Inaq Kinim, Potret Warga Miskin Kota Mataram

0

Mataram (suarantb.com) – Usia tua patutnya merupakan usia di mana waktu luang untuk istirahat dan bahagia menimang cucu. Namun sederet potret kemiskinan mengharuskan banyak orang di usia tuanya, harus bergulat dengan kerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Inaq Kinim (82) masih cekatan mengupas bawang dari tangkainya. Mulai  tengah hari, rutinitas itu terus ia jalani hingga menjelang sore. Hal tersebut dilakukan setiap hari. Hanya untuk bertahan hidup melewati hari demi hari usia senjanya.

“Ya beginilah yang saya kerjakan nak. Daripada tidak ada,” ujar warga Lingkungan Karang Rundun, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya itu.

Ia bersama cucunya, Irma, saban hari bekerja sebagai buruh kupas bawang. Usia Inaq Kinim memang tergolong renta. Namun, bagi janda empat anak itu, tidak ada kata menganggur.

Meski masih tinggal satu rumah dengan anak-anaknya, Inaq Kinim enggan meminta uang dari orang lain. “Saya tidak pernah mau minta-minta. Walaupun sama anak saya sendiri,” imbuhnya.
Dalam sehari, nenek 10 cucu itu sanggup mengupas sekitar 10 kilogram bawang. Itu juga tergantung pesanan pedagang Pasar Mandalika yang berjualan tak jauh dari tempat tinggalnya. Perkilonya dihargai tak seberapa. Hanya Rp 500 rupiah. Paling banyak dalam satu hari ia meraup Rp 5.000. Untuk kebutuhan makan saja tak cukup. Itupun kalau pesanan sedang baik.

Kadang satu hari ia hanya bisa mengantongi Rp 1.000 dari hasil mengupas bawang. “Kalau makan kadang saya masak sendiri. Diantar tetangga juga. Tapi saya tidak pernah minta,” ungkapnya.

Inaq Kinim adalah salah satu dari ribuan masyarakat miskin Kota Mataram. Nenek itu jauh di bawah garis kemiskinan.  Tahun 2017 mendatang, Inaq Kinim tak lagi harus kedinginan saat beristirahat di kamarnya yang tanpa dinding penyekat di dekat dapur itu. Ia mendapat jatah satu dari 30 bantuan RTLH dari Pemkot Mataram.

“Dia masuk kategori warga sangat miskin,” ungkap Kepala Lingkungan Karang Rundun, Hamid. Ia menyebutkan, sekitar setengah dari 1.494 jiwa warganya masuk dalam kategori miskin menurut data tahun 2015.

“Kalau rincinya saya kurang tau pasti, tapi sekitar 50 persennya lah,” jawabnya saat ditanya jumlah warga miskin di lingkungan yang dipimpinnya.

Ia menerangkan, warga miskin itu sebagian besar yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Di antaranya, buruh angkut, pedagang kaki lima, dan buruh rumahan. “Ada yang diupah bantu nyuci baju tetangga, bersihkan rumah, yang kupas bawang,” kata Hamid.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan itu. Sejumlah bantuan pemerintah dibuatkan skema untuk membuat warga miskin itu berdaya.

“Ada bantuan kita buatkan mereka kelompok untuk memulai usaha. Ada yang jualan asongan, ada yang buat lapak kaki lima,” tutupnya. (szr)