Suara NTB » News » Headline » Silpa Besar, Perencanaan Pemda Kurang Matang
Silpa Besar, Perencanaan Pemda Kurang Matang Silpa Besar, Perencanaan Pemda Kurang Matang
Kepala Kanwil DJPB NTB, Taukhid (Suara NTB/nas)
Mataram (Suara NTB) – Besarnya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) APBD NTB 2017 dapat mengindikasikan adanya permasalahan dalam perencanaan. Jika realisasi belanja lebih rendah... Silpa Besar, Perencanaan Pemda Kurang Matang

Mataram (Suara NTB) – Besarnya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) APBD NTB 2017 dapat mengindikasikan adanya permasalahan dalam perencanaan. Jika realisasi belanja lebih rendah daripada pendapatan maka ada indikasi perencanaan Pemda kurang matang.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) NTB, Taukhid, SE, M. Sc. IB, MBA mengatakan, Silpa merupakan selisih antara pendapatan dengan pengeluaran. Silpa ada yang positif dan negatif. Silpa yang diakibatkan realisasi pendapatan yang melebihi target atau rencana dalam APBD bersifat positif.

Misalnya, dalam APBD Pemda merencanakan jumlah penerimaan sebesar Rp5 triliun. Setelah pelaksanaan APBD, ternyata realisasinya pendapatan atau penerimaan daerah sebesar Rp5,3 triliun. Kemudian rencana belanja sebesar Rp5 triliun dan  dibelanjakan Rp5 triliun.

‘’Yang tidak benar itu, jika ternyata pendapatannya memang  Rp5 triliun, rencana belanjanya Rp5 triliun. Tetapi  kemudian realisasi belanjanya hanya Rp4,5 triliun. Sehingga tersisa Rp500 miliar jadi Silpa. Berarti ada masalah di perencanaan,” kata Taukhid.

Menurutnya, jika ada yang terjadi seperti itu maka harus dilihat penyebabnya. Bisa saja akibat anggaran yang tidak dapat dibelanjakan karena bencana atau hambatan lainnya.

Baca juga:  Silpa APBD NTB Tembus Rp253 Miliar

Jika anggaran tak bisa dibelanjakan dengan alasan yang wajar, maka tidak masalah menjadi Silpa pada akhir tahun anggaran. Atau ada pengadaan barang  yang dibeli menggunakan mata uang dolar.

Pemerintah sudah menganggarkan dalam APBD, tetapi tiba-tiba nilai kurs dolar melonjak naik. Sementara  uang yang dianggarkan  tak cukup untuk membeli barang tersebut. Sehingga Pemda tak jadi membeli barang tersebut karena uangnya kurang.

Jadi itu yang harus dilihat kalau ada Silpa. Silpa itu penyebabnya apa? Apakah penerimaannya lebih tinggi dari belanjanya. Atau penerimaan dan belanja sesuai rencana, belanjanya yang tidak sesuai rencana?

‘’Kalau ini yang terjadi berarti ada kemungkinan masalah. Seluruh rencana kegiatan tidak terencana dengan baik. Perencanaan kurang matang. Ada juga Silpa akibat efisiensi pengadaan barang dan jasa,’’ ujarnya.

Taukhid mengatakan, jika deviasi Silpa terlalu ekstrem maka dapat menunjukkan terjadinya masalah dalam perencanaan anggaran. Mengenai Silpa APBD NTB 2017 yang menembus Rp253 miliar lebih, Taukhid berharap bukan berasal dari dana transfer yang masuk di akhir tahun anggaran. Pasalnya, jika masuk pada akhir tahun, maka tidak dapat digunakan untuk belanja.

Baca juga:  Silpa APBD NTB Tembus Rp253 Miliar

Diketahui, Silpa  APBD NTB 2017 menembus angka Rp253,17 miliar. Meskipun nilainya cukup besar, Silpa APBD NTB 2017 dikatakan jauh menurun dibandingkan tahun 2016. Silpa APBD NTB 2016 mencapai Rp338,35 miliar lebih. Mengalami penurunan senilai Rp85,17 miliar lebih atau 25,17 persen.

Hal tersebut dikatakan Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH, M. Si saat menyampaikan Raperda Pelaksanaan APBD NTB 2017 dalam rapat paripurna di DPRD NTB, Senin (9/7). Pada kesempatan tersbeut, Wagub mengatakan dari sisi pendapatan, direncanakan senilai Rp5,12 triliun lebih. Realisasinya sebesar Rp5,08 triliun lebih atau 99,25 persen. (nas)

BERITA TERKAIT :

Tidak ada komentar sejauh ini.

Jadilah yang pertama untuk meninggalkan komentar di bawah ini .

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *