Pemkot Kesulitan Lacak ODP Klaster Gowa

0
Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang memimpin rapat didampingi Asisten II, H. Mahmuddin Tura dan Direktur RSUD, H. Lalu Herman Mahaputra. Pemkot Mataram mengalami kesulitan melacak ODP klaster Gowa. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Coronavirus Disease atau Covid-19 Kota Mataram merasa kesulitan melacak keberadaan orang dalam pemantauan (ODP) klaster Gowa. Mobilitas yang tinggi dari para jemaah tablig tersebut dinilai jadi pemicu. Pemusatan pemeriksaan kesehatan dipusatkan di enam kecamatan.

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang menegaskan, pemerintah telah berupaya meminimalkan penyebaran Coronavirus Disease atau Covid-19. Hal ini dimulai dari penyemprotan disinfektan, pelacakan potensi baru yang menimbulkan reaktif, pengawasan di pintu masuk serta pemusatan pengecekan kesehatan di enam kecamatan.

Pemusatan pengecekan kesehatan dilaksanakan secara bergilir. Rabu, 15 April 2020 hari ini, dimulai dari Kecamatan Mataram dan berakhir Kecamatan Sandubaya pada Selasa (21/4). Petugas tetap memperhatikan pembatasan sosial. “Pemusatan kita lakukan di puskesmas masing – masing kecamatan,” kata Martawang, Selasa, 14 April 2020.

Namun demikian, tim gugus tugas mengalami kesulitan melacak keberadaan ODP klaster Gowa. Sebab, mobilitas mereka sangat tinggi dan relatif mengkhawatirkan bagi pemerintah. Beberapa kasus, klaster Gowa dalam beberapa hari terakhir berada di dua kabupaten yakni Lombok Tengah dan Lombok Utara.

Berbeda halnya dengan klaster Bogor dinilai kooperatif dan bersedia mengikuti pemeriksaan secara terjadwal di tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah. “Ini harus betul-betul mendapatkan perhatian bersama. Petugas mencari sesuai alamat ternyata sedang berada di Loteng. Dicek yang lain, ternyata dia berada di KLU,” jelasnya.

Tim gugus tugas telah mengeluarkan kartu isolasi mandiri. Kartu isolasi diberikan bagi ODP hasil tes cepatnya non reaktif. Jika mereka tidak akomodatif dengan surat pernyataan maka sebaiknya diisolasi di Wisma Nusantara.

Kesepakatan isolasi mandiri selama 14 hari dengan tetap menggunakan masker, tidak beraktivitas di luar rumah, menjaga jarak tidak saja dengan keluarga melainkan dengan orang sekitar.

Direktur RSUD Kota Mataram, dr. H. Lalu Herman Mahaputra menambahkan, pihaknya akan mengatur strategi dengan menyisir semua klaster Gowa. Dari sisi jumlah, klaster Gowa memiliki kerentanan penularan lebih besar dibandingkan klaster Bogor. “Setelah habis klaster Gowa, baru saya sisir klaster Bogor,” tambah dr. Jack.

Dengan pola seperti ini diharapkan mata rantai penularan Covid-19 terputus, sehingga tidak ada lagi masyarakat terpapar. Meskipun demikian, ia meminta partisipasi dan kesadaran masyarakat melaporkan diri mereka jika memiliki riwayat perjalanan ke daerah pandemic maupun pernah kontak erat langsung dengan pasien positif virus Corona. (cem)