Bayi Diduga Tertukar, Pasangan Suami Istri Protes RSUD Sumbawa

0

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pasangan suami istri Jumaedi (25) dan Endang Lestari (24) warga Desa Empang Bawa, Kecamatan Empang sangat bahagia atas kelahiran bayi pertama mereka. Namun mereka kecewa dan melakukan protes terhadap pihak rumah sakit, karena jenis kelamin bayi mereka tidak sesuai dengan yang disampaikan perawat dan yang tercantum dalam surat keterangan kelahiran.

Dalam surat keterangan tertera bayi berjenis kelamin laki-laki, sementara setelah diterima bayi berjenis kelamin perempuan. Merekapun menduga bayi tersebut tertukar.

Jumaedi yang ditemui wartawan di RSUD Sumbawa, Senin, 4 September 2017. menyampaikan, istrinya melahirkan dengan proses operasi caesar pada Sabtu, 2 Septembet 2017  sekitar pukul 18.42 Wita. Ia yang saat itu hendak menuju ruangan operasi tidak diizinkan masuk. Berselang beberapa lama, iparnya masuk untuk mengecek keadaan bayi.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada iparnya, bahwa bayinya tersebut berjenis kelamin laki-laki. Ia pun masuk dan mengecek kondisi anaknya. Hanya saja tidak mengecek jenis kelaminnya.

Setelah diazankan, ia kemudian menyerahkan anaknya kepada petugas di ruangan dan pergi membeli perlengkapan bayi. Setelah itu ia diminta untuk menandatangani beberapa surat, termasuk surat keterangan kelahiran.

Kemudian, di hari Minggu, 3 September 2017, ia diberikan surat keterangan kelahiran sekitar pukul 13.00 Wita. Satu jam kemudian sekitar pukul 14.00 Wita ia dipanggil kembali untuk mengambil bayinya. Namun, dalam kesempatan tersebut bayinya tidak langsung diserahkan kepadanya. Melainkan ia diberikan beberapa pertanyaan oleh petugas apakah sudah mengecek bayi tersebut.

Setelah itu, ia kembali diminta untuk keluar dari ruangan. Sementara orang tua yang lainnya langsung membawa bayinya pulang. Namun, setelah itu ia sangat kaget saat petugas menyampaikan bahwa anaknya berjenis kelamin perempuan. Sementara dari keterangan sebelumnya termasuk dalam surat keterangan kelahiran bayinya berjenis kelamin laki-laki. Dari situlah ia mulai menduga bahwa anaknya tersebut tertukar.

“Tempat saya curiga, kalau memang bayi saya perempuan kenapa malam hari saya tidak diberitahukan saat bayi saya dibersihkan dan ditaruh pakaian. Tetapi setelah siang hari berikutnya baru saya diberi tahu. Itu pun saat jam 1 siang di surat keterangan juga tertera bayi laki-laki. Apalagi saat saya hendak mengambil bayi, prosesnya lama. Sementara orang tua yang lainnya setelah dipanggil langsung membawa bayinya. Jadi wajar saya curiga dan menduga bayi saya tertukar,” ujarnya.

Dijelaskannya, dari protes yang dilakukannya, pihak rumah sakit hanya menyampaikan permohonan maaf karena ada kesalahan dalam melingkari jenis kelamin dalam surat. Tentunya permohonan maaf itu belum bisa meyakinkannya bahwa anak tersebut benar anaknya. Karena keluarganya juga tidak bisa menerima jika belum ada kepastian dan bukti yang jelas.

Untuk itu ia menginginkan pihak rumah sakit melakukan tes DNA. Jika dari hasil tes membuktikan anak tersebut benar anaknya, maka dia baru bisa menerimanya. Apabila pihak ruma sakit tidak memenuhi permintaannya maka ia akan melakukan upaya hukum atas peristiwa yang terjadi.

“Saya baru bisa percaya kalau dilakukan tes DNA. Kalau nanti dari hasil tes DNA benar bayi saya, akan tetap saya terima. Itupun kalau tes DNAnya sudah benar. Kalau ndak ada saya belum bisa terima. Jika itu tidak dilakukan, saya akan lakukan proses hukum,” tukasnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Sumbawa, dr. Selvi yang dikonfirmasi di ruangannya mengaku sudah mengumpulkan petugas -petugas terkait yang saat itu berada di tempat kelahiran bayi. Mulai dari bidan, petugas di kamar operasi dan perawat bayi. Dari hal tersebut diakuinya bahwa bayi tidaklah tertukar.

