139.995 Ekor Sapi Indukan Ditargetkan Wajib Bunting di NTB

Mataram (suarantb.com) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan)  NTB, menargetkan 139.995 ekor sapi dari program Upaya Khusus (Upsus) Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab) di tahun 2017. Dari jumlah tersebut, ditargetkan keberhasilan sapi bunting mencapai 70 persen atau sekitar 96 – 98 ribu ekor sapi betina produktif.

Kepala Disnakeswan NTB, drh. H. Aminurrahman, M.Si menjelaskan program Upsus Siwab ini sendiri, menggunakan teknologi inseminasi buatan dengan cara memasukkan sperma  jantan ke dalam rahim sapi betina. Teknik tersebut diyakini mampu menambah jumlah populasi sapi yang berkualitas.

Iklan

Menurut Aminurrahman,  inseminasi buatan akan ditargetkan kepada sapi yang dipelihara dengan sistem kandang. Artinya, target jumlah sapi yang diinseminasi bukan didasarkan oleh ketersediaan indukan yang lebih banyak di satu daerah. Namun dilihat dari sapi yang dipelihara dengan sistem kandang.

Oleh karena di Pulau Lombok, mayoritas sapi dipelihara dengan sistem kandang, maka target inseminasi juga semakin banyak yakni 115 ribu ekor. “Di lombok lebih banyak 115 ribu, karena sudah lebih dulu mempraktekkan teknik inseminasi buatan.  Sumbawa hanya 10 persen yang dikandangkan. Jadi sekitar 25 ribu ekor targetnya,” ungkapnya, Kamis, 23 Februari 2017.

Menurutnya, sistem kandang dinilai penting agar dapat memonitor tingkat birahi sapi betina. Sehingga petugas inseminator dapat melakukan inseminasi secara tepat.

Dalam upaya memaksimalkan program ini, pihaknya akan mengintensifkan peran petugas inseminator dalam memantau status reproduksi bagi indukan sapi yang akan menerima inseminasi.

“Sehingga inseminator harus tau wilayah dan ruang kerjanya masih-masing,” katanya.

Saat ini, terdapat sekitar 210 petugas inseminator. Jumlah tersebut untuk sementara dinilai cukup. Dan akan dilakukan penambahan jika diperlukan dalam waktu dekat.

Selain itu, hal yang perlu diperhatikan ialah kebutuhan nitrogen cair untuk mengamankan sperma yang telah diolah menjadi semen beku sebagai media utama dalam proses inseminasi buatan.

Terakhir, evaluasi terhadap tim pelaksana, koordinasi dan tim di lapangan juga terus dilakukan agar target program tersebut dapat terealisasi.

“Kalau sudah bunting sapi itu, akan kita intensifkan lagi, dikasih asupan suplemen agar tidak keguguran,” pungkasnya. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here