Suara NTB » News » Budaya & Hiburan » Pegiat Akarpohon, Bayu Pratama Lolos Seleksi MIWF
Pegiat Akarpohon, Bayu Pratama Lolos Seleksi MIWF Pegiat Akarpohon, Bayu Pratama Lolos Seleksi MIWF
Bayu Pratama (Suara NTB/met)
Mataram (Suara NTB) – Penulis muda yang bergiat di Komunitas Akarpohon, Bayu Pratama berhasil lolos seleksi peserta Makassar International Writer Festival (MIWF). Lulusan Universitas... Pegiat Akarpohon, Bayu Pratama Lolos Seleksi MIWF

Mataram (Suara NTB) – Penulis muda yang bergiat di Komunitas Akarpohon, Bayu Pratama berhasil lolos seleksi peserta Makassar International Writer Festival (MIWF).

Lulusan Universitas Mataram, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni ini, berkesempatan membangun jaringan dengan penulis internasional. Penulis-penulis asal Australia, Malaysia dan sejumlah negara lainnya akan bertemu dalam MIWF yang akan digelar di Fort Rotterdam, Makassar tersebut.

Kepada Suara NTB, Bayu menuturkan proses yang ia lalui hingga terpilih untuk mewakili NTB di ajang tersebut.

“Tahap seleksinya, penulis diminta mengirim karyanya masing-masing. Saya mengirim cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media. Termasuk cerpen saya yang pernah dimuat Suara NTB,” jelasnya, Kamis, 20 April 2017.

Bayu akan berangkat untuk bertemu penulis lintas negara, tanggal 17-20 Mei mendatang. Festival kali ini, mendatangkan penyair Sapardi Joko Damono sebagai bintang tamu. Festival yang melibatkan dua penulis asal NTB ini, menunjukkan kesusastraan di NTB mulai berkembang.

Festival ini untuk meluaskan jaringan dan kerjasama penulis lokal dan nasional, bahkan internasional. Sekaligus, ini bisa jadi bukti kalau sastra di NTB berkembang karena dua tahun berturut-turut anggota Akarpohon lolos MIWF. “Artinya, Lombok atau NTB secara umum mulai dilirik,” tegasnya.

Beberapa cerpen yang dikirim oleh Bayu, sebagai syarat mengikuti festival berjudul: “Benjor”, “Pistol dan Sebutir Peluru”.

Tahun lalu, sastrawan perempuan, Irma Agriyanti lolos dalam agenda serupa. Ia menjadi peserta yang mewakili daerah NTB. Irma lolos berkat tulisan-tulisan sastra berbentuk puisi hasil karyanya.

Festival ini, tidak menjadi ajang pembagian penghargaan bagi penulis. Kegiatan ini hanya menjadi sarana peningkatan wawasan, pengalaman dan jaringan bagi para penulis.

“Tidak ada pemberian penghargaan saat festival. Ini hanya acara yang membuka kesempatan bagi para penulis dalam membangun dan memperkuat jaringannya,” tandas penulis sastra kelahiran Lombok Timur, 2 Mei 1994 ini. (met)

BERITA TERKAIT :