada di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tambora Dompu. Sekitar 290 petugas Polhut dan Pamhut disiagakan untuk mengantisipasi kebakaran hutan di kawasan hutan yang berada di bawah KPH di seluruh NTB. Terdiri dari 130 Polhut dan 160 Pamhut. (nas)