2020, Lapas Wajib Bebas Selundupan Narkoba

Kepala KPLP Lapas Mataram Afan Sulistiono (kiri) bersama Kadiv Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham NTB Dwi Nastiti (kanan) mengutarakan Resolusi Pemasyarakatan 2020, Kamis, 27 Februari 2020. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Prosedur standar operasional bukan cuma kata-kata. Namun wajib diimplemantasikan dalam kinerja. Patuh SOP dapat menjaga Lapas Mataram dari penyelundupan barang terlarang.

Demikian ditegaskan Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham NTB Dwi Nastiti, Kamis, 27 Februari 2020 kemarin. “SOP kita kuatkan agar bisa laksanakan kepatuhan internal,” tegasnya didampingi Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Mataram Afan Sulistiono.

Iklan

Dia mewanti-wanti agar sipir penjara tidak kecolongan berbagai upaya penyelundupan. Utamanya barang haram narkoba. Yang mana Lapas tersebut mayoritasnya dihuni terpidana narkoba.

“Penghuni tambah banyak, tantangan makin besar,” ucapnya.

Lapas Mataram per-27 Februari 2020 dihuni 1.017 warga binaan pemasyarakatan (WBP). Diantaranya, 226 tahanan dan 791 narapidana. Lapas berkapasitas 356 orang itu kini overkapasitas sampai 186 persen.

Selain narkoba, penyelundupan ponsel juga diwaspadai. Ponsel kerap digunakan para terpidana narkoba untuk tetap bisa menjalankan bisnisnya dari dalam Lapas.

Sebelumnya, BNN Provinsi NTB dan Polda NTB mengungkap kasus narkoba yang bisnisnya dikontrol napi. Sementara Afan menambahkan, pihaknya menerapkan pemeriksaan berlapis terutama saat jam kunjungan. Kemudian mengintensifkan razia sel-sel napi pada waktu-waktu yang tak terduga.

“Petugas shift siang atau malam pun bahkan tidak tahu. Kalau razia bocor, saya rasa tidak. Kalau razia pasti kita rahasiakan,” ungkapnya.

Razia terakhir kali digelar sepekan yang lalu. Petugas pengamanan Lapas menemukan napi yang masih menyembunyikan ponsel. Bermacam cara mereka pakai untuk memasukkan ponsel yang dalam tata tertib Lapas sangat dilarang.

“Ada yang dibawah kotak makanan. Itu bisa kita gagalkan. Yang masih ada ini, mereka dapatnya dari mantan napi yang sudah bebas. Saya tidak tahu apakah itu diperjualbelikan,” terang Afan.

Sanksi untuk mereka yang kedapatan mengoleksi ponsel pun sudah disiapkan. Mulai dari nihilnya kesempatan untuk mendapat pengurangan masa tahanan alias remisi. “Kita cabut hak menerima kunjungannya,” tegas Afan.

Upaya yang diambil, kata Afan, yakni dengan memperketat penjagaan pintu utama, satu-satunya jalur keluar masuk baik tahanan, narapidana, maupun petugas.

“Kalau ada oknum yang ikut-ikutan kita bahkan sudah siapkan sanksi pemecatan,” tandasnya. (why)