Donasi Pembaca Bali Post Group Disalurkan untuk Korban Gempa Lombok

0
Pimred Bali Post, Dira Arsana foto bersama dengan penerima sumbangan dari Pembaca Bali Post Group di di Dusun Pawang Baturan, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, KLU, Kamis, 27 September 2018.

Tanjung (Suara NTB) – Terik matahari siang terasa menyengat  kulit, saat rombongan Kelompok Media Bali Post (KMB) memasuki wilayah Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Kamis, 27 September 2018. Tenda-tenda pengungsian pinggir jalan, puing reruntuhan bangunan berserakan di setiap perkampungan, masih menjadi pemandangan pascabencana.

Rombongan Bali Post Group melewati tiga kecamatan dari Pemenang, Tanjung dan Gangga untuk bisa sampai ke lokasi penyaluran bantuan di Dusun Pawang Baturan, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan.

Kesulitan air bersih, logistik terbatas, hunian sementara di bawah terpal, adalah beberapa persoalan yang dihadapi warga korban gempa di masa transisi. Sejak ditetapkannya masa transisi 1 September lalu, sebagian besar masyarakat korban gempa masih menunggu janji Presiden. Hingga pekan ini pun, bangunan rumah tahan gempa baru digelar di empat kelompok saja.

‘’Belum ada, sampai sekarang kami menunggu kepastian,’’ ujar Sekretaris Banjar Dusun Pawang Baturan, Gede Purna, saat ditanya perihal buku tabungan sebagai syarat memperoleh bantuan pemerintah.

Purna dan 105 KK di Pawang Baturan belum tertuang dalam SK Bupati sebagai penerima. Hebatnya, warga setempat tak pernah mengeluh. Warga di satu dusun ini, tidak mengungsi saat kejadian. Mereka memilih tinggal, berbenah, meruntuhkan bangunan, membersihkan puing dan mendirikan terpal/tenda darurat di masing-masing rumah. Sekilas terlihat, beberapa warga yang mempunyai tabungan masih bisa mendirikan hunian sementara menggunakan triplek. Tapi bagi sebagian yang lain, masih menggunakan terpal.

Hunian sementara yang belum pasti, paling dikhawatirkan oleh kaum ibu. Terutama mereka yang

memiliki anak balita. I Gusti Ayu Made Sri Wahyuni misalnya, sangat khawatir manakala musim hujan

tiba. Tinggal di bawah tenda tidak nyaman, tidak aman untuk anak-anak.

‘’Kami tinggal di tenda 6 orang sama mertua. Saya punya anak kecil 2 orang, usia 6 tahun masih TK dan yang kecil baru 10 bulan. Saya takutnya kalau hujan anak-anak jatuh sakit,’’ katanya. Sri mengaku anak bungsunya kerap sakit. Beruntung ada klinik gratis yang disiapkan relawan, sehingga dirinya tidak perlu jauh-jauh ke Puskesmas Kayangan.

Bagi kaum ibu Dusun Pawang Baturan, kesulitan air bersih menjadi momok di musim kemarau. Pasokan air untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan lain hanya mengandalkan air irigasi yang datang sekali dalam seminggu.

‘’Air sangat sulit karena seminggu sekali baru datang, itu pun air irigasi. Sampai di dusun ini, air keruh, ada lumpur. Kami tampung dulu di terpal baru bisa digunakan,’’ sambung istri guru honorer, Nyoman Mitra ini.

Air limit memaksa warga untuk menyesuaikan dengan keadaan. Tampungan air di tandon terpal sebisa mungkin bertahan untuk seminggu ke depan.

‘’Mandi cukup sekali sehari, itu pun jatahnya hanya 1 ember. Kalau mencuci sekadar di bilas saja,’’ imbuhnya.

Kendati demikian warga bersyukur, air untuk diminum masih lebih layak berkat bantuan dari PMI, TNI dan relawan lain yang datang membawa tangki. Bak-bak penampung air yang sudah dijejer di pinggir jalan diisi oleh relawan.

Babinsa sekaligus warga Pawang Baturan, I Made Santong, mengakui kondisi warganya cukup terkontrol. Logistik yang diterima dari relawan, pemerintah, dianggap cukup. Begitu pula air, tiap warga menampung untuk keperluan seminggu sampai tiba giliran irigasi dusun setempat.

‘’Dari sejak gempa bantuan tetap datang. Irigasi seminggu sekali tetap jalan, asalkan tidak ada kerusakan air irigasi pasti datang,’’ katanya.

Menurut Santong, warga saat ini masih menunggu kepastian perbaikan rumah. Di wilayah ini, rumah rusak berat mencapai  90 persen. Termasuk 4 pura, masing-masing Pura Banjar, Pura Puseh, Pura Dalem dan Pura Ulun, rusak parah. Semua tempat peribadatan itu dulunya dibangun dari swadaya masyarakat dusun. Kini untuk memperbaiki 1 pura, warga membutuhkan minimal Rp30 juta.

‘’Infonya akan ada donasi dari relawan Tanpa Batas, disalurkan melalui PHDI. Dijatah 4 tempat ibadah, salah satunya di dusun ini,’’ katanya seraya berharap donasi perbaikan tempat ibadah benar adanya.

Sementara itu, Pimred Bali Post,  Dira Arsana, secara simbolis menyerahkan bantuan kepada warga. Bantuan yang dikirimkan  dalam bentuk beras, air mineral, mi instan, minyak goreng, susu, terpal, selimut, pakaian, popok bayi dan sebagainya.

‘’Bantuan ini dihimpun dari donasi para pembaca Bali Post Group, pemirsa Bali TV yang ada di Bali. Saya serahkan ke warga Lombok yang terdampak gempa untuk selanjutnya dibagikan kepada semua warga,’’ katanya.

Tak lupa, Dira Arsana juga memberi motivasi dan ajakan kepada warga korban gempa untuk bangkit dari keterpurukan. ‘’Mudahan – mudahan peristiwa ini cepat berlalu,’’ harapnya. (ari)