Suara NTB » News » Lombok Barat » Pasokan Obat-obatan Minim, Warga dan Balita Korban Gempa Mulai Diserang Penyakit
Pasokan Obat-obatan Minim, Warga dan Balita Korban Gempa Mulai Diserang Penyakit Pasokan Obat-obatan Minim, Warga dan Balita Korban Gempa Mulai Diserang Penyakit
DIRAWAT - Warga yang dirawat di pengungsian sudah mulai diserang penyakit. Mereka membutuhkan bantuan obat-obatan dan pemeriksaan dari tenaga medis. (Suara NTB/her)
Giri Menang (Suara NTB) – Para korban gempa yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian mulai diserang penyakit, berupa demam, batuk dan pilek. Kondisi ini... Pasokan Obat-obatan Minim, Warga dan Balita Korban Gempa Mulai Diserang Penyakit

Giri Menang (Suara NTB) – Para korban gempa yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian mulai diserang penyakit, berupa demam, batuk dan pilek. Kondisi ini dipicu akibat mereka tinggal di lokasi pengungsian dengan perlengkapan seadanya. Cuaca panas saat siang hari dan dingin pada malam hari juga memicu warga mudah terserang penyakit. Selain itu, tim medis tidak pernah turun ke lokasi-lokasi pengungsian terutama di persawahan dan perkebunan.

Seperti di tenda-tenda pengungsi yang tersebar di Kecamatan Batulayar tidak hanya diisi oleh orang dewasa dan orang tua, tapi juga anak-anak dan balita (bawah lima tahun). Dari data yang dihimpun di Posko Kecamatan Batulayar terdapat 6.918 anak dan balita berada di kamp pengungsian. Dari 9 desa yang ada di Kecamatan Batulayar, Desa Sandik dan Desa Senteluk yang terbanyak pengungsi balitanya.

Dari pantauan di lapangan kondisi para balita tersebut sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di bawah terpal yang suhunya panas dan kekurangan air minum. Sebagian dari balita ini mulai menderita batuk pilek akibat debu-debu yang beterbangan. “Anak saya batu pilek sejak kemarin. Mungkin karena debu,” ujar Siti Maesaroh, ibu dari balita yang tinggal di kamp pengungsi di Dusun Loco Desa Senggigi.

Maskur, salah seorang pengungsi juga menuturkan, selain ancaman debu, pada malam harinya anak-anak mereka sangat kedinginan. Mereka hanya berselimut menggunakan sarung yang biasa dipakai salat oleh orang tuanya. Untuk itu ia berharap agar dapat diberikan bantuan selimut agar anak-anaknya bisa tetap sehat.

Hal serupa dialami warga Dusun Terep Desa Bug-Bug Kecamatan Lingsar. Di wilayah ini terdapat sejumlah tenda-tenda pengungsian yang juga dihuni balita yang baru dilahirkan, anak-anak. Seperti diakui Mujib Ketua RT 2 dusun setempat, saat ini warganya terutama balita dan bayi serta anak-anak butuh makanan bayi dan popok. “Kami butuh obat-obatan, karena sejauh ini minim sekali pasokan obat-obatan dan tim medis turun ke sini,” tutur Mujib.

Saat ini kondisi para pengungsi sudah mulai diserang penyakit, kebanyakan mereka mengalami demam dan dingin karena tidur di terpal. Sementara selama hampir lima hari mengungsi belum pernah tim medis dari kesehatan turun ke lokasi.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Lobar H. Rachman Sahnan Putra mengakui dalam hal penanganan korban gempa ada beberapa kendala, yakni mengunjungi tempat pengungsian, sebab jumlah titik pengungsian warga sangat banyak. Per satu wilayah kerja puskesmas mencapai 30-40 titik dengan jumlah puskesmas di Lobar 19. Sementara jumlah tenaga medis terbatas. Karena itulah pihaknya meminta dari pihak yang membantu agar memperbanyak bantuan dokter dan para medis. Selain itu pihaknya meminta bantuan dari Yayasan Rumah Zakat Nasional yang memiliki tenaga medis untuk membantu korban gempa. (her)

BERITA TERKAIT :

Tidak ada komentar sejauh ini.

Jadilah yang pertama untuk meninggalkan komentar di bawah ini .

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *