Suara NTB » News » Yustisi » VIDEO – Wawancara Eksklusif, Kapolda NTB, Brigjen Pol Umar Septono Bicara Kemiskinan
Brigjen Pol Umar Septono
Pengentasan kemiskinan sudah menjadi program utama setiap pemerintahan daerah. Melihat masyarakat miskin bukan hanya sekadar dalam angka-angka statistik. Namun, lebih kepada memberi perhatian langsung... VIDEO – Wawancara Eksklusif, Kapolda NTB, Brigjen Pol Umar Septono Bicara Kemiskinan

Pengentasan kemiskinan sudah menjadi program utama setiap pemerintahan daerah. Melihat masyarakat miskin bukan hanya sekadar dalam angka-angka statistik. Namun, lebih kepada memberi perhatian langsung hingga menyentuh nuraninya.

Brigjen Pol Umar Septono yakin NTB punya segala daya untuk membangun masyarakatnya. Potensi maritim, agraria dan pariwisata lebih dari cukup untuk membuktikan seberapa makmur tanah bumi gora ini.

Suara NTB berkesempatan berbincang secara khusus dengan jenderal bintang satu lulusan Akpol 1985 itu di penghujung masa jabatannya sebagai Kapolda NTB. Di ruang kerjanya, Jumat 12 Februari 2017 lalu, Umar menyampaikan pesan dan kesannya memimpin korps Bhayangkara NTB selama 1 tahun 7 bulan ini.

Dalam hal kemiskinan, ia percaya bahwa hal itu sanggup dientaskan. Tetapi, seandainya saja setiap pemangku kebijakan memiliki kerendahan hati, kepedulian tinggi, dan hasrat yang kuat mengobarkan semangat ‘’memerdekaan’’ rakyat dari kemiskinan.

Pejabat mulai tingkat satu tingkat dua sampai tingkat camat, lurah termasuk polisi dan TNI bersinergi. “Memetakan dulu. Ini yang lebih sedikit rezekinya daripada yang sejahtera, yang di bawah garis ini kurang tertangani optimal. Semuanya harus komitmen,” tegas Umar memulai perbincangan.

Ia pun memberdayakan Bhabinkamtibmas yang tersebar lengkap di 1.139 desa/kelurahan di seantero NTB. Warga miskin dan sangat miskin pendataannya disinkronkan dengan data di setiap desa.

‘’Mana potensi kantong kemiskinan, petakan. Bhabin yang setiap hari di masyarakat bersama Babinsa dan Kades. Setelah dipetakan sambil mensyukuri nikmat Tuhan gaji polisi sudah besar, sementara rakyat kita banyak yang susah,” jelasnya.

‘’Makanya judulnya Gerakan Seribu Rupiah tapi praktiknya ada yang Rp 1000 ada yang Rp 10.000, Rp 100.000. Dari situ kita mendekati rakyat berempati. Kita memberikan bukan melecehkan,’’ imbuhnya.

Baca juga:  Kemiskinan Belum Tuntas, Dewan Nilai Akibat Naiknya Harga Kebutuhan Pokok

Secara praktik menyentuh warga-warga miskin, jajaran Polda NTB yang dipimpinnya menggiatkan ‘Gerakan Seribu Rupiah’ dan masih berlangsung hingga kini. Kalkulasi kasarnya, dalam setahun Polda NTB dapat mengumpulkan Rp 3,5 miliar jika satu anggota menyumbang Rp 1000 satu hari.

Gerakan serupa diharapkan dapat ditiru di sejumlah belahan institusi lain. “Dianggap sepele kan? Tapi banyak itu. Itu baru polisi doang, belum kalau Pemda tingkat satu, tingkat dua, termasuk perusahaan ikut juga,’’ ajak Umar.

‘’Tapi karena perbuatan itu tidak terkenal, tidak populer dan mungkin tidak menghasilkan, nah itu makanya jawabnya cuma bilang bagus aja, tidak diikuti,’’ katanya.

“Orang-orang miskin itu bukan miskin. Tapi yang sedang diuji lebih berat kekurangan harta. Harta yang sejatinya yang sebenarnya adalah yang diinfaq-kan di jalan Tuhan. Bukan ditumpuk untuk beli mobil-mobil mewah itu,’’ tegasnya.

Lewat gerakan itu pula ia menanamkan reformasi kepolisian. Mental arogan, sok penguasa, dan diubah dengan melatih empati kepada orang lain. Maka, outputnya kelak tak ada lagi polisi yang beringas sok jagoan.

“Anggota kita dia iuran semangat, belanja semangat, jalan juga semangat. Sering ngasih jadi kayak saudara mereka. Maka tidak segan mencium tangan orang, tidak seberingas zaman dulu, sopan-sopan sekarang,’’ jelasnya.

“Mindset yang saya tanamkan itu, kita polisi digaji rakyat, kita pelayan rakyat, maka tidak boleh menyakiti rakyat. Itu konsepnya,” imbuh Umar yang bakal menjabat Kepala Korps Sabhara Badan Pemelihara Keamanan Mabes Polri itu.

Pengentasan kemiskinan adalah benang merah dari berbagai gangguan keamanan di NTB. Terorisme, perampokan, begal terhadap wisatawan sebagai luapan kejenuhan masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Baca juga:  Mataram Cemas Menunggu Adipura

Maka tak heran, sebagian diantaranya menggunakan jalan pintas dengan mengambil yang bukan haknya, seperti mencuri, merampok, atau bergabung dengan gerakan radikal yang memberi iming-iming jaminan ekonomi.

Merubah Mental Arogan Aparat Kepolisian

Hampir setiap sudut gedung dan ruangan di Mapolda NTB penuh kata motivasi. Seperti ‘’Satu Keteladanan Lebih Bermakna dari Sejuta Kata’ juga “Bekerja Mengharap Ridho Allah Bukan Pujian Manusia.’

Atas konsep itu pula ia mengabdi kepada rakyat NTB dalam berbagai penuntasan persoalan. Sebab, ia meyakini akar dari segala persoalan adalah ketidakmampuan pengampu kebijakan menuntaskan tuntutan mendasar masyarakat, yakni kesejahteraan.

Mewujudkan kesejahteraan maupun keadilan bagi setiap rakyat tak mudah. Untuk itu diperlukan kedisiplinan dan keikhlasan bagi setiap pemimpin atau siapapun yang menyodorkan diri mengatasnamakan rakyat.

“Makanya saya contohkan dari mulai ibadah salat awal waktu. Rapat saya tinggalkan,’’ kata Kapolda. ‘’Kalau di sini disiplin yang lain disiplin.Kerja disiplin.Sopan sama orang.Tukang sampah aja saya cium tangannya.Sama pimpinan gak takut saya, sama bawahan sama masyarakat yang susah saya takut.Karena Allah melihat saya,” tandasnya.

Umar yakin dengan cara-cara seperti itu memudahkan kepolisian untuk mendekati masyarakat. Sehingga menuntaskan persoalan keamanan dapat tuntas lewat jalan persuasif, meminimalisir  cara-cara kekerasan dalam penindakan hukum. (why)

BACA BERITA LAINNYA :