Suara NTB » News » Ekonomi » BI Siapkan Rp 3,6 Triliun untuk Kebutuhan Puasa dan Lebaran
BI Siapkan Rp 3,6 Triliun untuk Kebutuhan Puasa dan Lebaran BI Siapkan Rp 3,6 Triliun untuk Kebutuhan Puasa dan Lebaran
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Ocky Ganesia (Suara NTB/bul)
Mataram (Suara NTB) – Kebutuhan uang masyarakat selama ramadhan dan Idul Fitri tahun 2018 diperkirakan meningkat 19% mencapai Rp2,41 triliun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut,... BI Siapkan Rp 3,6 Triliun untuk Kebutuhan Puasa dan Lebaran

Mataram (Suara NTB) – Kebutuhan uang masyarakat selama ramadhan dan Idul Fitri tahun 2018 diperkirakan meningkat 19% mencapai Rp2,41 triliun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB menyiapkan dana kas sebesar Rp3,6 triliun.

Di samping itu, Bank Indonesia bersama perbankan daerah akan meningkatkan layanan penukaran uang bagi masyarakat pada saat ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini dikemukakan oleh Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Ocky Ganesia.

Bank Indonesia, bersama perbankan telah memetakan potensi-potensi titik keramaian. Salah satunya di Islamic Center, disediakan kas penukaran bagi masyarakat yang menukarkan uang lusuh menjadi uang baru, atau uang pecahan kecil menjadi pecahan besar, atau sebaliknya.

“Triwulan I 2018 (Januari-Maret), terjadi peningkatan kebutuhan uang masyarakat NTB. Kenaikan kebutuhannya mencapai 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017 lalu,” kata Ocky.

Pada triwulan I 2017 lalu, permintaan uang kartal di NTB mencapai Rp 1,299 triliun, naik menjadi Rp 1,417 triliun pada triwulan I 2018. Sementara inflownya (uang masuk) ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB juga mengalami peningkatan. Periode Januari hingga  Maret 2018, jumlah inflow tercatat Rp 2,617 triliun, atau meningkat Rp 53,846 miliar ( 2,10 %) dibanding periode yang sama tahun 2017 lalu.

Sebagai gambaran, dalam tiga tahun terakhir, kondisi outflow dan inflow di Bank Indonesia NTB menunjukkan. Tahun 2015, outflow mencapai Rp 6,728 triliun, sementara inflownya 6,285 triliun. Lalu di 2016, outflow Rp 8,149 triliun, dan inflow Rp 8,849 triliun. Dan tahun 2017, outflow Rp 8,792 triliun dan inflow Rp 8,394 triliun.

“Kenaikan outflow dari tahun 2015 menggambarkan terjadinya peningkatan kebutuhan masyarakat akan uang kartal dan peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah NTB,” demikian Ocky.

Sebagai informasi dalam rangka meningkatkan kualitas uang beredar di masyarakat, telah dilakukan survei tingkat kelayakan uang beredar di masyarakat di 2 kota yang ada di NTB yaitu di Kota Mataram dan Bima pada Bulan April 2018.  Dengan pelaksana survei adalah lembaga independen yang langsung terjun ke masyarakat, untuk hasil survei belum bisa diperoleh namun berdasarkan pemantauan yang dilakukan dapat diperkirakan kualitas uang yang beredar di masyarakat diatas standar yang telah ditetapkan.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang layak edar di daerah terpencil, Bank Indonesia  telah melaksanakan kegiatan Kas Kapal ke 4 pulau terluar, terpencil, dan terdepan yaitu di Pulau Moyo, Bajo Pulau, Deso Pusu, dan Pulau Medang yang ada di daerah Pulau Sumbawa pada Bulan April 2018

Sedangkan untuk daerah – daerah lainnya, Bank Indonesia melaksanakan kegiatan kas keliling untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang layak edar dan menarik uang tidak layak edar yang beredar di masyarakat.

Sejurus dengan disiapkannya Rp 3,6 triliun uang jelang puasa hingga lebaran tahun 2018 ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Achris Sarwani menjelaskan, Optimisme Konsumen Provinsi NTB menjelang Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2018 serta pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2018 di Provinsi NTB meningkat.

Hal ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia di Kota Mataram pada bulan April 2018 menunjukan bahwa Indek Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat 113,17, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 111.

“Secara umum konsumen yakin bahwa kondisi ekonomi saat ini maupun yang akan datang mengalami peningkatan, ditopong oleh ekspektasi meningkatnya pengeluaran konsumsi pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2018, serta Pilkada pada bulan Juni 2018,” pungkasnya. (bul)

BERITA TERKAIT :