Suara NTB » News » Kota Mataram » Dinas P3A Sebut Ada Puluhan Kasus Kekerasan di Mataram
Dinas P3A Sebut Ada Puluhan Kasus Kekerasan di Mataram Dinas P3A Sebut Ada Puluhan Kasus Kekerasan di Mataram
Kepala Dinas P3A Kota Mataram, Hj Dewi Mardiana Ariany (Suara NTB/dok)
Mataram (Suara NTB) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) mencatat hingga Juli 2017 terdapat 68 kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Pihaknya... Dinas P3A Sebut Ada Puluhan Kasus Kekerasan di Mataram

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) mencatat hingga Juli 2017 terdapat 68 kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Pihaknya telah melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada korban. Dengan harapan hal serupa tidak terjadi lagi.

Pada tahun 2015 jumlah kasus kekerasan yang diadukan pada Dinas P3A sebanyak 89 kasus. Sementara pada tahun 2016 sebanyak 96 kasus.

Meningkatnya jumlah kasus seiring dengan akan ditetapkannya Kota Mataram sebagai Kota Layak Anak ini dianggap hal yang kurang baik. Bukan karena kasus yang meningkat, namun itu menandakan kesadaran masyarakat untuk mengadu atau melapor semakin tinggi.

“Kasusnya terlihat seperti meningkat. Padahal pada kenyataannya kesadaran masayarakatlah yang meningkat. Kalau dulu masyarakat menganggap itu tabu, tapi kalau sekarang sudah tidak. Masyarakat sudah berani untuk melapor,” kata Kepala Dinas P3A Kota Mataram, Hj. Dewi Mardiana Ariany, di Mataram, Kamis, 19 Oktober 2017.

Baca juga:  Dirubung Semut, Bayi Laki-Laki Ditemukan Tergeletak di Teras Warga

Ia mengatakan bahwa korban masih didominasi oleh perempuan dan anak. Dimana kasus kekerasan rumah tangga masih banyak terjadi di Kota Mataram. Hal ini dianggap sebagai suatu permasalahan, sehingga pihaknya telah melatih para kader untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Sejauh ini, kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Ampenan. Meski tidak disebutkan jumlahnya, namun Dewi mengatakan dua kecamatan ini sebagai penyumbang kasus KDRT terbanyak di Kota Mataram. Sehingga pihaknya juga telah bekerjasama dengan puskesmas dan kader PKK untuk bersama-sama melakukan pendampingan.

“Kita sudah punya kader di masing-masing kecamatan. Kita juga punya pos aduan di masing-masing puskesmas. Masyarakat bisa memberikan laporannya di sana,” ujarnya.

Sementara itu, dari jumlah kasus kekerasan yang ada di Kota Mataram, 63 persen korbannya merupakan perempuan. Sedangkan sebanyak 25 persen korban merupakan anak-anak dan sisanya korban laki-laki. Hal ini dinilai masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang tidak diperbolehkannya melakukan kekerasan dalam bentuk apapun.

Baca juga:  Ketika Anak-anak Mengemis dalam Tekanan Keluarga

“Oleh sebab itu kita terus dorong dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan kekerasan. Karena semua persoalan itu pasti ada jalan keluarnya, kalau menggunakan kekerasan malah makin menambah masalah,” ujarnya.

Ia berharap ke depannya tidak ada lagi kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga. Ia juga berharap anak-anak dapat tumbuh pada lingkungan yang baik. Sehingga anak-anak dapat memaksimalkan potensinya sebagai generasi penerus bangsa. (lin)

BERITA TERKAIT :