Banyak Penyandang Difabel Terlupakan

0
Bupati Lotim, H. M. Sukiman Azmy menyerahkan bantuan kursi roda secara simbolis bantuan dari Australia kepada penyandang difabel.(Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Masih sangat banyak penyandang difabel di Lombok Timur (Lotim), termasuk se NTB terlupakan. Ini tergambar dari aktivitas advokasi yang dilakukan Pegiat Sosial Endri Foundation (EF) di Kabupaten Lotim. Dimana ditemukan banyak sekali warga penyandang disabilitas ini belum tersentuh bantuan.

Hal ini dikemukakan Zainul Muttakin, Pegiat Sosial pada acara silaturahmi dan penyerahan batuan kursi roda pada penyandang difabel di Kecamatan Sakra, Kamis, 30 Januari 2020. Hal senada disampaikan Ketua Lombok Disability Centre (LDC), Lalu Wisnu. Disebut Wisnu yang juga seorang penyandang difabel ini menyebut banyak sekali yang belum terbantu.

“Banyak saudara kami yang perlu kami bantu,” ucapnya. Khusus Lotim katanya banyak yang perlu diperbaiki. Tidak saja sentuhan bantuan, tapi juga perlakuan terhadap para penyandang difabel yang dinilai Wisnu sejauh ini masih tidak berkeadilan. Contoh kasus dituturkan ditemukan di Desa Mendana Raya Keruang, ada satu sekolah dasar yang mengeluarkan siswa penyandang difabel. Padahal anak tersebut sudah masuk kelas tiga.

Anak-anak penyandang difabel katanya memiliki hak yang sama dalam menikmati pendidikan. “Biar pendidikan untuk para difabel ini merata, kami berharap dibangunkan sekolah Itu titipan kami kepada pak Bupati,” pinta Wisnu kepada Bupati yang juga hadir pada pertemuan tersebut.

Disamping itu, sebutnya banyak penyandang difabel ini disinyalir tidak memegang kartu kesejahteraan sosial. Wisnu berharap, hal dari para difabel terpenuhi. Selanjutnya dikatakan, saat ini sedang ia perjuangkan perubahan atas penggunaan istilah disabilitas pada para penyandang difabel. Menurutnya, kata disabilitas ini membuat para penyandang difabel ini terhina. Karena kata disabilitas  dimaknai mereka yang tidak memiliki kemampuan. “Itu adalah kata penghinaan karena anggapan ketidakmampuan, lebih nyaman kami dipanggil difabel yakni orang punya kemampuan dengam cara berbeda,” demikian ucapnya.

Bupati Lotim, H. M Sukiman Azmy tidak menampik adanya penilaian terhadap masih minimnya perhatian terhadap para difabel. Hal ini katanya karena sejauh ini data para penyandang difabel ini banyak diperoleh dari medsos. Bupati menuturkan sudah meminta seluruh perangkatnya dan juga kepada para kepala desa untuk mendata dengan detail para penyandang difabel.

Catatannya sejauh ini jumlah penyandang difabel di Lotim mencapai 1.500 orang. Diakui yang diberikan santunan hanya beberapa orang. “Memang agak lucu jika ada aparat desa yang tidak mengetahui dan memfasilitasi serta beriktiar untuk membantu para penyandang difabel,” tegas Bupati.

Orang nomor satu di Lotim ini menyatakan, sebagai wujud rasa syukur orang-orang yang sehat harus perbanyak membantu orang-orang yang membutuhkan. Pada kesempatan itu, Bupati pun langsung memerintahkan Kepala Dinas Sosial untuk memberikan kartu kesejahteraan sosial kepada para penyandang difabel.

Sementara itu, soal sekolah luar biasa (SLB) untuk para penyandang difabel disambut positif Bupati. Bila perlu katanya setiap kecamatan ada sekolah untuk para penyandang difabel. Hal ini untuk memastikan semua mendapat haknya dalam pendidikan. “Di kantor camat misalnya ada ruang kosong, jadikan tempat belajar untuk para difabel,” ucapnya.

Adanya laporan siswa difabel dilarang sekolah oleh kepala sekolahnya ini membuat Bupati Lotim ini berang. Ia pun memerintahkan untuk memecat saja kepala sekolah tersebut. “Pecat saja kepala sekolah itu, tidak boleh ada anak difabel yang didiskreditkan,” imbuhnya

Meski diketahui pembangunan SLB ini menjadi kewenangan pemerintah provinsi, Pemkab Lotim siap memfasilitasi. Sejumlah lahan aset milik Pemkab Lotim ini siap dihibahkan untuk pembangunan SLB. (rus)