suarantb
 
RedaksiIklanArsipHalaman UtamaHari Ini
Penangkapan Terduga Teroris
Sempat Diwarnai Perlawanan, Istri Ngadu ke TPM
 

updated: Senin 16/04/2012

TERDUGA TERORIS : Dua terduga teroris masing-masing YA dan Ustad Y kini diamankan Densus 88 guna penyidikan lebih lanjut. (Suara NTB/use)

 

 

 



Kota Bima (Suara NTB)
Penangkapan drg YA bersama Ustad Y alias drg K terkait jaringan terorisme oleh Tim Densus 88 Mabes Polri yang sebelumnya simpang siur sedikit demi sedikit mulai terkuak. Sejumlah saksi menyebutkan jika dalam penangkapan tersebut sempat diwarnai perlawanan dari dg YA dan Ustad Y. Sementara drg Dwi Endah Sulistianingsih, istri drg YA mengaku kehilangan kontak sejak suaminya ditangkap. Oleh karenannya ia pun mengadu ke Tim Pembela Muslim (TPM).
 
H Najib, salah seorang saksi mata penangkapan terduga teroris itu yang ditemui, Sabtu (15/4) sore, mengaku, melihat langsung peristiwa penangkapan saat itu. Sebab penangkapan tersebut dilakukan oleh Tim Densus tepat berada di depan rumahnya.
 
Penangkapan yang terjadi sekitar pukul 15.30 Wita menjelang waktu salat Ashar. Saat itu drg YA bersama seseorang yang tak lain adalah Ustad Y alias drg K tengah menuju Masjid Al Muwahidin Bima berboncengan menggunakan sepeda motor Vario warna hitam. Namun belum sampai di masjid yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya keduanya pun disergap. Tiba-tiba dua unit mobil datang dari arah masjid dan satu lainnya dari arah rumah drg YA.
 
Dalam penangkapan tersebut sempat ada perlawanan dari drg YA. ‘’YA bertanya kenapa dirinya ditangkap. Sementara yang satu awalnya mengelak,’’ tutur H Najib. Namun orang-orang yang saat itu berpakaian preman tak banyak bicara dan langsung mengangkut keduanya ke atas mobil dan langsung memborgol tangannya. Berikut yang juga diamankan sepeda motor milik drg YA.
 
Diakui Najib, ia sendiri tak tahu alasan drg YA ditangkap. Namun berdasarkan informasi yang ia dapat dari teman-teman Kepolisian jika tetangganya tersebut ditangkap terlibat aliran keras. Ia sendiri merasa heran dan kasihan lantaran drg YA bisa terpengaruh. Padahal sepengetahuan Najib, drg YA sendiri tak begitu paham tentang agama. ‘’Dia tak begitu paham tentang hadis-hadis,’’ jelasnya.
 
Padahal, sepengetahuan Najib, drg YA dikenal baik dan ramah kepada orang-orang. Bahkan, sebelum ditangkap ia sempat menyapa drg YA saat turun salat Jumat. Saat itu, ia hendak keluar dan drg YA duduk di dekat pintu. Jika tengah sakit, ia sendiri kerap berobat di tempat praktek drg YA termasuk keluarganya. Tempat praktik drg YA memang sering didatangi pasien menengah ke atas.    
 
Sementara itu, menjelang sore istri drg YA, drg Dwi Endah Sulistianingsih bersedia bertemu dengan wartawan. Saat dikonfirmasi, wanita bercadar ini mengaku pascapenangkapan, kehilangan kontak dengan suaminya. Berdasarkan informasi yang ia baca melalui internet, suaminya (Sabtu, red) diperkirakan dibawa oleh Tim Densus ke Jakarta.
 
Pascapenanangkapan itu ia pun telah melapor ke TPM guna mengantisipasi keberadan suaminya di Jakarta. ‘’Saya sendiri yang menghubungi TPM tadi pagi (Sabtu, red), jaga-jaga kalau berada di Jakarta,’’ jelasnya.
 
Terkait penangkapan situ, Dwi mengaku tak tahu apa-apa. Masih dari informasi di internet, bahwa sepulang dari masjid suaminya langsung dibawa oleh beberapa orang. Diakuinya, terkait penangkapan ini ia merasa kaget karena tak tahu alasan penangkapan tersebut. Selama ini, akunya, suaminya tak ikut aliran apa-apa dan tak pernah ke mana-mana. Namun saat ditanyai keberadaan suaminya sekitar dua minggu lalu yang dikabarkan ke luar Bima? Dwi mengaku memang saat itu, suaminya ke Surabaya untuk berobat mata. Di sana ia berada sekitar 2-3 hari dan langsung pulang.

Diburu di Bali, Kabur ke Bima

Dua terduga teroris, drg. YA dan Ustad Y alias drg. K langsung diboyong ke Mabes Polri Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut. Sebelum penangkapan, Ustad Y alias K yang diuber – uber Densus 88, sempat mampir di Bali, namun kemudian kabur ke Bima setelah lolos dari eksekusi tim Densus 88.
 
Informasi yang sebelumnya diterima Suara NTB, kedua terduga teroris dibawa mobil Avanza dan dikawal tujuh petugas Densus 88 berpakaian preman itu, akan dibawa ke Mapolda NTB di Kota Mataram. Iringan kendaraan itu akan menempuh jalur darat sejauh sekitar 420 Km. Namun skenario berubah, informasinya rombongan berhenti di Kabupaten Sumbawa dan kedua tersangka dibawa dengan pesawat menuju Jakarta.

Hal itu dibenarkan Kabid Humas Polda NTB, AKBP Drs. Sukarman Husein, karena hingga Minggu (15/4) siang kemarin tidak ada rombongan pengangkut terduga teroris yang mampir ke Mapolda NTB. “Setelah saya cek kepastiannya, terduga teroris sudah dibawa ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut,” kata Sukarman siang  kemarin.

Kedua dokter yang diduga ada kaitan dengan jaringan teroris Cikampek itu, sempat kabur ke Poso bahkan melanjutkan pelariannya ke Bali. Saat tim Densus menembak mati sejumlah terduga teroris di Bali, Y kemudian kabur ke Bima dan tinggal di kediaman YA. Keduanya juga sempat dikait- kaitkan dengan aksi perampokan toko emas 7 April lalu di Bima.

Menurut Sukarman pihaknya belum memastikan keterkaitan YA dan Y dengan kejadian perampokan tersebut karena harus melalui penelusuran lebih jauh. Karena diprediksinya, kejadian perampokan itu adalah murni perbuatan kriminal, bukan kejahatan untuk membiayai kegiatan terorisme. Yang jelas ditegaskan Sukarman, kasus itu ditangani sepenuhnya Densus 88. “Kami (Polda, red) pun tidak mengetahui persis gerakan Densus 88 yang datang ke Bima,” terangnya.

Mengenai masih ada lima terduga teroris lainnya yang diburu tim Densus, juga enggan dikomentarinya karena lagi – lagi soal kewenangan penuh Mabes Polri.  (use/ars)

@Copyright Suara NTB