Suara NTB » News » Headline » Sisi Lain Senggigi, Warga Hidup Miskin di Destinasi Wisata
Sisi Lain Senggigi, Warga Hidup Miskin di Destinasi Wisata Sisi Lain Senggigi, Warga Hidup Miskin di Destinasi Wisata
Suasana di gubuk reyot milik Herman yang ada di Senggigi, Lombok Barat. (Suara NTB/lin)
Giri Menang (Suara NTB) – Sejak pagi, Herman (23) sudah menyiapkan diri untuk pergi ke Pantai Senggigi. Bukan untuk berlibur, ia menjajakan jasa penyewaan... Sisi Lain Senggigi, Warga Hidup Miskin di Destinasi Wisata

Giri Menang (Suara NTB) – Sejak pagi, Herman (23) sudah menyiapkan diri untuk pergi ke Pantai Senggigi. Bukan untuk berlibur, ia menjajakan jasa penyewaan alat selancar kepada wisatawan yang datang. Tempat penyewaan selancar itu pun bukan miliknya, ia hanya karyawan tidak tetap yang diupah sesuai hasil kerjanya.

Rumah berukuran 3×3 meter itu merupakan tempat tinggal Herman selama tiga tahun ini. Rumah reyot yang ditutup seadanya itu ditopang dengan beberapa kayu di belakang rumahnya agar tidak roboh. Lantainya pun sangat kotor dan di dalamnya tidak ditemukan adanya perkakas yang berharga. Ia tinggal bersama bibiknya yang sudah menjanda dan memiliki satu orang anak.

Ibunya sudah lama meninggal ketika ia berusia sembilan bulan. Bahkan ia tidak mengingat lagi wajah ibu yang melahirkannya itu. Tiada foto apalagi kenangan yang diingat bersama ibunya. Sedangkan ayahnya tidak tahu di mana. Ia sudah lama tinggal di Senggigi, karena ibunya merupakan warga Senggigi, Lombok Barat.

Penghasilannya yang tidak menentu membuat Herman terpaksa harus tinggal di gubuk reyot. Sebab ia tidak memiliki cukup uang untuk memperbaiki rumah yang saat hujan akan bocor itu. Selain itu, tanah yang digunakan untuk mendirikan gubuk sederhana itu juga bukan miliknya.

Baca juga:  Angka Kemiskinan NTB Turun Menjadi 14,75 Persen

“Ini tanah orang dari Ampenan. Dipercaya untuk jaga saja, mungkin karena kasihan juga sama saya,” ujarnya saat ditemui Suara NTB, di Senggigi, Sabtu, 31 Maret 2018.

Dalam sebulan penghasilannya paling banyak Rp 600 ribu dari penyewaan alat selancar. Kadang itu juga kurang, jika tidak banyak wisatawan yang menggunakan jasanya. Ia kadang berutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Apalagi ia juga harus menanggung biaya hidup bibik dan keponakannya.

“Bibik sering sakit, jadi tidak kuat bekerja. Kasihan juga, dia sudah diceraikan suaminya semenjak anaknya dalam kandungan dan sekarang sudah berusia empat tahun,” ujarnya.

Selama ini, ia berusaha untuk mencari pekerjaan yang lebih layak, namun belum ada yang menerimanya. Ia sadar, mungkin karena kemampuannya yang belum memadai. Ia berharap Pemda dapat membantunya, paling tidak untuk memperbaiki rumahnya yang selalu bocor apabila turun hujan.

“Sebelumnya ngekos bayar Rp 400 ribu. Daripada ngekos terus tidak ada untuk makan, lebih baik tinggal di sini. Kalau hujan ya rumahnya bocor, tapi saya bersyukur hujannya tidak setiap hari,” ujarnya.

Baca juga:  BPS : Jangan Terlena dengan Penurunan Angka Kemiskinan

Ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih layak. Sehingga ia bisa memperbaiki rumahnya dan bisa menabung untuk masa depannya. Sebab selama ini ia tidak bisa menabung, karena untuk biaya hidup sehari-hari saja ia susah.

Senggigi yang merupakan destinasi wisata unggulan Kabupaten Lombok Barat nyatanya belum mampu memberikan banyak manfaat bagi masyarakat sekitar. Sebelumnya Pemda Lombok Barat menyatakan diri untuk menjadikan beberapa destinasi wisatanya semakin dikenal dunia. Namun tentu saja harus diimbangi dengan kualitas SDM dan komitmen Pemda dalam meningkatkan pendapatan warga sekitar.

Sebelumnya Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat L. Ispan Junaidi mengatakan bahwa Senggigi sudah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan tidak hanya di Lobar namun juga NTB. Hanya saja, menjadikannya sebagai destinasi unggulan pada kenyataannya tidak membuat warga yang tinggal di sekitar destinasi wisata ini menjadi sejahtera. (lin)

BERITA TERKAIT :