129 Anak Terpapar Covid-19 di Mataram

Sejumlah anak – anak bermain di sekitar kompleks perumahan, Minggu, 24 Januari 2021. Sebanyak 129 anak di Mataram terkonfirmasi positif Covid-19. Orangtua memiliki tanggungjawab untuk melindungi anak – anak dari ancaman wabah virus corona. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Jumlah anak di Mataram terpapar virus corona terus mengalami peningkatan. Masifnya penularan dikhawatirkan menimbulkan efek negatif pada perkembangan anak. Mobilitas keluar rumah perlu dikurangi. Orangtua harus memiliki rasa tanggungjawab melindungi anak dari ancaman wabah.

Data Dinas Kesehatan Kota Mataram tanggal 20 Januari menunjukkan, jumlah anak terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 129 orang. Dua orang di antaranya meninggal dunia. Anak yang terpapar virus corona usia rentan di bawah 1 tahun sebanyak 13 orang. Usia 1-4 tahun sebanyak 21 orang. Usia 5-9 tahun sebanyak 19 orang. Usia 10-14 tahun sebanyak 26 orang. Dan, usia 15-19 tahun 50 orang.

Iklan

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, Dra. Hj. Dewi Mardiana Ariany prihatin semakin bertambahnya jumlah anak yang terpapar virus corona. Peningkatan kasus tidak terlepas dari aktivitas atau mobilitas orangtua, sehingga aktivitas keluar rumah itu perlu dikurangi demi mengurangi risiko terpapar Covid-19. “Saya kira cukup belajar lewat daring dan luring diperbanyak. Jangan sampai anak banyak keluyuran keluar rumah,” kata Dewi dikonfirmasi pekan kemarin.

Pergerakan jumlah kasus terus meningkat sangat mengkhawatirkan. Menurut Dewi, kemampuan orangtua dibutuhkan untuk melindungi putra – putri mereka. Untuk pencegahan maupun penanganan tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke pemerintah atau dalam hal ini tim gugus tugas. Perlu kesadaran orangtua melindungi anak dan keluarga mereka. Minimal mengurangi pergerakan keluar rumah serta menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Ndak cukup hanya diserahkan ke tim gugus tugas saja. Orangtua juga berkewajiban melindungi anak – anaknya,” katanya mengingatkan.

Bagi anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 diberikan bantuan berupa vitamin serta kebutuhan lainnya. Sosialisasi secara langsung tentang bahaya virus corona tidak bisa dilakukan, karena mengumpulkan orang dalam jumlah banyak agak susah.

Apakah banyaknya anak terkonfirmasi positif Covid-19 akibat kelalaian orangtua? Dewi menegaskan, hal itu salah satu pemicu. Contohnya, mobilitas orangtua tinggi dengan menyertakan anak tentunya berisiko. Sementara, bahaya virus terus mengintai. Kasus pasien Covid-19 paling banyak adalah orang tanpa gejala. “Kita tidak tahu orang kesehatan sehat justru bisa menularkan virus. Ini yang berbahaya,” demikian kata dia. (cem)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional