12 Desa di KSB Berpotensi Terdampak Kekeringan

Ilustrasi daerah terdampak kekeringan. (Suara NTB/dok)

Taliwang (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengaku hingga saat ini masih belum menerima laporan dari masyarakat yang terdampak kekeringan. Meski demikian ada sekitar 12 Desa yang sangat berpotensi terdampak kemarau panjang dengan jumlah kepala keluarga  mencapai 2. 660 atau sekitar 10. 084 jiwa.

Kepala pelaksana (Kalak) BPBD kepada Suara NTB melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Hendra Ardiwinata, S. Pd, Selasa, 14 Juli 2020 mengatakan, memang hingga saat ini KSB masih belum mengalami krisis air bersih karena sumur-sumur warga masih bisa dimanfaatkan. Sebab sampai saat ini belum ada satupun desa yang datang melapor untuk diberikan air bersih. Meskipun demikian, pihaknya tetap akan intens turun ke masyarakat, terutama daerah pesisir yang dianggap sangat rawan terjadi kekeringan. Apalagi ada sekitar 12 Desa yang masuk dalam kondisi rawan kekeringan. “Sekarang kita belum mengalami musim kering karena belum ada laporan yang masuk dari desa,” ujarnya.

Iklan

Kendati demikian, terdapat tiga kecamatan yang dianggap rawan terjadi bencana kekeringan. Seperti Kecamatan di Poto Tano dengan total ada enam desa  dengan jumlah keluarga terdampak mencapai 1.210 KK. Di Kecamatan Seteluk ada sekitar empat desa dengan jumlah KK terdampak mencapai 942 dan Kecamatan Taliwang sebanyak tiga desa dengan jumlah KK 508. Sedangkan untuk kecamatan Jereweh, hanya satu desa yakni desa Dasan Anyar.

“Desa- desa ini selalu menjadi langganan tiap tahunnya karena lokasinya yang berada di ketinggian serta berada di pesisir. Kita juga tetap akan pantau kondisi terkini di lokasi itu,” sebutnya.

Seraya mengatakan, kondisi musim kering yang akan terjadi di KSB juga diprediksi tidak akan berdampak signifikan. Hal tersebut terjadi karena pada dasarnya wilayah setempat masih menjadi daerah yang cukup subur, sehingga persedian air bersih masih mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Tetapi untuk beberapa lokasi khususnya pesisir, memang akan menjadi perhatian guna meminimalisir masalah ini. Bahkan saat ini BPBD sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp200 juta untuk mengintervensi dampak tersebut.

  NTB Masih Butuh Air Bersih 153 Juta Liter

“Kita daerahnya masih subur, sehingga kebutuhan air bersih masih bisa tercukupi secara mandiri. Sedangkan untuk daerah pesisir, kita tetap akan memberikan perhatian serius sehingga tidak ada masyarakat yang kekurangan air bersih,” tukasnya. (ils)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here