“Menetasnya” Festival Jazz di Lombok

Giri Menang (Suara NTB) – Akhir pekan kemarin akan tercatat dalam sejarah perkembangan musik – khususnya jazz – di NTB. Sebab, saat itulah untuk kali pertama digelar konser International Jazz & World Music Festival yang menghadirkan perpaduan kaya warna musik jazz dengan berbagai varian musik lainnya dari berbagai belahan dunia.

Beragam jenis dan warna musik yang berpadu dengan musik jazz ditampilkan untuk khalayak diPesona Senggigi International Jazz & World Music Festival, Sabtu (20/8) dan Minggu (21/8).Terselenggaranya kegiatan ini merupakan buah dari komitmen para pencetus ajang festival berkelas dunia tersebut.

Iklan

“Jazz & World Music (JWM,red) Festival ini sebenarnya merupakan janji hati rekan – rekan disini untuk melaksanakannya. Pokoknya, 2016 ini kita harus ‘pecah telur’ JWM ini. Kalau 2017, takutnya nanti jadi telur busuk,” cetus Ais Mashoud, Direktur Manajemen sekaligus penanggung jawab festival ketika diwawancara, Sabtu (20/8/2016) malam.

Selama Agustus ini, sejumlah perhelatan jazz digelar di berbagai daerah di Indonesia. Diantaranya, Prambanan Jazz Festival di Jogjakarta, Bromo Jazz Festival di Jawa Timur dan Jack Jazz Festival di Ubud, Pulau Bali. Sejumlah festival jazz yang terselenggara baik di Pulau Bali maupun Jawa berlangsung pada bulan yang sama.

“Kita memilih Agustus sebagai waktu penyelenggaraan, bukan karena ngikut teman – teman yang di Jawa. Tapi ini lebih lebih karena momennya sedang peak season. Makanya, apapun yang terjadi, ada tidak adanya dukungan pemerintah, show must go on,” imbuhnya.

Festival tersebut ia harap dapat mewadahi serta menjembatani karya – karya musisi lokal. Tujuannya agar karya yang dilahirkan musisi di daerah ini dikenal penduduk dunia. Banyak karya pelaku kesenian di daerah ini yang potensial memikat kunjungan wisatawan.

“JWM ini kita harap menjadi kemasan global terhadap konten – konten musik lokal. Ini menjadi wadah apresiasi, bahwasanya banyak karya teman – teman lokal yang potensinya tinggi. Dan mudah – mudahan, ini bisa menjadi magnet yang memikat ketertarikan orang untuk datang kemari,” bebernya.

Sebelumnya, Bupati Lombok Barat (Lobar) H. Fauzan Khalid, S.Ag, M.Sisaat diwawancarai usai membuka festival tersebut menyatakan, festival tersebut menjadi ikon baru dalam industri pariwisata. Khususnya di kawasan setempat, festival yang menghadirkan warna – warni musik dunia dari berbagai negara itu merupakan hasil evolusi dari perkembangan Festival Senggigi.

“Ini ikon baru pariwisata kita. Ya mudah – mudahan, kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap dunia pariwisata kita. Ini merupakan wujud Festival Senggigi sebagaimana yang telah terselenggara sebelum – sebelumnya,” tegas Fauzan Khalid.

Monumental

Tidak sedikit karya monumental yang ditampilkan para musisi di panggung JWM. Salah satu karya yang paling memikat yakni ciptaan Ary Juliyant. Musisi balada ini menampilkan karyanya yang berjudul Survival. Musikalitas karyanya yang bernuansa blue grass tersebut dikomposisi dengan lima bahasa dalam syairnya.

“Ada bahasa Prancis, Dayak, Spanyol, Bahasa Indonesia dan arab. Ceritanya, hal – hal yang musti perjuangkan di dunia ini banyak. Istilahnya, saya ingin meyakinkan bahwa, kita harus tetap optimis, survive,” jelasnya usai manggung.

Selain itu, beberapa musisi asal NTB juga tampil dengan memukau di panggung jazz yang terbagi tiga itu. Kelompok pemusik orkestra yang memainkan alat music gesek, juga turut membangun suasana meriah. Sejumlah wisatawan asing, terkesan menikmati hiburan yang dihidangkan tersebut.

General Manager Hotel Jayakarta, Chery Abdul Hakim ketika berkunjung ke lokasi acara mengatakan,  banyak tamu yang menginap di hotelnya memperpanjang lama tinggal mereka.Syukurnya, koordinasi antara pihak perhotelan dengan penggagas festival berjalan dengan baik. Itu sebabnya, para pelaku pariwisata, khususnya dari pihak perhotelan lebih leluasa dalam mempromosikan kegiatan tersebut.

“Koordinasi kita bagus. Jadi banyak wisatawan asing tertarik datang kemari karena adanya kegiatan ini. Tamu – tamu saya juga tidak sedikit yang memperpanjang length of stay mereka,” bebernya.

Agenda Tahunan

Event Jazz & World Music tersebut digadang untuk ditetapkan sebagai agenda tahunan. Kegiatan yang tidak terpisah dengan industri kepariwisataan itu, rencananya akan diselenggarakan secara terjadwal dan tetap pada momentum yang sama. Melihat riwayat penggodokannya, festival berskala internasional itu telah dipersiapkan sejak akhir tahun 2015 lalu.

Persiapan menuju JWM yang bertajuk Sound Of Senggigi tersebut pertama – tama dilakukan dengan kegiatan penyambutan sanggar. Sejumlah sanggar, khususnya sanggar seni tradisi disambut agar tampil di panggung milik Bandini Coffie. Owner Bandini, Imam Sofian yang juga penggagas festival memiliki harapan yang sama dengan Bupati Lobar. Mereka sama – sama mengharap, event tersebut dapat menjadi ikon baru industri pariwisata.

“Kita memulainya dengan agenda sambut sanggar. Jadi setiap sanggar kita undang untuk tampil. Dari penampilannya itu, kita permak kira – kira bagian mana yang perlu dikurangi atau ditambah. Karena mereka akan tampil di panggung internasional dan akan disaksikan penduduk mancanegara,” ujarnya ketika diwawancara.

Terlepas dari berbagai persiapan yang telah dilakukan, kesuksesan yang diraih pada penyelenggaraan perdana festival jazz tersebut merupakan hasil kerja kolektif bersama sejumlah pihak. Suksesnya kegiatan yang berlangsung di senggigi tersebut membuktikan bahwa pelaku industry ekonomi kreatif di daerah ini memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar global. Tahun depan, agenda yang melibatkan para pelaku seni dari negeri asing itu diharapnya terselenggara lebih meriah lagi. (met)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here