Ibu Kandung Lapor Balik Anaknya soal Penggelapan Harta Warisan

Mataram (Suara NTB) – Mahsun, anak yang laporkan ibunya dugaan penggelapan motor menuai buah dari perbuatannya yang melawan orang tuanya sendiri. Warga Ranggagata, Praya Barat Daya, Lombok Tengah ini berurusan lagi dengan polisi. Tapi kali terkait penggelapan harta warisan senilai Rp240 juta. Ibunya kandungnya sendiri, Kalsum yang melapor balik ke Polda NTB.

Kalsum didampingi kuasa hukumnya Lalu Anton Hariawan mendatangi Polda NTB Rabu, 1 Juli 2020. Kalsum melaporkan dua kasus sekaligus. Dugaan kasus ITE ke Ditreskrimsus dan penggelapan harta warisan ke Ditreskrimum.

Inaq Kalsum (kanan) usai melapor ke Polda NTB Rabu, 1 Juli 2020.

“Inaq Kalsum ini tidak mendapatkan bagi warisan yang sesuai dengan bagiannya. Uang hasil penjualan tanah warisan Rp240 juta diduga digelapkan anaknya,” ucap Anton usai menyampaikan laporan di Mapolda NTB di Mataram.

Anton menjelaskan, Mahsun adalah buah pernikahan Kalsum dengan Mudahan pada tahun 1972. Mudahan meninggal dunia meninggalkan harta warisan tanah sawah, rumah, dan pekarangan.

Kalsum dan Mahsun sebagai ahli waris yang sah kemudian menjual tanah tersebut. Tanah yang luasnya 40 are dijual seharga Rp240 juta.

“Inaq Kalsum hanya diberikan Rp13 juta. Itu pun dipakai untuk membelikan motor untuk cucunya yang dilaporkan penggelapan itu,” terangnya.

Kalsum, kata Anton, seharusnya mendapatkan setengah harta suaminya sebagai harta gono-gini. Ditambah lagi sepertiga dari harta bagian suaminya yang meninggal.

Laporan kedua mengenai dugaan pelanggaran ITE pasal 27 ayat 1. Terkait dengan pernyataan Mahsun yang dianggap menuduh Kalsum menggelapkan motor Honda Beat. “Motor itu dipakai saudara-saudaranya. Bagaimana Inaq Kalsum mau menggelapkan, orang dia tidak bisa bawa motor,” imbuh Anton.

Inaq Kalsum tidak bisa menahan emosinya. Meskipun Mahsun masih dianggapnya sebagai anak. Tetapi perbuatan dan perkataan sudah membuatnya luka hati. Pilihan terakhir akhirnya diambil. Menempuh jalur hukum.

“Dia semakin noaq (kurang ajar). Saya begini karena saya sudah tidak tahan. Sudah tidak ada maaf. Lapor polisi ini supaya dia jera,” keluhnya dalam bahasa Sasak.

Direktur Reskrimum Polda NTB, AKBP Hari Brata mengatakan, meski laporan itu sudah disampaikan namun pihaknya akan mengedepankan upaya solutif di luar jalur hukum. Tidak semua kasus diselesaikan lewat jeruji besi. Apalagi bagi mereka yang masih ada hubungan keluarga.

“Kita mengedepankan restorative justice. Persoalan seperti itu tidak bisa kita lihat straight dari kacamata hukum saja tanpa melihat asal usul permasalahan,” ujarnya saat dikonfirmasi terpisah.

Pada prinsipnya, sambung dia, setiap laporan pengaduan diterima. Namun akan didalami lagi kelengkapan alat buktinya. Penyelidikan pun belum dimulai.

“Kita akan dudukkan bersama. Tidak bisa langsung menggunakan perbuatan delik. InsyaAllah akan kita lakukan mediasi dulu. Laporan kita terima nanti ranahnya di fungsi reserse,” kata Hari. (why)




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Latest Posts

Inilah Model Baju Koko Terbaru Tahun 2022

Model baju koko terbaru selalu muncul hampir di setiap...

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Harus Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan

Mataram (Suara NTB)-Kementerian BPN/Bappenas terus mendorong pemerintah daerah di...

Jadi Tuan Rumah Berbagai Event Internasional, Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur di NTB

Mataram (suarantb.com)—Terselenggaranya berbagai event internasional di NTB menjadi salah...

Gali Pesan yang Tersirat dan Tersurat Lewat Pameran Wastra

Mataram (Suara NTB) – Pameran wastra NTB resmi dibuka...