1.768 Balita di Lobar Berpotensi Gizi Buruk

Giri Menang (Suara NTB) – Hasil Sensus yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dikes) terdapat 2,81 persen atau setara 1.768 balita dari 65.068 balita di Lombok Barat (Lobar) berada di Bawah Garis Merah (BGM), artinya berpotensi mengalami gizi buruk jika tak ditangani serius. Dari 65 ribu lebih balita ini jumlah balita yang sudah mengalami gizi buruk sedikit hanya 0,12 persen atau 76 balita.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lobar Rahman Sahnan Putra yang ditemui di Narmada, menjelaskan, jumlah balita yang BGM dari 2,8 persen kalau diturunkan menjadi angka mutlak hanya sekitar 1.768 balita. Kalau diturunkan lagi untuk data per dusun, dengan jumlah dusun di Lobar mencapai 800 dusun lebih, maka jumlah balita BGM per dusun hanya dua balita. Menurutnya, jika dibandingkan angka di tingkat nasional jumlah gizi buruk sangat tinggi mencapai mencapai 3 persen lebih.

Iklan

Untuk menangani balita gizi buruk dan BGM ini, Dinas Kesehatan (Dikes) Lobar meluncurkan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi menuju Lobar Bebas  Gizi Buruk atau disingkat Gemadazi. Gerakan ini dimulai akhir tahun ini untuk mengantisipasi seluruh kejadian gizi buruk di Lobar.

Untuk melaksanakan gerakan ini, pihaknya melakukan penguatan sistem melalui e-puskesmas, e-pustu dan e-poskesdes hingga e-posyandu. Penguatan sistem ini, jelasnya, bakal selesai sekitar bulan Februari tahun depan.

Melalui sistem ini, jelasnya, masyarakat yang mau melihat data di puskesmas cukup membuka aplikasi tersebut, baik menyangkut data jumlah kunjungannya, jumlah kasus, jumlah balita yang BGM dan gizi buruk hingga jumlah antrean pasien. “Perkembangan program ini bakal dipantau ketat,” jelasnya.

Program ini, lanjutnya yang akan memperkuat Gemadazi. Untuk memperkuat sistem ini, pihaknya bekerjasama dengan Telkom, pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan, didukung oleh Global Fam serta tim IT Dikes. Penguatan sistem ini, jelasnya, pihaknya telah menyiapkan perangkat lunak dan perangkat kerasnya. Di samping itu pihaknya melatih para petugas medis, salah satunya dibuat kebijakan satu ahli gizi bakal melayani dua desa. Sehingga dua desa akan dipantau oleh satu ahli gizi. Pihaknya sendiri sudah merekrut 61 tenaga ahli gizi yang akan memantau semua desa di Lobar. “Mereka secara intens memantau ibu hamil, ibu melahirkan dan balitanya,” ujarnya.

  Bupati Lobar Bakal Evaluasi Jajaran Direksi PDAM

Di samping itu, salah satu upayanya melatih istri kadus dan kader di dusun bagaimana cara pemberian makan kepada bayi dan anak yang baik serta paling utama memberi pembinaan ke orang tua terkait pola asuh anak.  Ia mengklaim, jika gerakan melalui sistem aplikasi ini terlaksana di seluruh Lobar, maka ini pertama di Indonesia.

Sementara itu, Bupati Lobar H. Fauzan Khalid menyambut baik Gemadazi yang diluncurkan oleh Dikes. Karena itu, ia pun meminta Dikes melaksanakannya secara maksimal, sebab terkait persoalan gizi buruk ini masalah pola hidup dan ini perlu disosialisasikan melalui lembaga terkait. Untuk jangka panjangnya, menggalakkan anti merarik kodeq, sebab nikah dini ini menjadi salah satu penyebab balita gizi buruk. Melalui gerakan ini jelasnya, konteksnya melakukan penanganan mulai dari hulu. “Kita juga rencananya tahun depan intervensi anak-anak SMP dan SMA tambah darah. Sebab Lebih dari 40 persen perempuan SMP dan SMA serta madrasah itu mengalami anemia (kurang darah) itu juga diintervensi terkait penyelesaian kasus gizi buruk dari hulu,” jelasnya.

Di samping dari hulu, penanganan hilir seperti perawatan balita gizi buruk juga tetap berjalan. Namun perlu diselesaikan dari hulu, khususnya menyangkut kesadaran anti menikah usia dini. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here