2020, PT. AP I LIA Catat Rekor Kerugian Tertinggi

Pesawat Citilink mendarat di BIZAM, Selasa, 19 Januari 2021.  Pada tahun 2020 PT.  AP I LIA pengelola BIZAM merugi hingga Rp 66 miliar akibat pandemi Covid-19. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Tahun 2020 bisa dikatakan sebagai tahun terburuk bagi manajemen PT. Angkasa Pura (AP) I Lombok International Airport (LIA). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengelola Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (BIZAM) tersebut mencatat rekor kerugian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dengan kerugian mencapai Rp 66 miliar.

Merosotnya jumlah penumpang pesawat dan berhenti beroperasinya sejumlah maskapai penerbangan dampak dari pandemi Covid-19 jadi penyebab utamanya. Akibatnya, pemasukan dari hasil usaha layanan jasa penerbangan merosot tajam. “Tahun lalu pemasukan kita hanya sekitar 20 persen dari kondisi normal,” aku General Manager (GM) PT. AP I LIA, Nugroho Jati, kepada wartawan, Selasa, 19 Januari 2021.

Iklan

Upaya penghematan yang dilakukan nyatakan tidak mampu menekan laju kerugian yang dialami anak perusahaan PT. AP I ini. Mengingat, besarnya biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk mengoperasikan BIZAM selama satu tahun. “Kenapa rugi, karena pemasukan tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Dampak dari pandemi Covid-19,” sebutnya.

Ia mengatakan, selama tahun 2019 di masa pemulihan pasca gempa pulau Lombok, PT. AP I LIA juga mengalami kerugian. Namun tidak sebesar yang dialami pada tahun 2020 lalu. Karena pada tahun 2019, kondisi penerbangan sudah mulai membaik setelah sempat diguncang akibat gempa yang terjadi pada pertengahan tahun 2018.  “Tahun 2019 kita memang rugi, tapi tidak separah tahun 2020 kemarin,” terangnya.

Pada awalnya pihaknya cukup optimis akan ada peningkatan pemasukan di tahun 2020. Melihat tren penumpang pesawat di awal tahun cukup bagus.

Namun ternyata kondisi tersebut hanya berlangsung selama tiga bulan saja. Karena pada Maret 2020, pandemi Covid-19 mulai melanda disusul kebijakan pemerintah yang mulai memberlakukan pembatasan perjalanan, untuk menekan laju penyebaran Covid-19. Puncaknya pada bulan Mei tahun 2020, nyaris tidak akan aktivitas penerbangan kecuali untuk logistik di BIZAM.

“Kita mulai ada pergerakan lagi pada bulan Juli. Dan, perlahan mulai bergerak naik hingga akhir tahun,” jelasnya. Saat ini di awal tahun 2021 kondisi penerbangan kembali sepi, karena masuk low season, sehingga aktivitas penumpang tidak terlalu banyak, yakni rata-rata penumpang hanya sekitar 2 ribu orang per hari. Jauh dibawah kondisi normal yang bisa menembus hingga angka 10 ribu per hari. Bahkan jika bandingkan kondisi pasca-gempa, masih lebih baik dengan rata-rata penumpang bisa mencapai hingga 4 sampai 5 ribu penumpang per hari.

Kendati mencatat kerugian cukup tinggi, tidak sampai mengganggu rencana investasi di BIZAM sendiri. Proyek perluasan terminal bandara, perpanjangan run way (landasan pacu) dan beberapa proyek lainnya tetap berjalan. (kir)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional