Suara NTB » News » Gaya Hidup » Kesehatan » Tiap Hari Menahan Perih, Aisyah Butuh Uluran Tangan
Tiap Hari Menahan Perih, Aisyah Butuh Uluran Tangan Tiap Hari Menahan Perih, Aisyah Butuh Uluran Tangan
Aisyah, terbaring lemas di tempat tidur dengan kulit di sekujur tubuh mengelupas. (suarantb.com/ist)
Mataram (suarantb.com) – Berbeda dengan anak seusianya yang asyik menikmati masa kanak-kanak dengan bermain dan belajar, Aisyah justru harus terbaring menahan sakit. Menahan perih... Tiap Hari Menahan Perih, Aisyah Butuh Uluran Tangan

Mataram (suarantb.com) – Berbeda dengan anak seusianya yang asyik menikmati masa kanak-kanak dengan bermain dan belajar, Aisyah justru harus terbaring menahan sakit. Menahan perih kulitnya di sekujur tubuhnya yang terkelupas seperti terbakar.

Derita gadis berusia 10 tahun ini bermula pada Februari lalu, saat hasil diagnosa dokter menunjukkan ia menderita penyakit Limfadenopati Multiple. Tim dari Babuju Care Center (BCC), Rangga Babuju yang mendampingi pengobatan Aisyah menjelaskan limfadenopati adalah penyakit yang menyebabkan pembengkakan kelenjar limfa pada leher, ketiak dan persendian lainnya.

“Tidak hanya pembengkakan, tetapi juga tumbuh sisik di beberapa bagian persendiannya. 90 persen kulit tubuhnya terkelupas seperti habis terbakar. Setiap hari Aisyah demam, jika sudah demam, pasti ada bagian kulit yang terkelupas,” jelas Rangga, Rabu, 11 Oktober 2017.

Menurut Rangga, awalnya Aisyah menderita demam tinggi pada bulan November 2016 lalu. Beberapa minggu kemudian badan Aisyah mulai terkelupas dan muncul sisik. Melihat kondisi sang anak, Yanto dan Yusmul Yati membawa Aisyah berobat ke RSUD Bima, kemudian dirujuk ke RS Sanglah pada Mei 2017.

“Aisyah ditangani di RS Sanglah selama 3 kali dalam waktu 44 hari mereka di Bali. Namun karena sudah tidak ada biaya hidup, mereka memilih pulang kembali ke Bima. Seminggu sebelum pulang, bahkan orang tuanya harus puasa setiap hari untuk mengurangi biaya hidup,” jelas Rangga.

Dalam dua bulan terakhir, kondisi Aisyah kian parah. Upaya dan usaha orang tuanya untuk mengobati anak perempuan pertama dari dua bersaudara ini pun harus kandas karena kendala biaya. Meskipun pengobatan sudah dibantu dengan BPJS, namun beberapa obat diluar tanggungan BPJS harus mereka beli.

Kondisi keuangan keluarga yang bertempat tinggal di RT 02/RW 01 Desa Tambe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima tidak memungkinkan untuk membiayai pengobatan Aisyah hingga sembuh. Sang ayah, Yanto hanyalah honorer di Sat Pol PP Kecamatan Donggo Kabupaten Bima dengan gaji tak seberapa. Sementara Yusmul, tak bisa membantu suaminya mencari nafkah karena harus merawat Aisyah tiap harinya.

“Menurut dokter kulit dan dokter spesialis penyakit dalam yang kita hubungi menyatakan penanganan pasien Limfadenopati Multiple butuh waktu penanganan dan perawatan medis sedikitnya lebih kurang 5 bulan untuk bisa sembuh dengan melakukan operasi sum-sum. Dan atau butuh waktu 2 tahun untuk menormalkan kembali kulitnya,” imbuh Rangga.

Biaya operasi dan perawatan yang dibutuhkan untuk kesembuhan Aisyah diperkirakan mencapai Rp 35 juta, untuk biaya hidup selama penanganan di RS Wangaya Denpasar dan biaya obat diluar klaim BPJS. Rangga menambahkan, Aisyah akan segera diberangkatkan ke Bali untuk menjalani pengobatan di sana.

“Kita membuka Dompet Peduli Kemanusiaan Untuk Aisyah melalui rekening BNI: 0216087863 atas nama Julhaidin. (Konfirmasi Donasi via SMS atau WA 085299886619). Kira-kira sampai siang ini dana yang sudah terkumpul Rp 6 juta. Semoga banyak dari kita yang tergugah membantu meringankan beban kemanusiaan orang tua Aisyah,” harap Rangga.

Bagi masyarakat NTB yang tergerak meringankan beban Aisyah, bisa segera mengirimkan bantuan dana melalui rekening tertera di atas. Semoga Aisyah bisa segera sembuh dan kembali menikmati masa kanak-kanak dengan gembira. (ros)

BERITA TERKAIT :