“Cera Labu” dan Festival Lawa Ramaikan Festival Pesona 2017

Dompu (Suara NTB) – Doa selamatan laut atau dikenal dengan sebutan ‘Cera Labu’, merupakan acara sakral masyarakat pesisir untuk meminta keselamatan dan diberi limpahan rejeki dari hasil laut. Ritual ini dilakukan pada waktu – waktu tertentu, khususnya ketika hasil laut yang didapat para nelayan semakin berkurang. Kini acara Cera Labu tidak lagi sesakral tempo dulu, namun didesain sebagai event pariwisata yang bersifal global dan hiburan.

Kegiatan Cera Labu, Selasa, 4 April 2017 sebagai bagian dari kegiatan Festival Pesona Tambora (FPT) tahun 2017 juga dirangkaikan dengan Festival Lawa. Lawa sendiri merupakan ikan mentah yang telah diproses dan menjadi makanan khas masyarakat pesisir Soro Kecamatan Kempo. Festival Lawa Soro ini merupakan pertama kali diadakan dan dilombakan diantara warga setempat.

Iklan

Kegiatan Cera Labu dan Festival Lawa di Soro ini dihadiri langsung oleh Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin dan wakil Bupati Dompu, Arifuddin, SH. Hadir juga Dandim 1614/Dompu, Letkol CZI Arif Hadiyanto, SIP, Kapolres Dompu, AKBP Jon Wesly Aryanto, Sik, Ketua PN Dompu, Tony Widjaya Hansberd Hilly, SH dan sejumlah kepala Dinas/Instansi lingkup pemerintah Kabupaten Dompu.

Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin saat menikmati lawa pada acara festival lawa di Desa Soro Kecamatan Kempo, Selasa, 4 April 2017.

Kedua event yang dilangsungkan bersamaan ini mendapat apresiasi, kendati masih banyak kekurangan untuk dibenahi kedepan sebagai sebuah event pariwisata. Kendati demikian, sejumlah pejabat yang ikut dalam event ini cukup menikmati kegiatan bersama warga dan ditandai dengan kesediaannya disiram usai ritual Cera Labu. Bahkan Bupati yang memulai saling siram antar pejabat, karena para pejabat tidak ikut sampai selesai ritual Cera Labu ke dalam laut.

Cera Labu sendiri merupakan doa selamatan laut yang menjadi kebiasaan masyarakat pesisir pantai, khususnya masyarakat Soro Kecamatan Kempo. Beberapa ritualnya terdapat paham animisme seperti pemberian sesajian berupa kepala kerbau yang bertanduk ke dasar laut di Toro Ruma. Selain kepala kerbau, juga disertakan beberapa buah dan makanan. Sesajian ini ditempatkan di tempat khusus yang dihiasi dengan kain kuning. Selama belum dimasukan ke dasar laut, sesajian ini dipukulkan gendang dan diarak keliling kampung sebelum dinaikan ke perahu untuk diatar ke dasar laut.

Usai pengantaran sesajian, nelayan yang menaiki perahu pun saling siram satu sama lain dengan air laut sebagai rasa gembira. Saling siram antar penumpang perahu juga berlanjut sampai di daratan. Sehingga tidak heran, para pengguna jalan menjadi sasaran saling siram warga.

Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin pada kegiatan Cera Labu dan festival Lawa mengajak masyarakat Soro khususnya dan Kecamatan Kempo umumnnya untuk selalu mensyukuri nikmat yang ada. Rasa syukur atas apa yang telah didapat, juga harus mau berbagi dengan sekitar. Karena pada apa yang didapat juga terdapat hak orang lain, termasuk tetangga yang tidak mampu.

Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin dan Wakil Bupati Dompu, Arifuddin, saat disambut pada acara Cera Labu dan Festival Lawa.

H. Bambang juga mengungkapkan, ada perubahan pola nelayan Soro. Mereka yang memiliki bagan tetap mencari ikan, tapi nelayan di bawahnya justru kini menjadi pengusaha. Mereka tidak lagi memancing ikan, tapi justru membeli ikan hasil tangkapan nelayan di Labuhan Jambu Kecamatan Tarano Sumbawa dan ada juga yang beralih menjadi petani jagung. “Apapun pilihan pekerjaan, yang terpenting baik dan bisa memberi hasil yang lebih baik,” katanya.

Bupati yang menyelesaikan pendidikan di SMPN 1 Kempo ini juga mengaku, Lawa merupakan lauk khas masyarakat Soro yang dioleh dari ikan segar pilihan dan tidak dimasak. Lauk ini sering dikata – katai untuk anak sekolah asal Soro dan ternyata, di zaman modern ini makanan sejenis Lawa sebagai makanan sehat dan cukup mahal di restauran Jepang. “Makanan ikan mentah di zaman modern ini ternyata sebagai makanan yang sehat dan menambah kecerdasan anak yang menkonsumsinya. Di Jepang, makanan ikan mentah ini merupakan makanan faforit dan dijual mahal. Sehingga tidak heran, warga Jepang usianya cukup tua,” ungkapnya.

Festival lawa kata H Bambang, dimaksudkan untuk mendorong tumbuh kembangnya industri makanan. Ia pun berharap agar lawa tidak hanya difestivalkan, tapi diinisiasi menjadi salah satu pilihan menu makanan yang bisa dijual di rumah makan. “Saya berharap kedepan ada rumah makan yang menyajikan lawa sebagai ikan khasnya. Bisa juga pada acara puncak festival pesona Tambora disajikan warung makan dan lawa sebagai lauknya,” tawar H Bambang.

Camat Kempo, Lukman, BA pada kesempatan yang sama mengatakan, pada tahun ini festival lawa dilombakan dan dinilai untuk penentuan juara. Namun kedepan, lawa akan disajikan secara gratis untuk bisa dinikmati tamu undangan dalam rangka mempromosikan lawa sebagai makanan yang sehat dan bergizi tinggi. “Kita targetkan tahun depan, lawa akan disajikan gratis sehingga masyarakat Dompu bisa menikmatinya,” kata Lukman. (ula/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here