Warga Dihantui Trauma Gempa Susulan

0

Selong (Suara NTB) – Warga di Kecamatan Sambelia Lombok Timur (Lotim) mengaku masih trauma dan takut adanya gempa susulan. Ketakutan ini bukan hanya dirasakan warga yang rumahnya rusak dan rata dengan tanah. Tetapi warga yang rumahnya retak dan tidak mengalami kerusakan lebih memilih tidur di luar rumah atau berugak.

Adalah Amaq Hamdani, warga Desa Madayin Kecamatan Sambelia mengaku masih trauma dengan kejadian gempa yang terjadi Minggu, 29 Juli 2018. Selama 25 tahun tinggal di sana, ia mengatakan baru kali ini ada gempa sebesar itu. Ia menceritakan pada gempa pertama, rumahnya masih tetap berdiri. Begitu ada gempa susulan, rumahnya langsung ambruk, rata dengan tanah.

Amaq Hamdani selamat dari gempa dengan kekuatan 6,4 SR tersebut. Ia bersama enam penghuni rumah yang sekarang rata dengan tanah berhasil selamat. Meskipun dua orang anaknya mengalami luka di bagian kaki dan kepala kena reruntuhan bangunan rumah pada saat gempa.“Sekarang keluarga semuanya mengungsi di lapangan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Amaq Minarti. Diakuinya, satu rumah dan empat ruko milik keluarganya rusak berat. Ia berterima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan kepada warga korban gempa. Diharapkan, bantuan perbaikan rumah segera direalisasikan pemerintah pascakedatangan Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) yang langsung meninjau masyarakat di desa tersebut.

“Sampai sekarang masyarakat takut, trauma. Ndak berani tidur di dalam rumah. Bahkan masak di luar rumah saja. Atau di ladang tempat mereka masak,” terangnya.

Meskipun sudah ada pemberitahuan dari petugas yang mendirikan posko pengungsian di desa tersebut, Amaq Minarti mengatakan masyarakat masih takut ada gempa susulan. Sehingga mereka banyak yang tidur di berugak atau membangun tenda di depan rumah. “Kami masih trauma masuk rumah untuk masak, tidur dan sebagainya,” imbuhnya.

Untuk saat ini, kata Amaq Minarti, masyarakat korban gempa sangat membutuhkan bantuan makanan. Untuk tempat tinggal, masyarakat yang rumahnya rusak berat tidur di pengungsian. Ketika diwawancara, Amaq Minarti mengaku baru satu kali mendapatkan bantuan makanan cepat saji seperti mi dan telur dan nasi. “Bantuan makanan kami butuhkan,” katanya.

Untuk anak-anak dan bayi sangat membutuhkan susu. Pasalnya, sekarang kios yang berada di sana banyak yang tutup. Ia mengatakan ada bayi yang sakit, namun sudah dilaporkan ke petugas untuk menangani. “Tapi alhamdulillah ada bantuan kepada kami. Yang penting ada bantuan dari pihak terkait,” kata usai menerima bantuan dari Presiden Jokowi.

Sementara Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham saat mengunjungi korban gempa di Sembalun dan Sambelia meminta kepada pemerintah daerah untuk melakukan inventarisir terhadap dampak gempa secara lengkap, baik korban jiwa, luka-luka maupun pemukiman rumah warga yang rusak.

Dalam hal ini, ujarnya, pemerintah harus hadir di tengah-tengah seluruh masyarakat yang terkena dampak dari bencana. Mulai dari pemberian bantuan terhadap luka-luka, pengobatan ditanggung oleh pemerintah, serta yang meninggal dunia pihak keluarga diberi santuan terhadap ahli waris.

“Kita lakukan upaya lahiriah dari pemerintah akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat yang menjadi korban bencana gempa. Dampak dari seluruh bencana, pemerintah pusat akan menangani semua bersama pemerintah provinsi, kabupaten,” janjinya.

Mensos mengingatkan kepada Kepala Dinas Sosial NTB, camat dan kepala desa untuk melakukan inventarisir semua dampak gempa supaya jangan sampai ada yang terlewatkan. Seperti luka-luka maupun kerusakan untuk ke depan dapat tertangani tanpa terkecuali. Pada kesempatan itu, Kementerian Sosial menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada korban gempa yang diterima Kepala Dinas Sosial NTB H. Ahsanul Khalik sebesar Rp 657.360.616.

Penetapan tanggap darurat selama lima hari dinilainya belum cukup, karena perjalanan untuk ke lokasi gempa cukup jauh. Namun dengan alasan tanggap darurat, bantuan dapat didistribusikan secara cukup terhadap para korban, sehingga jangan sampai ada masyarakat korban gempa yang tidurnya kehujanan.

Masyarakat belum berani kembali ke rumahnya masing-masing karena trauma. Maka dari itu, ada dua pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, yakni pelayanan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pelayanan suasana hati para korban.

“Kita koordinasikan dengan Pemda untuk bagaimana penanganan yang sama dengan instrumen yang ada. Pemerintah harus satu kesatuan melakukan penanganan untuk jangka menengah pada masa tanggap darurat,” pintanya.

Sementara Kepala Dinas Sosial NTB, H. Ahsanul Khalik, menegaskan, rumah yang rusak akibat gempa, di  Kabupaten Lombok Utara, Sambelia dan Sembalun Lombok Timur berjumlah ratusan lebih yang mengalami rusak berat. Dan kondisi rumah yang rusak ringan mencapai ribuan unit.

Untuk memenuhi kebutuhan logistik korban gempa, mantan Pejabat Sementara Bupati Lotim ini menyampaikan saat ini semua isi gudang logistik baik di provinsi maupun kabupaten sudah dikeluarkan. Termasuk kebutuhan air bersih masyarakat dipenuhi.

“Semua masyarakat hingga saat ini belum berani kembali dan tidur di rumahnya masing-masing. Bantuan yang diberikan oleh  Kemensos RI nantinya akan diberikan kepada korban gempa dengan syarat-syarat serta ketentuan yang berlaku,” janji Ahsanul Khalik.

Camat Sembalun, Usman juga menyampaikan, melihat kebutuhan masyarakat korban gempa di Kecamatan Sembalun. Bantuan yang didistribusikan belum maksimal terutama untuk kebutuhan logistik masyarakat berupa selimut terutama kebutuhan pokok.  (nas/yon)