Riyan, Bocah Enam Tahun yang Sakit Tanpa Solusi Pengobatan

0

Selong (Suara NTB) – Seorang bocah miskin berumur enam tahun harus berhadapan dengan penyakit yang hingga kini belum dapat disembuhkan. Kemiskinan yang melilit keluarganya, ditambah dengan ketidakmampuan para petugas kesehatan menyembuhkannya, membuat bocah bernama Riyan Saputra ini masih harus berhadapan dengan penderitaan yang memilukan.

Badannya semakin kurus. Kakinya  makin  mengecil. Dia pun hanya bisa tertidur tak berdaya. Di usianya yang sudah memasuki enam tahun, seharusnya ia berlari-lari bersama teman sebayanya. Akan tetapi, nasib berkata lain. Belajar tersenyum saat bercanda dengan teman belum pernah ia rasakan.

Riyan adalah putra dari pasangan Fawani dan Huswatun Hasanah. Warga Desa Padakgoar Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur. Kepada Suara NTB, Fawani alias Amaq Rian ini bertutur, sudah lama sekali ia mencoba melewati proses pengobatan. Puluhan juta sudah habis meski dengan berhutang, namun belum ada hasil.

Anak semata wayangnya masih tertidur lemas. Beberapa kali mendapatkan pelayanan medis mulai dari tingkat puskesmas, namun belum ada jawaban atas solusi penanganan kesehatannya. Sakit yang diderita sang anak pun belum ia ketahui. Pasalnya, tidak ada penjelasan dari dokter di puskesmas.

Saat ini, ia hanya bisa berharap dari pengobatan ala Sasak. Melalui pengobatan dukun. Melalui medis ia tampak nyaris putus asa karena tidak kunjung ada perubahan. Bahkan pernah dibawa ke salah satu dokter spesialis yang ada di Selong, pun tidak ditemukan ada titik terang yang bisa memberikan kesembuhan kepada sang anak.

“Kalau ke Puskesmas itu sudah berulang kali,” sebutnya. Dia menuturkan, sang anak ini sebenarnya sakit biasa ketiga usianya baru menginjak 3 bulan. Tidak disangka dan diluar pengetahuannya, Fawani yang bekerja sehari-hari sebagai buruh tani ini heran karena anaknya ini semakin bertambah usianya bukannya makin ceria, tapi makin menambah kesedihan keluarga.

Sebagai keluarga miskin dan kurang mampu, sang anak memang sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Akan tetapi, kartu JKN ini belum mampu memberikan solusi atas jawaban pertanyaan bagaimana cara pengobatan anaknya agar bisa sembuh?

Kartu ini pun nyaris  tidak pernah digunakan. Karena setiap kali datang ke fasilitas kesehatan, tenaga medis hanya memberikan perawatan sederhana. Saat dilihat petugas sembuh, langsung disuruh pulang begitu saja. Tidak pernah ada arahan atau bagaimana kira-kira caranya mengobati anaknya.

Keluarga kecil ini pun mengaku hanya bisa bersedih dan berharap uluran kasih dari pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Dihitung-hitung, biaya untuk pengobatan diyakini pasti besar. Mengingat penyakit yang diderita anaknya cukup berat.

Kepala Dinas Kesehatan Lotim, drg. H. Asrul Sani yang dikonfirmasi mengakui jika kasus-kasus seperti itu terjadi karena alasan kemiskinan. Jika belum memiliki kartu JKN, Dikes Lotim siap membantu untuk mendapatkan kartu tersebut.

Jika sudah memiliki kartu, sarannya kartunya langsung dipakai. Pihak keluarga bisa langsung mengkonsultasikan dengan puskesmas terdekat untuk dibantu. Bisa juga dirujuk ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. Kekhawatiran masyarakat biasanya bukan pada biaya medis, tapi biaya keluarga pada saat menunggu pasien. “Keluhan ini sering terjadi,” tuturnya.

Puskesmas dalam memberikan pelayanannya melihat statusnya. Jika tidak mampu ditangani maka bisa langsung dirujuk. Rujuk ke rumah sakit. Rumah sakit di daerah tidak bisa, maka bisa langsung di rujuk ke rumah sakit di luar daerah.

“Kita di Dikes kan melayani, kita siap membantu rujukannya,” katanya.

Beberapa kasus yang ditangani selama ini banyak juga yang dirujuk sampai ke Jakarta dan dibantu sesuai kemampuan. Bantuan biaya di luar medis bisa saja dari Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) atau lembaga donor lainnya. (rus)