Suara NTB » News » Headline » VIDEO – Wawancara Eksklusif, Kapolda NTB, Brigjen Pol Umar Septono Tentang Penanganan Konflik
Brigjen Pol. Drs. Umar Septono
Mataram (Suara NTB) – Brigjen Pol. Drs. Umar Septono, satu tahun dan enam bulan menjabat sebagai Kapolda NTB. Dikenal sebagai pribadi kharismatik bahkan ‘anti’... VIDEO – Wawancara Eksklusif, Kapolda NTB, Brigjen Pol Umar Septono Tentang Penanganan Konflik

Mataram (Suara NTB) – Brigjen Pol. Drs. Umar Septono, satu tahun dan enam bulan menjabat sebagai Kapolda NTB. Dikenal sebagai pribadi kharismatik bahkan ‘anti’ dengan pendekatan represif. Dalam penanganan konflik, dia lebih yakin dengan pendekatan hati.  Komitmen yang paling diingat publik, ketika dia memposisikan rakyat sebagai ‘’Tuhan’’.

Konflik SARA di Kelurahan Taliwang Cakranegara 2012 lalu termasuk paling ‘awet’. Ditangani berbagai pendekatan, preemtif, represif,  konflik komunal itu tak kunjung reda, meski ditangani dua Kapolda sebelumnya. Korban tewas dari salah satu pihak, memicu kerusuhan susulan.

Suatu kesempatan, pada malam hari, kedua pihak dipertemukan lagi. Pejabat Pronvinsi NTB,  Pemkot Mataram, termasuk kepolisian hadir memediasi untuk kesekian kalinya. Situasi masih mencekam.

Di tengah berbagai cara dengan pendekatan sosial, kultur, religius dari sejumlah pejabat, tokoh agama, tokoh masyarakat itu, Bripka Yasin awalnya hanya siaga dengan kamera DSLR ketika giliran Kapolda NTB Brigjen Pol. Umar Septono berbicara. Yasin, fotografer Humas Polda NTB tak melihat keraguan di wajah Kapolda. ‘’Jika dengan saya bersujud dan mencium kaki bapak – bapak sehingga akan berdamai, saya akan lakukan,’’ tegas Kapolda, sebagaimana ditirukan Yasin yang posisinya tak pernah jauh dari jendral bintang satu itu. Semua tertegun.

Dua kampung bertikai itu akhirnya berdamai, diyakini pendekatan terus menerus Kapolda NTB yang turun tangan langsung, menjadi faktor lain.

Disinggung lagi soal memory itu, Umar Septono dalam wawancara khusus dengan Suara NTB, Jumat (10/2) lalu menyamarkan bagian dari kebaikan yang pernah dilakukan itu. Baginya, itu adakah keberhasilan semua pihak mendamaikan.

Tapi satu hal jadi catatannya, pendekatan penanganan konflik di NTB rupanya tidak semudah di daerah lain. ‘’Kan berbagai cara sudah dicoba. Dengan persuasif, penegakan hukum. Kerahkan Brimob, bahkan teman teman TNI kita libatkan, toh tidak damai juga,’’ kenang Kapolda.

Baca juga:  Di Balik Data Penurunan Kemiskinan KSB yang Sangat Drastis

Catatan itu juga dilihatnya dalam penanganan konflik di Bima, termasuk beberapa bulan terakhir. ‘’Tapi setelah pelajari ini, perlu pendekatan khusus yang tidak ada dalam teori. Ada sisi lain yang bisa kita sentuh,’’ jelas Kapolda.

Mulai dari pendekatan agama, pendekatan budaya, ekonomi, kemudian berlanjut ke empati. ‘’Khususnya pendekatan hati, saya coba coba di sini,’’ ujarnya.

Karena rupanya berdasarkan pemetaan, ada akumulasi ketidakpuasan serta faktor kemiskinan jadi pemicu konflik di NTB.

Konflik komunal, konflik SARA, menurutnya tidak cukup mengedepankan fungsi aparat dan pemerintah. Ada peran lain yang tanpa disadari para tokoh masyarakat dan pemerintah ikut menyulut konflik berkepanjangan. Kapolda menyarankan, selain mencari akar persoalan, tidak boleh ada justifikasi. ‘’Jangan pernah katakan, misalnya dari tokoh tokoh itu bilang ‘o… ini konflik sudah lama’. Tidak boleh, itu namanya justifikasi,” ujarnya mengingatkan.

Tapi semua penekanan pendekatan tadi adalah bagian dari usaha, kerja keras didorong keikhlasan dan keinginan daerah ini.  ‘’Semuanya kehendak Tuhan, kita hanya berusaha maksimal,’’ kata Kapolda yang dikenal religius ini.

Dari segi geografis, NTB dengan gugus Pulau Lombok dan Sumbawa, dalam pandangan Kapolda paling berkesan adalah keindahan alamnya. Sebuah potensi wisata yang menjadi harta bagi masyarakat dan pemerintah. Tapi di balik itu, disinggungnya soal bencana tanah longsor dan banjir akhir akhir ini akibat pengundulan hutan. Belum lagi soal masih ada intoleransi, sehingga muncullah kelompok Igaras (Islam garis keras), kemudian menjadi embrio terorisme.

‘’Terbukti yang di Poso hampir 90 persen dari Bima NTB, itu petanya. Ini yang kita lakukan pendekatan terus menerus, bersama Pemda. Sebenarnya salah satuya karena kemiskinan,’’ jelas dia.

Memimpin ribuan personel tingkat prajurit, pejabat menengah dan utama, satu penekanan sikap yang ditanamkan Kapolda kepada jajarannya. “Jangan sampai menyakiti rakyat,” tegasnya. Itulah kemudian jadi alasan dirinya menginstruksikan langsung agar prajurit sampai level pejabat menjadi pelayan masyarakat.

Baca juga:  Cukai Rokok Dikhawatirkan Picu Kenaikan Angka Kemiskinan

Maka tidak heran, dia menteladani anggotanya dengan tak segan segan ‘merendah’ diri di hadapan pengemis sekalipun atau rakyat biasa. Sebab baginya, mereka adalah Tuhan. “Saya itu paling takut menyakiti rakyat. Sebab doa mereka diijabah Tuhan kalau disakiti. Makanya saya tidak segan segan cium tangan mereka. Bagi saya mereka itu lebih mulia, tinggi derajatnya,” ungkap Kapolda. Aksinya yang anomali ini memang sering menjadi viral di sosial media. Bagaimana ketika dia mencium seorang nenek pedagang keliling, orang cacat yang tiba tiba melintas dijecat dan dicium tangannya.

Dia bersyukur sikap rendah hati itu sudah terimplementasi di jajarannya. “Tidak heran, kalau lihat ada polisi polisi baru kalau ketemu rakyat biasa, dia cium tangan. Mereka sudah sopan-sopan,” ujarnya bangga.

Dengan keyakinan bahwa dirinya adalah pelayan, benar-benar diimplementasikan dalam tugas dan kehidupan sehari-hari, disebutnya sebagai pengejawantahan hablum minallah dan hablum minannas atau hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarsesama manusia.

Kapolda yang segera menempati posisi barunya sebagai Kakor Sabhara Kabaharkam Polri ini tak lupa menyinggung  peran media. Dalam pola pikirnya, kritik, apapun konteksnya soal kinerja jajarannya bersumber dari media, menjadi bagian dari pengingat agar mawas diri.

“Dalam mindset saya, sekarang kritik dari media harus membuat mawas diri. Sebab syukur diingatkan. Kalau tidak kita tidak tahu kita lagi rusak, lagi lambat penanganan (perkara),’’ pungkasnya. (ars)

BERITA TERKAIT :