Walikota Kecewa Petugas Pasar Terjaring Pungli

0
Ahyar Abduh.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh mengungkapkan kekecewaannya terhadap petugas pasar yang kembali terjaring operasi tangkap tangan atas dugaan pungutan liar (pungli) oleh aparat penegak hukum. Sosialisasi serta pembinaan berulangkali dilakukan, agar melaksanakan tugas sebaik – baiknya.

“Saya sangat kecewa kasus ini terulang lagi,” sesal Walikota dikonfirmasi usai menyerahkan jaminan hidup (Jadup) di Pendopo Walikota, Kamis, 30 Januari 2020.

Berulangkali petugas pasar diingatkan supaya jangan ada hal – hal yang memberatkan masyarakat di luar ketentuan. Kasus sebelumnya semestinya dijadikan pembelajaran.

Oleh karena itu, Walikota meminta Kepala Dinas Perdagangan, H. Amran M. Amin mengumpulkan kembali kepala pasar. Pemkot tidak memberikan toleransi terhadap praktik pungli. Pembinaan serta pengawasan berulangkali disampaikan oleh Inspektorat dan Dinas Perdagangan.

“Berulangkali kita berikan pengarahan. Masih saja terulang lagi,” ucapnya.

Kasus OTT petugas Pasar ACC yang ditangani oleh Polresta Mataram dilimpahkan ke Inspektorat. Untuk efek jera kata Walikota, diserahkan sepenuhnya ke aparat penegak hukum (APH), jika dinilai perlu diberikan pembinaan melalui jalur itu akan dilaksanakan.

Untuk pemecatan sebagai juru pungut akan dilihat laporan dari kepala dinas perdagangan. Sanksi untuknya memiliki aturan. Jika berstatus pegawai negeri sipil akan ditindak sesuai aturan yang berlaku.

“Nanti kita lihat seperti apa hasil rekomendasi dari Kadis Perdagangan,” tambahnya.

Penghasilan juru pungut di pasar relatif kecil sehingga memicu praktik pungli. Ahyar menegaskan, penghasilan ini tidak linier dengan pendapatan. Oknum petugas melihat celah sehingga melakukan praktik tersebut.

Sebesar apapun penghasilannya tapi melihat peluang pasti akan dikerjakan. Kasus ini berkaitan dengan mental juru petugas. Dan, diharapkan kasus demikian tidak terulang kembali.

Terpisah, Inspektur Inspektorat Kota Mataram, Lalu Alwan Basri mengatakan,  pihaknya telah membentuk tim untuk menindaklanjuti dugaan pungli tersebut. Tim diberikan waktu bekerja selama 10 hari mendalami. Hasil penelusuran tim disampaikan kembali ke Polresta Mataram untuk ditindaklanjuti.

Dalam proses pengembangan, tim internal yang dibentuk oleh Inspektorat akan dikoordinasikan dengan APH. Alwan belum memastikan dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh NU, petugas Pasar ACC, Ampenan. Meskipun barang bukti uang Rp1,1 juta diamankan sebagai barang bukti.

“Fakta awalnya dugaannya pungutan liar,” tandasnya.

OTT oleh aparat kepolisian bukan kali ini saja. Di tahun 2018, oknum kepala Pasar Sayang – sayang ditangkap oleh tim saber pungli Polres Mataram. Setahun berselang, petugas keamanan Pasar Kebon Roek juga diamankan dengan kasus serupa. Namun demikian Alwan mengklaim bahwa pihaknya tidak merasa kecolongan. Tim saber pungli telah bekerja memberikan sosialisasi serta membina petugas pasar.

Perkara siapa yang mengambil tindakan tidak diketahui. Oleh karena itu, kejadian ini akan dijadikan pembelajaran untuk fokus mengawasi dan penindakan terhadap pungutan sifatnya tidak resmi.

“Sekarang ini, semua yang berhubungan dengan pelayanan publik kita pelototi. Tahun ini, pokoknya kita fokus penindakan,” tegas Alwan.

Dia mengingatkan, pegawai maupun petugas juru pungut tidak bermain – main dengan pungutan tidak resmi walaupun sekecil apapun. Terutama pungutan yang sifatnya dengan pelayanan publik dengan masyarakat. Masyarakat sudah melek informasi. Jika terganggu akan melapor ke aparat penegak hukum. (cem)