KJRI Johor Bahru Bantu Dana Bangun Musala Korban Gempa Lombok

0
(Kiri ke kanan) Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Dudi Iskandar , Konsul Imigrasi KJRI Johor Bahru, I Gusti Bagus M Ibrahim Pelaksana Konsuler I KJRI Johor Bahru Irma Nadjamuddin menyerahkan bantuan dana pembangunan musala kepada warga Dao, Teratak, Batukliang Utara, Lombok Tengah, Rabu, 10 Oktober 2018. (Suara NTB/Kantor Imigrasi Kelas I Mataram)

Mataram (Suara NTB) – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru Malaysia melakukan serangkaian kunjungan di Lombok. Selain menghimpun informasi penanganan TKI ilegal, KJRI-JB juga memberikan bantuan dana pembangunan Musala Ar Rahmah di RT 10 Dusun Montong Dao, Desa Teratak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, Rabu, 10 Oktober 2018.

Tempat ibadah warga RT 10 Dusun Montong Dao tersebut rata dengan tanah akibat diguncang gempa bumi M=7.0 Minggu, 5 Agustus 2018 lalu. Bantuan senilai Rp33 juta secara simbolis diserahkan Pelaksana Fungsi Konsuler I KJRI Johor Bahru Irma Nadjamuddin kepada Takmir Musala Ar Rahmah Amaq Sukriadi.

Turut mendampingi Kepala Dusun Montong Dao Andi Lala, Konsul Imigrasi KJRI Johor Bahru I Gusti M Ibrahim, dan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Dudi Iskandar.

Irma mengatakan, bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian dari KJRI Johor Bahru atas musibah gempa bumi yang mengguncang wilayah Lombok. “Kami berharap bantuan ini bisa dimanfaatkan untuk membangun kembali musala,” ujarnya.

Gusti menambahkan, penanganan gempa di Lombok dalam jangka panjang memerlukan inovasi. Seperti yang sudah dicontohkan Kantor Imigrasi Kelas I Mataram di bawah kepemimpinan Dudi Iskandar.

“Penyerahan bantuan ini juga sinergi antara KJRI dengan Kantor Imigrasi Mataram,” ucapnya.

Sementara Sukriadi menerangkan, musala selain sehari-hari dipakai untuk ibadah berjamaah,  juga difungsikan sebagai temat belajar baca tulis Al Quran.

Dampak gempa yang merusak musala membuat anak-anak dusun belajar mengaji di tenda-tenda pengungsian.

“Sesegera mungkin kami membangun agar musala dapat kembali digunakan untuk ibadah dan pendidikan,” terangnya. Andi Lala mencatat, sebanyak 490 rumah rusak terdampak gempa dari 625 kepala keluarga. (why)