173 Warga Mataram Terserang DBD

Ilustrasi Nyamuk DBD (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Kota Mataram merilis kasus gigitan nyamuk aedes aegepty penyebab deman berdarah dengue (DBD) mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019 lalu. Di bulan Januari – Februari mencapai 173 kasus. Kebersihan lingkungan jadi kunci utama mencegah penularan penyakit menular tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Usman Hadi membenarkan bahwa, Kota Mataram peringkat kedua terbanyak kasus DBD setelah Kabupaten Lombok Barat dengan 173 kasus. Dengan rincian, 58 diduga deman berdarah 115 orang positif terjangkit DBD. “Memang ada hasil lab satu orang kemarin positif DBD,” kata Usman dikonfirmasi, Senin, 24 Februari 2020.

Iklan

Meningkatnya penderita gigitan nyamuk aedes aegepty menyebabkan penumpukan pasien di puskemas. Salah satu pasien diakui Usman, sebelumnya menolak dirujuk ke rumah sakit. Petugas medis terpaksa memindahkannya ke Puskesmas Karang Taliwang. Sebab, pasien di Puskesmas Cakranegara tidak cukup menampung pasien. “Selama mampu kita tangani. Puskesmas memang tidak dijadikan rawat inap,” tambahnya.

Secara rinci tidak disebutkan oleh Usman, penderita DBD di tahun 2019. Jika dikomparasikan dengan tahun ini lebih mengalami peningkatan. Penyakit DBD menjadi siklus tahunan dan menular lewat gigitan nyamuk. Oleh karena itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan. Minimal menguras, membersihkan serta mengubur barang-barang bekas.

Dikes mengapresiasi masyarakat di Kelurahan Sayang- sayang sebelumnya menjadi daerah zero DBD. Masyarakat rutin membersihkan, menguras serta mengubur barang-barang bekas. Tidak dibiarkan ada genangan di sekitar lingkungan.

“Sekarang sudah terjangkit lagi. Yang masih putih itu Ampenan Utara,” sebutnya. Usman berharap, tingginya kasus DBD tidak menelan korban jiwa, sehingga masyarakat kembali diingatkan menjaga kebersihan lingkungan.

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh menegaskan, pihaknya jauh hari sebelumnya telah mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi ganasnya gigitan nyamuk aedes aegepty penyebab deman berdarah. Tak bisa dipungkiri siklus tahunan menjadi ancaman,sehingga terus diprogramkan pencegahan.

Sebagai daerah dengan kasus DBD kedua tertinggi di NTB, Walikota memerintahkan Dinas Kesehatan mengambil langkah-langkah antisipasi pencegahan penyakit mematikan tersebut. Ahyar segera berkoordinasi dengan camat dan lurah mengingatkan kembali warga supaya bersinergi membersihkan lingkungan.

“Penting bagi camat dan lurah mengimbau masyarakat melaksanakan program seperti bersih-bersih genangan di depan rumah dan dalam rumah,” ungkapnya. Petugas kesehatan rutin melakukan fogging terutama titik-titik dinilai rawan penyebaran. Langkah ini mengantisipasi penyebaran dan berkembangbiaknya jentik nyamuk. (cem)