Suara NTB » News » Ekonomi » Dampak Pertumbuhan Pariwisata Belum Banyak Dirasakan Masyarakat
Dampak Pertumbuhan Pariwisata Belum Banyak Dirasakan Masyarakat Dampak Pertumbuhan Pariwisata Belum Banyak Dirasakan Masyarakat
Saidi dan L. Agus Sumardi (Suara NTB/nas)
Mataram (Suara NTB) – Sektor pariwisata NTB dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Hal ini terlihat dari realisasi investasi di sektor... Dampak Pertumbuhan Pariwisata Belum Banyak Dirasakan Masyarakat

Mataram (Suara NTB) – Sektor pariwisata NTB dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Hal ini terlihat dari realisasi investasi di sektor pariwisata secara konsisten berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi NTB.

Pada tahun 2017, realisasi investasi sektor pariwisata di NTB menduduki peringkat kedua setelah investasi di sektor pertambangan. Dengan nilai Rp 2,10 triliun lebih atau 21,31 persen dari jumlah investasi yang masuk.

Selain itu, angka kunjungan wisatawan ke NTB juga menembus angka 3,5 juta sampai akhir 2017 berdasarkan data Dinas Pariwisata (Dispar) NTB.

Namun, pertumbuhan pesat sektor pariwisata belum banyak memberikan dampak terhadap masyarakat khususnya perajin atau pengusaha art shop di daerah ini. Sejak 2006 hingga saat ini, para pengusaha art shop mengaku jumlah tamu atau wisatawan yang berkunjung ke pusat-pusat kerajinan di Pulau Lombok semakin sepi.

Salah seorang penjaga Art shop di Pasar Seni Sayang – Sayang Kota Mataram, Saidi saat berbincang dengan Suara NTB, Kamis, 10 Mei 2018 siang mengaku dalam sehari, dua hari bahkan tiga hari kadang tidak ada pengunjung yang datang.

Ia mengatakan, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke NTB sejak lima tahun terakhir tak berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh para pengusaha art shop atau toko-toko kerajinan di daerah ini.

Buktinya, tidak sedikit art shop yang gulung tikar alias tutup. Kondisi minimnya jumlah tamu atau pengunjung bukan saja terjadi di Pasar Seni Sayang – Sayang, tetapi juga pusat kerajinan di Banyumulek, Labuapi, Sesela  dan Jangkuk.

‘’Hampir semua pengusaha art shop merasakan seperti ini (sepi pengunjung). Baik yang ada di Jangkuk, Labuapi, Banyumulek, Sesela sama juga kondisinya. Cuma art shop yang besar-besar aja tetap jalan. Bahkan ada art shop yang nutup. Mana yang besar itu saja yang tetap. Yang punya modal besar saja yang masih  bertahan,’’ ucapnya.

Saidi menceritakan sebelum 2006, banyak tamu atau wistawan yang berkunjung ke art shop yang ada. Biarpun terjadi peristiwa bom Bali pada 2002, Saidi mengaku jumlah tamu tetap ramai.

Ia menyebutkan, dalam sehari tamu yang berkunjung bisa sampai 30 mobil/bus. Bahkan, tamu atau wisatawan kapal pesiar yang singgah di Lembar, dua kali sebulan berkunjung ke Pasar Seni Sayang – Sayang.

“Kalau sekarang ndak tentu tamu yang berkunjung. Kadang satu hari, dua hari ndak ada. Tiga hari ndak ada. Tamunya tidak tetap datang ke sini,’’ ungkapnya.

Ia pun mengatakan tingginya angka kunjungan wisatawan ke NTB seperti yang dikatakan pemerintah daerah mencapai 3,5 juta tahun 2017 belum dirasakan dampaknya bagi pengusaha art shop di Pasar Seni Sayang – Sayang. Sepinya tamu yang datang ke art shop, kata Saidi diduga akibat permainan fee kepada oknum guide. Siapa yang berani memberikan fee yang lebih besar kepada oknum guide maka tamu akan diarahkan ke tempat tersebut. Untuk itu, ia mengharapkan pemerintah daerah mengatur tentang fee guide tersebut.

Di tempat yang sama, salah satu pemilik art shop di Pasar Seni Sayang – Sayang Kota Mataram, L. Agus Sumardi mengatakan hal yang sama. Bahwa sejak beberapa tahun terakhir jumlah pengunjung ke Pasar Seni Sayang-Sayang sudah mulai sepi.

Ia menyebut, sejak 2014, Pasar Seni Sayang – Sayang sudah sedikit tamu yang berkunjung. Meskipun masih ada wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang berkunjung, tetapi jumlahnya sedikit.

Selain perlu pengaturan mengenai fee guide, Agus mengatakan perlu diberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pengusaha art shop untuk mengikuti pameran.

Ia melihat, pemerintah daerah melalui SKPD terkait hanya memberikan kesempatan mengikuti pameran kepada pengusaha–pengusaha yang sudah mapan atau yang sudah maju. Sementara pengusaha-pengusaha art shop skala kecil banyak yang belum dilibatkan. Kalaupun dilibatkan, biaya stand-nya juga cukup mahal. (nas)

BERITA TERKAIT :