‘ATM’ Sabu Bandar Abiantubuh

Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam menunjukkan barang bukti residu poket sabu, Senin, 25 Maret 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Bandar besar sabu di Abiantubuh, Cakranegara digerebek. Target berinisial W kabur. Sementara barang bukti setara 120 poket sabu ludes dibakar. Bandar yang menjajakan narkoba dengan sistem ATM ini kehilangan lapaknya diobrak-abrik polisi. Dua kurirnya ditangkap.

Penjualan sabu serupa pengoperasian mesin ATM ini sudah berjalan tiga tahun belakangan ini. Pembeli datang dengan menyetor uang melalui sebuah lubang. Seketika juga paket sabu keluar dari lubang lainnya sesuai nilai pembayaran.

Iklan

Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam menjelaskan rumah di Taman Mayura, Abiantubuh Utara, Cakranegara Selatan Baru, Cakranegara ini diduga khusus disiapkan untuk bertransaksi narkoba.

“Memang untuk transaksi narkoba secara besar-besar. Mereka sudah siapkan seperti benteng. Ada juga CCTV untuk memantau pembeli dan petugas,” ucapnya didampingi Kasatnarkoba AKP Kadek Adi Budi Astawa.

Dari penggerebekan juga didapati uang tunai Rp38 juta yang diduga hasil transaksi narkoba. Yang tunai dipisah dalam pecahan ribuan, sampai Rp100 ribu-an. Dipisah menurut kardus dan ada yang disisihkan dalam kotak amal.

“Uang itu diduga disisihkan sebagian untuk menyumbang kegiatan sosial masyarakat setempat, seperti misalnya kalau ada orang meninggal atau hajatan lain,” papar Alam.

Hilangkan Jejak Barang Bukti

Dari penggerebekan, sebanyak tiga orang diamankan. Mereka antara lain, BY alias MG (47), WC alias WK (27), dan GN alias GY (17). Dua tersangka disebut pertama membakar barang bukti ketika polisi datang.

Sebanyak 120 poket sabu dibuang ke dalam bak cuci. MG dan WC lalu mengambil tabung elpiji 3 kg yang sudah dimodifikasi menyembur barang bukti sabu itu dengan api. Hal itu diperkuat dengan hasil Labfor residu pembakaran.

“Diperkirakan sabu itu beratnya 1 ons. Artinya kita mencegah sekitar 500 orang dari penyalahgunaan narkoba,” ucap Kapolres.

Para tersangka itu merupakan anak buah buronan berinisial W, yang ditugasi untuk berjaga saat itu. Mereka menerapkan sistem jaga yang bergantian setiap delapan jam. “Bandarnya ini atau yang diduga pemilik barang masih kita cari,” tutup Alam. (why)