11.843 Orang Pekerja NTB Berangkat ke Luar Negeri

Mataram (Suara NTB) – Selama lima bulan ditahun 2018 ini, sebanyak 11.843 pekerja NTB berangkat ke luar negeri. Umumnya mereka adalah pekerja kasar. Jumlah yang berangkat ini, berdasarkan data resmi, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Tahun 2017, hanya 20.000 orang yang berangkat sebagai pekerja migran, tahun ini animonya lebih tinggi, kata Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Mataram, Joko Purwanto di ruang kerjanya, Jumat, 8 Juni 2018.

Iklan

Menurut Joko, faktor penting yang mengakibatkan peningkatan animo pekerja migran berangkat secara legal ini, dipengaruhi terpenuhinya fasilitas pendukung pemberangkatan. Yang dimaksudnya, Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) yang tersebar di Kota Mataram, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Sumbawa.

Di LTSA ini, sambung Joko, seluruh kebutuhan dokumen calon pekerja migran ini dapat diselesaikan di satu tempat. Dari cek kesehatan, dokumen pencatatan sipil, asuransi, hingga paspor.

“Sebelumnya LTSA hanya ada di Mataram, bisa jadi itu yang membuat masyarakat merasa kerepotan dan lebih memilih jalur tidak resmi untuk berangkat. Sekarang tidak,” demikian Joko.

Masih menurutnya, sebanyak pekerja migran yang ada di data miliknya, berangkat menuju Malaysia, kemudian Saudi Arabia yang paling banyak. Menyusul negara-negara asia pacifik lainnya. Taiwan, Hongkong.

“Kalau yang berangkat secara ilegal, kita tidak tau datanya. Karena mereka berangkat dengan tidak tercatat,” ujarnya.

Lalu begitu juga dengan yang dipulangkan. Untuk ini, Joko khusus membahas pekerja migran yang bermasalah. Sebanyak 575 orang yang dibantu difasilitasi. 10 persen diantaranya adalah pekerja migran yang berangkat secara prosedural. 10 persen ini, umumnya karena tak merasa kerasan, atau yang dipulangkan karena sakit.

Sementara jenazah, selama lima bulan ini, 27 jenazah yang BP3TKI telah bantu pemulangannya hingga ke tanah kelahirannya. Rata-rata yang meninggal di Malaysia dan Saudi Arabia. Penyebab meninggal karena sakit, ataupun yang meninggal karena kecelakaan kerja.

Untuk meminimalisir jumlah tenaga kerja non prosedural ini, BP3TKI mengambil langkah-langkah strategis. Antara lain, bekerjasama dengan seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda untuk mengingatkan masyarakat sekelilingnya agar menjadi pekerja migran yang difasilitasi pemberangkatannya secara resmi oleh pemerintah. Lalu bekerjasama dengan DPR RI untuk melakukan hal yang sama, sosialisasi kepada masyarakat kantong-kantong TKI.

BP3TKI juga bekerjama dengan kampus, dalam hal ini sementara kerjasama dimaksud dengan IAIN Mataram. Mahasiswa-mahasiswa yang melaksanakan KKN tematik, juga dijadikan corong untuk bersosialisasi kepada masyarakat. (bul)