15 Tahun Krisis Air Bersih, Warga Kota Bima Protes

Aksi unjuk rasa warga Lingkungan Bina Baru, Kelurahan Dara, Kecamatan Rasanae Barat, menuntut solusi krisis air bersih, di halaman depan Kantor DPRD Kota Bima, Senin, 14 September 2020.(Suara NTB/Uki)

Kota Bima (Suara NTB) – Puluhan warga Lingkungan Bina Baru, Kelurahan Dara, Kecamatan Rasanae Barat,  Kota Bima, menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bima dan DPRD, pada Senin, 14 September 2020.

Aksi unjuk rasa puluhan warga yang kebanyakan ibu-ibu tersebut, menuntut Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi SE dan anggota DPRD agar memperhatikan nasib mereka yang kerap mengalami krisis air bersih sejak tahun 2005.

Iklan

“Sudah 15 tahun kami krisis air bersih. Kami meminta Walikota Bima dan DPRD segera mencarikan solusinya,” kata koordinator massa aksi, Imam Juriadin. Lebih lanjut Imam mengaku, warga sebenarnya terpaksa menggelar unjuk rasa. Hanya saja langkah itu sebagai jalan terakhir, karena aspirasi warga selama ini tidak pernah diindahkan.

“Unjuk rasa hari ini merupakan jalan terakhir kami karena aspirasi selama ini tidak pernah direalisasikan. Kami hanya diberikan janji-janji saja,” katanya.

Selain mengkritik kinerja Pemkot, massa aksi juga menyorot kinerja anggota DPRD Kota Bima. Pasalnya ketika turun menyerap aspirasi (reses), hanya memberikan janji kepada warga terkait persoalan air bersih tersebut.

“Saat reses hanya kebutuhan air bersih yang kami aspirasikan. Hanya saja, aspirasi ini tidak ada realisasinya. Kami terus alami krisis air sampai sekarang,” katanya.

Ia mengaku demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan setiap hari, warga harus mengeluarkan uang pribadi untuk membeli air bersih. Kalaupun ada air gratis, itupun diambil dari wilayah Kelurahan lain.

“Bayangkan saja setiap hari kami harus keluarkan dana Rp50 ribu untuk membeli air bersih,” katanya. Imam menambahkan, saluran pipa air bersih yang dikelola oleh PDAM, yang tetap dibayar iurannya setiap bulan, juga tidak aktif sejak banjir bandang melanda Kota Bima Tahun 2016 lalu.

Sampai selesai demo, aksi unjuk rasa warga tidak mendapat tanggapan dan respon dari Pemkot Bima dan anggota DPRD. Justru nyaris terjadi perselisihan antara massa aksi dengan anggota Sat Pol PP yang menjaga kantor setempat.

Seperti diketahui berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima, wilayah yang mengalami krisis air bersih akibat kekeringan tersebar pada 12 Kelurahan.

Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi SE mengaku saat ini pihaknya menyiapkan berbagai langkah dan upaya terkait adanya belasan Kelurahan di Kota Bima yang dilanda krisis air bersih tersebut. Langkah pertama yang dilakukan, yakni menyiapkan sejumlah mobil pengangkut air bersih yang bertugas menyalurkan atau mendropping air bersih ke wilayah yang terdampak.

“Langkah kedua kita juga tengah melakukan pengeboran air di sejumlah titik,” katanya kepada Suara NTB, baru-baru ini. Langkah ketiga lanjutnya, yakni terus meningkatkan program penghijauan dengan menanam pohon di wilayah timur pegunungan Kota Bima. Tujuannya memulihkan sumber mata air. “Langkah penghijauan ini sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih,” katanya.

Lutfi mengaku beberapa upaya tersebut diharapkan mampu meminimalisir krisis air bersih akibat dampak kekeringan. Karena sejumlah upaya itu termasuk jangka pendek dan menengah. “Kita harapkan persoalan krisis air bersih dampak kekeringan pada tahun berikutnya bisa dapat teratasi,” katanya.

Selain akibat dampak kekeringan musim kemarau, Walikota mengungkapkan krisis air bersih yang terjadi di Kota Bima karena saluran pipa air milik PDAM rusak secara menyeluruh akibat banjir bandang yang terjadi di Kota Bima akhir tahun 2016 lalu. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here