200 Ribu KK Bakal Terkena Dampak Kekeringan di Lombok Tengah

Praya (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) memperkirakan kekeringan akan mulai dirasakan dampaknya pada bulan Juni mendatang. Ada sekitar 200 ribu kepala keluarga (KK) yang tersebar di sembilan kecamatan dari 12 kecamatan yang ada di Loteng akan merasakan dampaknya.

Kepala Pelaksana BPBD Loteng, Drs. H. Muhammad, kepada Suara NTB, Selasa, 24 April 2018, mengatakan saat ini pihaknya sudah mulai melakukan pendataan luasan daerah yang akan terkena dampak kekeringan. Di mana kekeringan bakal dirasakan dampaknya di Kecamatan Praya Barat, Praya Barat Daya, Pujut, Praya Timur, Praya Tengah serta Kecamatan Jonggat dan Kopang. Ditambah Kecamatan Janapria serta Pringgarata.

Iklan

Dari sembilan kecamatan yang bakal terkena dampak kekeringan tersebut, enam kecamatan di antaranya yang paling parah. Yakni Kecamatan Praya Barat, Praya Barat Daya, Janapria, Praya Timur, Praya Tengah serta Kecamatan Pujut. Sementara Kecamatan Jonggat, Pringgarata serta Kopang, hanya satu atau dua desa saja yang akan terkena dampak kekeringan.

“Jadi kecuali Kecamatan Praya, Batukliang serta Batukliang Utara, semua kecamatan di Loteng bakal terkena dampak kekeringan. Dengan enam kecamatan diantaranya yang paling parah terdampak kekeringan,” tegasnya.

Terhadap ancaman kekeringan, BPBD Loteng sudah melakukan persiapan sejak dini guna mengantisipasi dampak buruk dari kekeringan yang bakal melanda. Salah satunya dengan menyiapkan air bersih yang nantinya bakal disalurkan ke daerah-daerah yang terkena kekeringan.

“Untuk air bersih, total kita siapkan sebanyak 220 tangki dengan kapasitas 5.000 liter per tangkinya,” jelasnya. Itu belum termasuk bantuan dari BPBD provinsi maupun pusat. Di mana kalau dikalkulasikan, total ada sekitar 900 tangki yang disiapkan guna mengurangi dampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

Untuk memudahkan penyaluran air bersih nantinya, pihaknya telah menyiapkan sebanyak 12 tandon air yang bisa dikerahkan sewaktu-waktu untuk membantu warga menampung air bersih selama musim kering berlangsung. “Karena ini persoalan alam, kita hanya bisa melakukan langkah antisipasi saja,” ujarnya.

Namun demikian, pihaknya tetap berharap musim kering tahun ini tidak terlalu parah dan berlangsung lama, sehingga dampaknya tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat. “Intinya kita tetap antisipasi. Sembari berharap kekeringan tidak terlalu lama dan parah,” pungkas mantan Kabag Administrasi Aset Setda Loteng ini. (kir)