Suara NTB » News » Headline » Presiden Jokowi Ingatkan Bahaya Dakwah Lewat Media Sosial yang Tidak Disaring
Presiden Jokowi Ingatkan Bahaya Dakwah Lewat Media Sosial yang Tidak Disaring Presiden Jokowi Ingatkan Bahaya Dakwah Lewat Media Sosial yang Tidak Disaring
Presiden Joko Widodo saat memberikan sambutan pada penutupan acara Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional IV Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, di Islamic Center NTB, Kamis, 19 Oktober 2017. (suarantb.com/ist)
Mataram (suarantb.com) – Hadir untuk menutup acara Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional IV Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, di Islamic Center NTB, Kamis, 19 Oktober... Presiden Jokowi Ingatkan Bahaya Dakwah Lewat Media Sosial yang Tidak Disaring

Mataram (suarantb.com) – Hadir untuk menutup acara Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional IV Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, di Islamic Center NTB, Kamis, 19 Oktober 2017, Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahayanya penggunaan sosial media sosial. Terutama terkait kian merebaknya dakwah melalui media sosial yang tanpa melalui proses screening.

“Sekarang dengan adanya media sosial, semua dimudahkan. Tapi ini harus hati-hati. Kalau ini tidak kita saring, tidak kita screening, bisa mempengaruhi nilai agama kita, santri kita, anak didik kita. Berdakwah sekarang di medsos semua sudah ada. Siapa yang screening? Bahwa yang disampaikan itu benar,  bukan tafsir pribadi,” ujarnya di hadapan ratusan ulama yang hadir.

Bahkan, Jokowi menyebut banyak fenomena, dimana satu orang dengan gampang mengkafirkan orang lain. Ini tentu saja bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan kondisi bangsa Indonesia yang pluralis, terdiri dari banyak agama. Sehingga menurutnya, tema dari konferensi internasional dan multaqa nasional IV alumni Al Azhar ini sangatlah tepat. Membahas tentang moderasi Islam dan toleransi.

“Kewajiban kita bersama sekarang agar dakwah-dakwah untuk generasi milenial itu supaya moderasi dan toleransi bisa dipahami secara benar oleh anak-anak muda kita,” sahutnya.

Penting menurut mantan Gubernur DKI ini terbangunnya toleransi yang kuat di tanah air. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, wilayah yang luas dan keragaman suku dan agama dikatakannya penting untuk bersama-sama membangun ukhuwah islamiah, ukhuwah wathaniah dan ukhawah wasatiah.

“Karena inilah yang dibutuhkan negara ini dalam rangka mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain. Semoga hasil konferensi bermanfaat untuk kita semua dalam rangka membangun toleransi dalam Islam,” tutupnya. (ros)

BERITA TERKAIT :