Hanya saja, ia belum bisa menyampaikan informasi yang komplet saat ini. Karena, dokter yang menangani bayi, yang seharusnya memberikan informasi medik saat ini berada di Mataram. “Yang diduga bayi tertukar itu sesungguhnya tidaklah tertukar. Hanya saja saat ini saya tidak bisa memberikan informasi yang komplet. Karena dokter yang menangani bayi sedang berada di Mataram, terangnya.

Meskipun demikian, ia sudah menghubungi dokter tersebut via telepon. Dari keterangan dokter, dipastikan bayi tersebut benar berjenis kelamin perempuan. Karena ialah yan memeriksa secara keseluruhan bayi.

Mengenai adanya tertera bayi berjenis kelamin laki-laki dalam surat keterangan, diakuinya karena kesalahan penulisan oleh perawat. Sehingga dari kesalahan tersebut, berdampak pada keterangan kelahiran bayi. Hal itu kemungkinan disebabkan adanya tekanan psikologis  perawat saat itu. Karena kondisi bayi tidak normal dan dalam keadaan gawat. Dalam hal ini bayi tidak menangis. Sehingga hanya terfokus untuk penanganan bayi agar terselamatkan dengan dilakukan bantuan-bantuan.

Setelah bayi diselamatkan barulah diberikan kepada dokter yang memeriksa bayi.“Dari keterangan dokter yang memeriksa bayi jelas bawa bayi berjenis kelamin perempuan. Namun, ada kesalahan informasi yang mungkin disebabkan karena tekanan psikologis perawat yang menulis keterangan,” tukas Selvi.

Dijelaskan Selvi, memang keterangan kelahiran mengacunya pada surat yang ditandatangani dokter kandungan. Tetapi dokter kandungan yang membantu proses kelahiran berbeda dengan dokter yang menangani dan memeriksa bayi setelah dilahirkan. Makanya karena informasi, yang ditulis oleh perawat salah, berdampak pada keterangan kelahiran yang salah.

“Jadi sebenarnya informasi dari perawatnya yang keliru. Tetapi sesungguhnya kalau mengacu kepada pemeriksaan dokter yang menangani dan memeriksa bayinya secara keseluruhan mengetahui semuanya. Dan dokter yang memeriksa bayi memastikan kalau bayi berjenis kelamin perempuan,” tambahnya.

Pihaknya meminta maaf kepada keluarga bayi atas kesalahan informasi yang diberikan. Dimana pihaknya tidak berniat memberikan informasi salah tersebut. Tetapi pihaknya berniat bagaimana supaya bayi dapat tertolong. Mengenai permintaan keluarga bayi agar dilakukan tes DNA, pihaknya menyarankan agar terlebih dahulu dilakukan kroscek teradap sidik jari bayi. Karena pada saat bayi lahir, bayi tersebut sudah dilakukan sidik jari telapak kaki kanannya. Upaya tersebut bisa membuktikan bahwa bayi tersebut benar dari merupakan bayi yang bersangkutan. Karena tidak ada sidik jari yang sama meskipun bayi tersebut kembar.

“Kami sudah melakukan tindakan kami lakukan stempel telapak kaki kanan bayi setelah dilahirkan. Kalau ingin mengecek kembali dengan apa yang ada, tentu akan dikroscek kembali dengan coba diulang saja stempel dicocokkan kembali. Dan sudah ditawarkan dengan keluarga. Dan itu pun sudah kita bicarakan dengan pihak keluarga,” pungkasnya.

Hanya saja pihak keluarga tetap menolak. Meskipun demikian, pihaknya tetap akan berkomunikasi dengan pihak keluarga. Mencoba meyakinkan dengan mempertemukan dengan dokter yang memeriksa langsung bayi setelah dilahirkan. Termasuk, menyarankan untuk terlebih dahulu mengkroscek ulang sidik jari dengan yang sebelumnya sudah dilakukan. (ind)