12 Hakim dan Pegawai Positif Covid-19, Pengadilan Negeri Mataram Ditutup Sementara

Seorang warga membaca papan pengumuman penutupan sementara di pintu gerbang gedung Pengadilan Negeri Mataram, Rabu, 3 Maret 2021. Pengadilan Negeri Mataram menerapkan kebijakan lockdown setelah 12 hakim dan pegawai terpapar Covid-19.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Pengadilan Negeri Mataram menerapkan kebijakan penguncian sementara alias lockdown selama pekan ini. Hal ini imbas dari sejumlah hakim dan pegawai yang terpapar Covid-19. Sebanyak 86 perkara terpaksa ditunda persidangannya. “Ada 12 orang hakim dan pegawai yang terpapar Covid-19,” ungkap Juru Bicara Pengadilan Negeri Mataram Theodora Uskupan dikonfirmasi Rabu, 3 Maret 2021.

Penutupan sementara persidangan dan pelayanan Pengadilan Negeri Mataram berlaku mulai kemarin. pelayanan baru dibuka kembali pada Senin, 8 Maret 2021. “Lockdown ini sejak hari Rabu ini. Hari senin aktivitas kembali seperti biasa,” jelasnya. Dia menjelaskan, mereka yang terinfeksi Covid-19 ini ada beberapa diantaranya yang sudah menjalani isolasi mandiri. Kondisi kesehatan beragam namun tidak ada yang sampai parah.

Iklan

“Ada yang tanpa gejala, ada yang sudah membaik kemudian dimintai karantina mandiri di rumah masing-masing. Semuanya di bawah pengawasan RSUD Kota Mataram,” kata Theo. Semua hakim dan pegawai, sambung dia, sudah diteluri riwayat kontaknya. Sampai kini yang terkonfirmasi positif Covid-19 hanya 12 orang saja. Sementara sumber penularannya belum diketahui. Apakah dari pengunjung sidang, peserta sidang, atau pegawai yang melakukan perjalanan ke luar daerah sebelumnya.

“Ini kan virus ya. Kita tidak bisa menebak dari si A, si B, dan si C. Begitu imun turun, kita cepat terserang. Harapan ke depan semoga semuanya lekas sembuh,” terangnya. Theo menegaskan, pihaknya akan mengevaluasi kembali penerapan protokol kesehatan di lingkungan pengadilan. Meskipun dia meyakini pihaknya sudah sangat ketat. Diantaranya, penyediaan tempat mencuci tangan, pemasangan tanda jaga jarak pada tempat duduk ruang sidang dan ruang terbuka, serta mewajibkan masker di dalam lingkungan gedung pengadilan.

“Tentunya pasti tetap itu protokol kesehatan karena itu salah satu cara perlindungan diri dari virus,” kata Theo. Dampak dari lockdown ini, sambung dia, sejumlah perkara tertunda persidangannya. Data dihimpun dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara PN Mataram, jumlah sidang yang tertunda pada Rabu, 3 Maret 2021 sebanyak 54 perkara dan pada Kamis ini 32 perkara.

 Meski demikian tidak ada kepentingan baik terdakwa maupun jaksa penuntut umum yang terganggu. “Tidak ada yang masa penahanannya habis. Perkara yang ditunda ini dialihkan ke minggu depan. Tidak ada hambatan. Tidak ada kendala apa-apa. Kebijakan ini hanya untuk mengurangi agar tidak ada penyebarluasan virus,” tutup Theo. (why)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional