166.322 KK Masyarakat NTB Masih BAB Sembarangan

Marjito Sekretaris Dinas Kesehatan (Dikes) NTB (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) NTB mencatat masih ada sembilan kabupaten/kota yang belum bebas Buang Air Besar (BAB) sembarangan. Baru satu kabupaten di NTB, yakni Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang masyarakatnya tidak lagi BAB sembarangan.

Serkretaris Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, Marjito, SKM, M.Kes, saat memberikan keterangan Jumat, 28 Februari 2020 sore kemarin menyebutkan data sampai Desember 2019, total desa/kelurahan yang sudah mencapai status Buang Air Besar Sembarangan Nol (Basno) sebanyak 629 desa/kelurahan. Atau jumlah desa/kelurahan yang mencapai status Basno baru mencapai 55 persen dari total 1.125 desa/kelurahan di NTB.
Dilihat dari capaian akses kepala keluarga (KK) per kabupaten/kota untuk penggunaan jamban pada 2019, baru KSB yang sudah mencapai 100 persen KK menggunakan jamban. Sedangkan kabupaten/kota lainnya KK yang menggunakan jamban masih bervariasi antara 84,02 persen sampai 99,54 persen.
Seperti di Kota Mataram, baru 99,54 persen KK yang menggunakan jamban. Kemudian Lombok Barat sebesar 93,92 persen, Bima 93,34h persen, Kota Bima 91,74 persen, Dompu 88,27 persen, Sumbawa 85,56 persen, Lombok Utara 85,02 persen, Lombok Timur 84,19 persen dan Lombok Tengah 84,02 persen. Secara keseluruhan, rata-rata KK yang menggunakan jamban di NTB sebesar 89,09 persen.

Iklan

Marjito mengatakan terjadi peningkatan jumlah KK yang menggunakan jamban di NTB dari tahun ke tahun. Misalnya, pada 2015, warga NTB yang sudah menggunakan jamban sebanyak 1.058.130 KK atau 74,75 persen, sedangkan masyarakat yang masih BAB sembarangan sebanyak 359.377 KK.
Kemudian pada 2016 terjadi peningkatan menjadi 79,29 persen KK di NTB yang menggunakan jamban. Masyarakat yang menggunakan jamban menjadi 1.132.488 KK, sedangkan masih BAB sembarangan 292.055 KK.
Pada 2017, masyarakat yang sudah menggunakan jamban di NTB sebanyak 1.190.314 KK atau 82,67 persen. Sedangkan masyarakat yang masih BAB sembarangan sebanyak 250.344 KK. Selanjutnya, pada 2018, masyarakat NTB yang menggunakan jamban meningkat menjadi 1.241.782 KK atau 85,62 persen. Sedangkan yang masih BAB sembarangan sebanyak 203.778 KK.

Kemudian pada 2019, Dikes NTB mencatat jumlah masyarakat yang menggunakan jamban sebanyak 1.301.765 KK atau 89,09 persen. Sementara pada tahun yang sama, masarakat yang masih BAB sembarangan sebanyak 166.322 KK. Menurut Marjito, penyediaan akses jamban mempunyai daya ungkit terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Karena biasanya semua penyakit berasal dari lingkungan yang tidak sehat. Misalnya angka kematian ibu dan bayi hingga stunting. Dijelaskan, gerakan Basni ang dilakukan sejak beberapa tahun lalu mempunyai manfaat hasil yang berimplikasi luas dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakaat.

Di antaranya mengubah kesadaran masyarakat terhadap perilakunya untuk tidak BAB sembarangan. Berkurangnya angka cacingan pada anak sehingga produktivitas serta prestasi belajar dapat meningkat.
Selain itu, lingkungan menjadi lebih bersih dari pencemaran yang diakibatkan oleh tinja manusia. Prevalensi penyakit berbasis lingkungan menjadi menurun signifikan yang pada gilirannya dapat menurunkan angka kematian bayi dan balita, angka kematian ibu melahirkan, prevalensi gizi buruk dan stunting. (nas)