Suara NTB » News » NTB » Pengamat : RLS Rendah Penyebab IPM NTB Tetap Peringkat 30 Nasional
Pengamat : RLS Rendah Penyebab IPM NTB Tetap Peringkat 30 Nasional Pengamat : RLS Rendah Penyebab IPM NTB Tetap Peringkat 30 Nasional
Pengamat Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram Syafril, M.Pd (suarantb.com/hvy)
Mataram (suarantb.com) – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB 2016 tercatat 65,91. Dengan jumlah poin tersebut, IPM NTB masuk dalam IPM berkategori sedang dan masih... Pengamat : RLS Rendah Penyebab IPM NTB Tetap Peringkat 30 Nasional

Mataram (suarantb.com) – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB 2016 tercatat 65,91. Dengan jumlah poin tersebut, IPM NTB masuk dalam IPM berkategori sedang dan masih menempati urutan yang sama dengan tahun 2015, yaitu posisi 30 nasional.

Pengamat Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram, Syafril, M.Pd mengatakan aspek pendidikan menjadi salah satu faktor yang menentukan peningkatan IPM. Di samping dua dimensi lain yaitu usia harapan hidup dan  standar hidup layak.

“Daya saing itu salah satunya diukur melalui IPM. Di antara tiga  kategori pendukung IPM, pendidikan menjadi salah satu hal yang ditekankan,” ujarnya Jum’at, 21 April 2017.

Dalam aspek pengetahuan atau pendidikan tersebut menurut Syafril, turut dipengaruhi oleh indeks Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di NTB tercatat hanya 6,9 tahun atau setara dengan kelas VII SLTP.

Ia menilai hal itu menjadi permasalahan yang menjadi salah satu sebab IPM NTB masih menempati posisi 30 dari 34 provinsi di Indonesia. “Rendahnya rata-rata lama sekolah ini menjadi permasalahan. Apalagi ini terpaut jauh dari standar RLS nasional  dan UNDP yaitu 15 tahun. Sehingga IPM NTB masih di posisi 30,” katanya.

RLS yang rendah ini menurutnya dipicu oleh banyaknya penduduk NTB usia 45-60 tahun yang tidak mengenyam pendidikan. Meskipun bersekolah, banyak dari mereka yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar saja.

“Kalau dilihat rata-rata lama sekolahnhya, maka yang jadi masalah ada di usia 45 sampai 60 tahun. Mereka ini banyak yang ndak sekolah, kalaupun sekolah hanya lulusan SD saja, sehingga RLS menjadi rendah,” ungkapnya.

Meskipun RLS di NTB rendah, Syafril menerangkan bahwa tren Indeks Partisipasi Siswa di NTB terus mengalami peningkatan. Artinya, jumlah siswa yang melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya terhitung semakin banyak.

Hal tersebut menurutnya menjadi salah satu cara agar kedepannya, RLS di NTB bisa meningkat seiring  meningkatnya partisipasi pelajar untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Jadi indeks partisipasi ini harus ditingkatkan lalu kemudian harus dipertahakan agar jangan ada yang berhenti karena drop out (DO) dan sebagainya,” imbuhnya.

Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram ini menilai  persoalan aksesibilitas pendidikan menjadi hal yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah. Terutama masyarakat yang tinggal di pedalaman hutan, kepulauan, dan wilayah pesisir yang umumnya terkendala akses pendidikan.

“Dalam situasi seperti itu pemerintah diharapkan turun tangan untuk mengatasi permasalahan aksesisbilitas itu, seperti akses infrastruktur jalan, SDM, dan akses-akses lainnya,” ujar Syafril.

Menurutnya, aspek pendidikan akan menjadi hal yang mendapat perhatian besar suatu negara terutama negara-negara maju. Hal tersebut tidak lain karena tingkat pendidikan yang tinggi secara tidak langsung berdampak pada kesadaran akan kesehatan dan produktivitas yang juga relatif mengikuti.

“Kalau tingkat pendidikannya relatif tinggi maka tingkat kesehatanya dan produktivitas juga mengikuti,” ujarnya. Sehingga aspek pendidikan menjadi hal yang diperhitungkan dalam peningkatan IPM di suatu daerah. (hvy)

BERITA TERKAIT :