Suara NTB » News » Headline » Konferensi Internasional Ulama Al-Azhar Hasilkan Deklarasi Lombok
Konferensi Internasional Ulama Al-Azhar Hasilkan Deklarasi Lombok Konferensi Internasional Ulama Al-Azhar Hasilkan Deklarasi Lombok
Penutupan Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional Alumni Al-Azhar Mesir oleh Presiden Joko Widodo, Kamis, 19 Oktober 2017. (suarantb.com/ist)
Mataram (suarantb.com) – Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional Alumni Al-Azhar Mesir di Indonesia telah usai diselenggarakan bertempat di Islamic Center NTB Kamis, 19 Oktober... Konferensi Internasional Ulama Al-Azhar Hasilkan Deklarasi Lombok

Mataram (suarantb.com) – Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional Alumni Al-Azhar Mesir di Indonesia telah usai diselenggarakan bertempat di Islamic Center NTB Kamis, 19 Oktober 2017. Setidaknya 45 kertas kerja dipaparkan selama diskusi yang diikuti ratusan ulama alumni Al Azhar tersebut, termasuk juga Imam Besar Azhar, Prof. Dr. Ahmed El-Tayeb yang telah melakukan berbagai upaya dalam menyebarkan moderasi Islam (wasatiyah).

Berdasarkan rilis yang diterima suarantb.com, konferensi ini berhasil melahirkan deklarasi yang disebut Deklarasi Lombok. Berikut beberapa rekomendasi yang diutarakan dalam deklarasi tersebut.

Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi selaku Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, menyatakan perlunya memperluas jaringan alumni Al-Azhar dengan membuka cabang di seluruh belahan dunia. Untuk secara bersama-sama dan bahu membahu memerangi paham radikal, antara lain pemikiran yang menghalalkan tindakan kriminal dengan mengatasnamakan agama.

“Perlunya menyusun rencana dan langkah konkret terkait wacana keagamaan kontemporer yang melandasi kerukunan hidup umat manusia, menjauhi ujaran kebencian dan tindak kekerasan, menghormati sesama manusia, memelihara kehormatan jiwa, mencintai tanah air dan bela negara, serta mengukuhkan sikap moderat dan toleran,” ujarnya.

TGB mengemukakan penting pula untuk dilakukan pelatihan para dai dalam menghadapi fenomena ekstremisme, radikalisme dan fanatisme beragama. Ditambah menyebarluaskan teologi Asyari atau akidah yang tidak membenarkan tindakan saling mengkafirkan sesama orang yang berkiblat ke Kabah.

“Sikap kehati-hatian juga perlu dalam menerima fatwa keagamaan yang ada di media sosial. Fatwa kegamaan harus merujuk kepada sumber-sumber yang otoritatif dengan memperhatikan kondisi dan kebiasaan masyarakat setempat,” tambahnya lagi. (ros)

BERITA TERKAIT :