Tiga Tersangka Teroris Diperiksa Intensif di Jakarta

0

Mataram (Suara NTB) – Tiga tersangka teroris asal Bima diberangkatkan ke Jakarta. Mereka diperiksa intensif penyidik di Markas Komando Densus 88 Anti Teror.

Kabid Humas Polda NTB, AKBP Tri Budi Pangastuti mengatakan, para tersangka akan diinterogasi lebih lanjut mengenai tindak tanduk mereka selama berkiprah di organisasi Jamaah Ansharut Daullah Bima.

“Dibawa ke Jakarta, ke MakoDensus 88 untuk penyidikan lebih lanjut,” ujarnya ditemui Suara NTB di ruang kerjanya, Kamis, 22 Juni 2017.

Ia menambahkan, usai penindakan pada Jumat (17/6) dan Sabtu (18/6) di Desa Dore, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, penyidikan di TKP sudah dicukupkan.

Semua saksi yang berkaitan dengan kiprah tiga tersangka itu sudah dimintai keterangan. “Termasuk pihak keluarga yang dianggap mengetahui seperti apa kegiatan mereka selama di sana,” terangnya.

Tiga tersangkaitudiantaranya, Kurniawan bin Hamzah (23) dan Nasrul Hidayat alias Dayat (23) asal Desa Dore, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, serta Rasyid Ardiansyah alias Olga (35) asal Kelurahan Penato’i, Kecamatan Mpunda, Kota Bima.

Mereka sebelum digerebek tim Densus 88 Anti Teror merencanakan peledakan markas kepolisian, khususnya di Bima.

Kurniawan sebagaipelaku utama berperan merakit bom dan melakukan survey terhadap anggota polisi dan Mako Polsek Woha.

Dayat berperan sebagai pembantu Kurniawan yang bertugas membeli bahan dasar bom rakitan yakni H2O2 sebanyak 3 liter.

Kemudian Rasyid sudah lama menjadi buruan polisi. Ia ditangkap di Penatoi, Kota Bima. Ia ditangkap karena ikut melakukan perampokan di Pos Giro Ciputat, Kota Tangerang, Banten pada 2012.

Adapun barang bukti yang ditemukan, antara lain, air aki, pupuk urea, amonium nitrat, anvil, solder, lampu hias sebagai detonator, saklar, aseton, telepon genggam sebagai switching bom, H202atau hidrogen peroksida.

Kemudian ada pula, plastik arang, serbuk black powder, baterai 9 Volt dan rangkaian pelepas tegangan, lakban, kompas, alat takar injeksi, termometer lab, sumbu barang, jam tangan, serta kanebo yang sudah berisi bahan peledak.

Sejumlah bahan itu disiapkan untuk membuat bom dengan bahan peledak Triacetone Triperoxide (TATP) atau aseton peroksida dengan rangkaian elektronik yang dimodifikasi menjadi bom, yang ditaksir memiliki daya ledak tinggi.

Para tersangka menargetkan serangan ke Mapolsek Woha, Pospol Bandara Salahuddin Bima, dan Mapolres Bima. (why)